
Dari mana datangnya rasa?
Manusia mana bisa mengontrol gak tersebut, kalo disuruh memilih juga Freya tidak mau terjebak dengan perasaan yang seperti ini. Freya sedang dalam suasana yang hancur. Dia bahkan tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya.
Deron yang pagi ini duduk di sebrang meja makannya sudah membuatnya gundah gulana.
Freya meletakkan dokumen yang sedari tadi dia buka tapi tidak dia baca baca. Pikirannya mengembara entah kemana. Dia kemudian meletakkan kepalanya di mejanya. Bibirnya di manyunkan ke depan. Sekarang ini haruskah dia mengaku lagi, iya sekali lagi kalau ada kesempatan. Sebelum Deron pergi berperang.
"Rasanya aku akan gila..... "
Freya berandai andi, kalau saja dia seorang Ksatria, dia adalah seorang pengecut yang melarikan dirinya.
Huh... dia menghela nafasnya lagi. Jadi sekarang ini perasannya tengah bimbang, Deron dan James manakah yang lebih tampan, dia mulai membandingkan keduanya.
"Tok... tok... tok.. " Pintu ruang kerja itu diketuk. Freya langsung buru buru duduk dengan tegak. Dia membenarkan rambutnya yang mungkin sedikit berantakan.
Saat pintu terbuka, rupanya itu adalah Camp, dia datang membawakan teh dan camilan seperti biasa.
__ADS_1
Freya tersenyum menyambutnya. 'Aku kira tadi James... tunggu... kenapa pula aku berharap itu dia.' Batin Freya.
"Bagaimana hari ini Lady?" Camp selalu bertanya pada Freya setiap hari.
"Yah... lumayan.. " Jawab Freya. Jawaban ambigu yang membuat Freya sendiri malu mengatakannya.
"Bagitu rupanya... " Camp tidak bertanya lebih lanjut. Butler yang sudah tua itu mengerti sekali dan pandai membaca situasi.
"Kalo begitu saya permisi dulu." Camp undur diri karena tidak mau menganggu Lady yang sepertinya tengah stress karena pekerjaannya, padahal Freya stress karena hal lain.
"Tunggu... " Tiba tiba saja Camp di cegat dengan omongan Freya.
"Kalau tidak salah, nanti malam."
"Nanti malam?"
Butler Camp mengangguk.
__ADS_1
Freya tampak kosong wajahnya, tapi dia segera sadar, "Oh begitu... Terima kasih."
Freya ditinggalkan sendiri dalam keheningan, hanya detak jarum jam saja yang berbunyi dan tengiang di kepalanya. Entah kenapa dia merasa bersalah. Kalau tidak mengaku pada Deron dan membiarkan James salah paham. Masalahnya ini sudah terlalu jauh. Freya yang menerima perlakukan James saat ini hanya hasil dari kesalahpahaman. Meski pahit, Freya merasa harus meluruskan segalanya.
'Ha...... 'Freya ingin berteriak tapi dalam benaknya saja. Kalau sekarang dia berteriak pasti dia akan mengundang keributan di mansion ini.
Setelah memantapkan hatinya. Dia mulai membaca lagi, dia ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan agar segera kembali ke kamarnya dengan segera. Dia punya misi yang harus dia selesaikan kali ini.
Benar saja, Freya meringkas pekerjaanya dan kembali ke kamarnya lebih cepat dari pada biasanya.
Freya segera menyuruh pelayan untuk membantunya mandi dan bersiap makan malam. Freya mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dia bilang selalu berkata "Semua pasti berlalu," kepada dirinya sendiri seolah itu adalah mantra yang bisa menenangkan segalanya.
Makan malam tiba, Freya entah kenapa sedikit berdanda, dia ingin terlihat sangat baik hari ini.
Karena hari ini Freya tampil sedikit beda, maksdunya dengan sedikit dandanan dan sedikit ditata rambutnya, James sampai merasa kalau jantungnya mau meledak.
Cantik saja tidak cukup, James merasa Freya adalah malaikat yang turun ke bumi.
__ADS_1
Makan malam itu berjalan dengan damai, entah kenapa Freya jadi sedikit lebih pendiam, sedangkan Deron makan dan mengobrol dengan James terkait keberangkatan mereka. Sesekali Deron bertanya soal Count dan Killion pada Freya. Tapi James selalu menjawab seolah dia adalah juru bicara Freya. Sungguh lucu bagi Deron.
Deron selalu mencuri pandang pada Freya. Cantik dan anggun, dia juga punya hati yang lembut. Deron merasa sosok Freya yang dewasa sangat mempesona. Adakalanya Deron ketahuan saat mencuri pandang kepada Freya, dan orang yang memergokinya adalah James. Saat itu terjadi, Deron akan mengajak James berbicara seolah tidak terjadi apa apa. James juga masih diam saja meski sejujurnya dia melihat sahabatnya itu tak biasa memandang pujaan hatinya.