
Pada akhirnya Freya tak bisa membuka kebenarannya pada James. Mereka bahkan sarapan bersama di balkon kamar.
James yang beku sudah mencair, dia bersikap ramah pada Freya dan itu membuat Freya semakin awkward.
"Kenapa makanan sedikit?" James melontarkan pertanyaan di sela sela makannya.
Bukannya makan Freya sedikit, dia tidak nafsu makan sama sekali. Perutnya masih mual karena sisa sisa minuman yang dia minum semalam masih terasa efeknya, terlebih dia sedikit syok dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Kalau ada orang normal yang menangani hal tersebut, apakah dia bahkan masih bisa mengunyah?
Freya tersenyum, "Perutku sedikit tidak enak."Jawaban singkat Freya membuat James berdiri dari kursi duduk yang ada di seberangnya.
James masuk lagi ke kamar dan kembali dengan mangkuk berisi cairan berwarna coklat bening.
"Minumlah, ini akan meredakan pengarmu karena minuman alkohol semalam."
Freya menerima mangkuk itu dan segera meminumnya. Minuman itu sedikit pahit tapi juga manis dan asam. Anehnya itu menyegarkan.
"Perutmu akan baik baik saja, coba saja makan walaupun sedikit." James mengelus pundak Freya dengan lembut.
Karena tindakan James tersebut Freya malah cegukan.
"Hiik... hiik ... hiikk..." Suara cetakan Freya.
James kemudian mengambil gelas air minum dan menyerahkan pada Freya.
"Minum pelan-pelan."
'Benarkah dia si beruang kutub itu?' Freya minum sambil melihat ke arah James.
Semuanya terasa aneh bagi Freya tapi juga di satu sisi dia merasakan debaran di jantungnya.
'Apakah aku terlalu menjadi seorang pendeta? sampai sampai didekati laki-laki seperti ini saja berdebar.'
"Aku akan mengantarmu pulang."
Ah Freya hanya ingin kebersamaan mereka segera berakhir.
__ADS_1
Freya menarik nafas dalam dalam agar cegukannya berhenti.
Harapan dan doa Freya sepertinya tidak dikabulkan, sebab kebersamaan mereka malah rasanya sangat lama sekali dan waktu rasanya melambat.
Freya selalu gugup dan gelisah seperti tak sabar. Melihat wajah Freya yang seperti itu malah membuat James tersenyum. Wajah gusar Freya sangat lucu dan menggemaskan. Rasanya James jadi ingin mencium pipi Freya itu. Tapi kalau James tidak bisa mengontrol tindakannya Freya pasti akan semakin menghindarnya nanti. Jadi sebagai pemburu handal, James hanya harus melakukan usaha memasang jebakan agar buruknya masuk ke jebakannya dengan sendirinya. Kalau sudah begitu, James pasti tidak akan membiarkannya pergi apalagi disebut orang.
Mereka sudah naik kereta sekarang. Harusnya James diundang oleh Putra Mahkota Felix, tapi demi mengantar Freya pulang, James membatalkannya. Waktu bersama Freya lebih berharga menurut James.
James seakan terkena penyakit virus cinta yang entah bagaimana muncul dalam waktu satu malam. Depan rasa suka James mulai terlihat kepada Freya dan sepertinya Freya akan sulit menanggungnya.
"Kapan kamu akan kembali ke wilayah?"
James yang tak bicara tiba tiba saja menjadi banyak bertanya pada Freya. Sedangkan Freya yang banyak bicara tiba tiba saja menjadi diam seperti kutu.
"Yah mungkin 3 hari lagi kak." Jantung Freya seakan hendak copot. Dia sendiri bingung perasaan apa ini. Takut? bingung? atau apalah.
James mengangguk, dia sepertinya berpikir dengan keras kali ini.
Bahkan perjalanan dari istana menuju rumah Freya pun terasa sangatlah lama.
Dia menawarkan bantuan pada Freya.
Grab, tangan Freya meraih tangan James. "Terimaksih." Kata Freya canggung.
Freya kira setelah dia mengantarkan Freya, James akan pulang. Tapi tidak, James bahkan ikut masuk rumah.
'Kenapa dia ikut masuk rumah?' Batin Freya. Wajah Freya semakin cemas.
"James!" Killion meneriakkan nama temannya dengan lantang. Dia lalu datang dan menepuk punggung James.
"Terimaksih sudah menjaga adikku." Katanya lagi.
'Apa?' Wajah Freya kaget, dilalui menoleh ke arah Kakaknya. Tega sekali Dia membuat Freya harus menghabiskan waktunya dengan James.
"Ya tidak masalah. Freya bukan orang lain bagiku."
__ADS_1
Deg... jantung Freya berdetak dengan sangat cepat.
'Dasar pria gila!'
"Dimana Count?"
"Ayah ada urusan, jadi bersantailah. Kau tidak buru buru kan?"
'Cepat pulang sana!' lagi lagi keinginan Freya tak sejalan.
"Yah... aku akan banyak menghabiskan waktu disini." Jawab James tersenyum.
'Dia sangat gila!' Wajah Freya sudah tak karuan mendengar percakapan kedua orang tersebut.
Karena ingin segera lari dari James, Freya akhirnya bolang ingin beristirahat karena kepalanya masih pusing akibat mabuk.
Killion yang tadinya ingin marah dan mengomel pun di urungkannya sebab disini ada James.
Killion lalu menggiring James ke balkon samping rumah tempat biasa untuk minum teh.
Sebelum pergi, James melirik ke arah Freya yang sudah meninggalkan mereka berdua.
James tersenyum seakan punya rencana jahat untuk Freya.
***
Halo Readers...
Untuk dukung author, JANGAN LUPA LIKE, SUBSCRIBE, KOMEN, VOTE DAN RATING BINTANG 5 NYA YA! Hehe....
Tebaran bunga atau kopinya juga boleh.
Makasih!
Happy reading!
__ADS_1