
Arabella sepertinya bertindak cepat, tidak sampai 3 hari, dia sudah mengambil keputusan. Jawabannya tentu saja iya, mana mungkin Arabella punya pilihan lain untuk menolak tawaran bagus yang datang kepadanya.
Karena sudah setuju, Felix segera mengirimkan surat untuk Deron Zanibun sebagai pihak mempelai laki-laki. Atas pengaturan Felix tersebut. Arabella tidak dijual ke kerajaan asing yang tidak dia inginkan. Raja juga senang karena memiliki menantu muda pemimpin pasukan Ksatria mawar akan memudahkannya untuk jalannya perang.
Diluar dugaan Arabella, dia pikir Ayahnya akan menolak, tapi justru merestui keduanya.
Berkat keputusan tersebut, Arabella semakin berani melawan Miss Venti, Guru yang mengajarinya.
Berkat berita tersebut, Miss Venti tentu saja jadi tidak berani menyentuh putri yang akan di nikahkan dengan salah satu pahlawan perang.
***
Sementara itu di ujung utara tempat paling dingin. Dua in San manusia tengah menyesuaikan diri satu sama lain.
"Ini adalah teh melati yang harum, Butler Camp sengaja khusus menyiapkan ini untukmu." James dengan sepenuh hati nenuangkan teh beraroma harum kedalam cangkir.
Freya hanya tersenyum kikuk. Meski beberapa kali berinteraksi dengan James, Freya masih merasakan kaku.
'Aneh sekali, bukankah dia orang yang sibuk?' Freya merasa sedikit aneh dengan kelakuan James yang kadang suka muncul tiba-tiba dimana pun Freya berada.
Freya tersenyum, " Terimakasih." Freya menerima cangkir teh tersebut.
Memang benar bahwa teh melati tersebut sangat harum dan menenangkan aromanya.
Meski masih kikuk, keduanya mulai mengobrol banyak hal mengenai aneka teh.
Sudah hampir Seminggu lebih keluarga Count Galo ada di wilayah utara. Apalagi Killion juga sedang ada urusan, dengan tawaran menjadi seorang asisten mengajar di akademi. Itu sebabnya Killion mendatangi Ayahnya yang sedang bersantai di balkon sambil membaca buku-buku tanaman dan hewan endemik di utara.
__ADS_1
"Ayah, apa aku menganggumu?" Killion datang dengan senyuman.
"Ah.. tidak." Count Galo segera menutup buku tebal tersebut.
"....?"
"Aku kira Ayah sangat betah tinggal di utara lebih dari James." Killion melontarkan candaan kepada Ayahnya.
Cunt Galo tersenyum, memang benar bahwa utara yang katanya sangat dingin saat musim salju malah membuat Count Galo menghangat hatinya. Pasalnya dia disambut dengan ramah oleh seluruh apa yang ada di uatara, mulai dari bunga yang bermekaran di sepanjang jalan, warganya yang ramah, pemilik kastil yang selalu memperlakukan dia seperti Ayahnya sendiri, juga pekerja kastil yang tak luput dari penilainnya. Sejujurnya Count Galo suka beerlibur disini.
"Haruskah aku minta James untuk membiarkan Ayah disini saja?" Killion lagi-lagi bermaksud bercanda.
Yah meskipun nyaman, Count Galo hanyalah tamu. Jadi berlama-lama dalam kenyamanan bukanlah hal yang bagus. Apalagi di tempatnya tinggal banyak orang yang butuh bantuannya.
"Kau ini bicara apa Kill." Count menjawab dengan segera.
Sudah waktunyamereka kembali ke kediamn mereka, juga sudah waktunya mereka kembali ke realitas kehidupan mereka.
"Kita bersiap besok, jadi kurasa dua hari lagi Yah."
"Hm....." Count menganggukkan kepalanya.
"Kita juga harus memberitahu James dan Freya."
"Ya, Freya juga harus bersiap." Count Galo mengerutkan alisnya. Mungkin mereka kapan pulang dengan tambahan kereta, sebab barang bawaan mereka menjadi banyak. Semua itu adalah ulah James yang membelikan banyak barang kepada Killion, Count Galo dan utamanya Freya.
