PUTRI COUNT SALAH CONFESS

PUTRI COUNT SALAH CONFESS
Bab 48


__ADS_3

Hari ini Killion akan berangkat ke ibukota. Dia akan menempati mansionnya sebab akademi tempat dia bekerja juga dekat dengan tempat tinggalnya disana.Semalam dia sudah mengemasi barang-barangnya dan mengepaknya dengan sangat baik.


Killion turun untuk sarapan sekaligus berpamitan dengan Ayahnya, betapa kagetnya dia karena semua menu yang dihidangkan adalah makanan kesukannya.


"Apa semua ini?" Seru Killion,


Tidak seperti biasanya, Ayah Killion adalah orang yang tak suka dengan menghmabur hamburkan sesuatu termasuk makanan, jadia dengan adanya sisa keluarga yang hanya 2 orang di meja makan, menu sebanyak ini tidak akan habis.


"Makanan kesukaanmu."


"Aku juga tahu, tapi sebanyak ini?"


Yah, Count Galo hanya ingin merayakan Killion yang bekerja kembali tapi respon anaknya ini sungguh membuat suasana hatinya hancur. Tidak bisakah hanya mengucapkan terimakasih.


"Mubazir." Kata Killion yang tak peka.


'Mungkin aku akan segera cepat mati kalau terlalu sering berduaan dengannya." Batin Count.


"Kau bisa membungkusnya untuk makan di perjalanan." Kata Count lalu makan dengan tenang.


"Yah itu ada benarnya sih."

__ADS_1


"Terimakasih." Ucap Killion singkat sambil tersenyum memandang Ayahnya, lalu mulai mengambil makanan.


Hati Count rasanya tergelitik, entahlah.. seperti rasa senang datang menghampirinya. Yah, Killion tidak seburuk yang dia pikirkan. Anak lelakinya ini tampan dan cerdas, cuma kurang bisa mengekspresikan perasaan dan tidak peka sama sekali.


"Makan yang banyak."


"Hm..." Jawaban singkat Killion, sebab mulutnya sedang mengunyah makanan. Pipinya mengembung.


Setelah sarapan Killion berpamitan.


"Ayah jaga diri baik-baik. "


"Kau juga ya." Mereka berdua berpelukan singkat .


***


"Jadi aku akan mengatur bagian mansion beserta kebutuhannya?" Freya tak percaya dengan tugasya ng diberikan oleh Baron Ed.


Bukankah tugas tersebut harusnya menjadi tugas Nyonya rumah dan dalam hal ini karena belum ada Nyonya rumah, Camp sang butlernya lah yang mengelola semua itu.


Baron Ed mengangguk, sejujurnya ini adalah permintaan dari Tuannya yang pemaksa dan suka memberinya sogokan.

__ADS_1


'Wah.... ' Luas biasa sekali semua penghuni orang di utara. Pikir Freya, siapa dia sampai sampai diberikan tugas yang seperti ini. Dia yang awalnya hanya tamu, tiba tiba dipekerjakan dan langsung mendapatkan tugas yang seperti ini. Memang Freya lah yang mengelola urusan rumah tangga di kediaman Count, tapi Ayahnya bukan penguasaa wilayah dan hanya bangsawan belaka, jadi praktis urusannya tidak akan serumit ini.


"Apa Lady merasa ini terlalu berat."


Freya yang awalnya menunduk, kemudian melirik ke arah Baron. Kesal karena di remehkan, Freya pun menjawab, "Tidak.. ini mudah." Dia tersenyum mengenakan topengnya.


Kemaren seharian James menempeli Freya sampai sampai rasanya Freya risih, tapi hari ini James pergi, Camp bilang Grand Duke harus mengurus keperluan yang mendesak. Satu sisi Freya senang tapi satu sisi dia juga kesal karena tidak di pamiti.


Setelah mengatakan hal yang harus Freya urus dengan segera, Baron Ed pergi ke ruangannya. Mereka tidak satu ruangan, Baron Ed punya ruangan terpisah di samping ruangan kerja Grand Duke.


Tak lama Camp datang, wajah tuanya yang teduh sel@ku membuat Freya nyaman. Dia juga ramah dan memperlakukan nya dengan sangat baik.


"Anu... Butler Camp, Saya.... " Freya tak enak kalau tiba tiba saja dia harus menyerobot urusan kediaman Grand Duke apalagi dia hanya pendatang.


"Jangan hiraukan Saya, Nona. Saya sudah tua, selama ini sudah mengabdi 33 tahun. Saya juga ingin bersantai." Katanya sambil menuangkan teh ke cangkir yang akan diberikannya kepada Freya.


"Kalau begitu mohon bimbingannya." Ucap Freya.


Dalam hati Camp bersyukur, Lady yang di sukai Tuannya ini sangat rendah hati dan tidak sombing, dia juga tau cara memperlakukan orang dengan sangat baik. Camp semakin bersemangat untuk menyambut calon Nyonya rumah ini ke depannya. Kalaupun Tuannya itu memang suka bingung bagaimana merebut hati milik Nona Freya, maka Camp siap menjadi tameng untuk memberikan segudang ide untuk meluluhkan hati perempuan sebaik Nona Freya.


"Dengan senang hati Nona."

__ADS_1


Mereka berdua tersenyum penuh arti.


__ADS_2