Setelah itu, Killion dan Count banyak mengobrol seputar wilayah utara yang sudah maju dan berkembang sejak James memimpin. Wilayah utara bisa bangkit ekonomi sejak wabah penyakit yang menyebar. James banyak membangun afiliasi kerjasama utamanya bidang perdagangan dengan berbagai wilayah. Sistemnya adalah barter, utara banyak memproduksi hewan ternak, sehingga daging dan kulit hewan banyak di produksi disini. Sedangkan utara butuh gandum untuk kebutuhan pangan sehari-hari dan lainnya. Awalnya utara hanya mengirim barang mentah, kemudian disini berkembang menghasilkan barang jadi seperti pakaian, tas dan sepatu. James memudahlan orang yang ingin membuat usaha mikro dan menengah dengan memudahkan urusan perijinan dan pajak yang murah untuk membangkitkan ekonomi wilayahnya.
__ADS_1
"Utara tak akan kalah dengan Ibukota." Kata Count mengambil kesimpulan.
James mempekerjakan orang yang cakap dan profesional, bukan berdasarkan kekerabatan karena rawan dengan tindakan kecurangan atas nama kekeluargaan. Count yang sudah tua tau betul bagaimana, kolusi merajalela di Kerajaan Wistoria, bahkan banyak pekerja di kementrian yang punya hubungan kekerabatan, akhirnya malah menimbulkan korupsi berjamaah dimana-mana. Ada pula yang malah melahirkan perbudakan karena hubungan kekeluargaan menyebabkan tanggung jawab yang banyak bagi mereka yang dibawah. Itu sebabnya juga Count tidak mencampuri urusan Killion sama sekali, bukan karena dia tidak perduli dengan anaknya, tapi Count cukup yakin dengan kemampuan anak-anaknya.
Diskusi panjang mereka selesai. Killion melangkah pergi untuk mencai sahabatnya dan memberi tahu sahabatnya tentang niatnya untuk kembali ke wilayahnya.
Hampir dua minggu jika sampai besok mereka masih disini, siudah cukup untuk dirinya memenangkan dirinya kembali. James juga pasti sibuk dan harus mengurus keperluannya disini mencakup wilayah dan persiapan perangnya. Killion tak mau menganggu lama-lama.
James pasti sedang ada di lapangan dan berlatih dengan para ksatrianya. Meningkatkan stamina dan saling uji para ksatria banyak di lakukan akhir-akhir ini. Apalagi urusan wilayah sudah dipegang oleh Baron Eddy. Menjelajahi lorong mansion kediaman James sangat melelahkan, Kekayaan Grand Duke utara memang mencengangkan. Mansionnya juga tak kalah mewah seperti istana Kerajaan. Bahkan bangunan disini dibangun sangat khas mengingat wilayahnya juga mempunyai kondisi khusus. Tamannya juga sangat luas, bahkan disini juga ada rumah kaca, belakangan rumah kaca tersebut sering dikunjungi Freya karena disana banyak koleksi tanaman langka. Tak hanya Count Galo, Freya sendiri nampaknya jugsa senang berada di kediaman Grand Duke James.
Tibalah Killion di lapangan yang tempatnya ada di ujung. Banyak laki-laki yang berkeringat disana karena baru selesai latihan. Untung disana tempatnya terbuka, kalau tidak bau keringat asam manusia pasti sudah menusuk hidung orang-orang. Bahkan di udara yang terbuka seperti itu saja, Killion bisa mencium aroma keringat yang menusuk. Namun hal tersebut memanglah wajar mengingat tempat tersebut adalah arena berlatih para ksatria.
Killion menyapa para ksatria dengan hormat, meski statusnya dia adalah bangsawan, Killion tetap rendah hati, juga para ksatria banyak yang berasal dari kalangan bangsawan, meskipun umumnya banyak juga dari kalangan rakyat biasa. James tak membedakan bawahannya. Dia merekrut mereka yang kompeten bukan hanya status belaka.
Setelah matanya mengendar ke segala penjuru, rupanya Killion tidak menemukan orang yang dicarinya.
"Siapa yang Tuan cari?" salah seorang Ksatria rupanya memperhatikan gerak gerik Killion.
"Ah.. saya sedang mencari Grand Duke." Jawab singkat Killion.
"Sayangnya, Yang Mulia tidak ada disini."
".....?"
"Sudah beberapa hari Yang Mulia absen tidak ikut latihan. "
Bukankah situasi ini sedikit aneh, kemana perginya Grand Duke yang disiplin jarang bolos kelas. Begitulah pemikiran Killion.
__ADS_1