Putri Di Negri Afhanda

Putri Di Negri Afhanda
10- Rembulan


__ADS_3


Happy Reading -



"Akhirnya sampai juga"


Ucap Tessa bernafas lega, saat sudah sampai di depan rumah milik Ema.


"Masuklah, aku akan segera memasak"


Sahut Ema memasuki rumah. Andin dan Tessa pun segera mengikuti Ema memasuki rumah.


Andin menaruh semua belanjaan di atas meja. Dan Tessa, juga melakukan hal yang sama.


"Bolehkah aku, membantumu?"


Tanya Andin pada Ema.


"Tentu saja, kalian boleh membantu ku"


Balas Ema pada Andin dan Tessa. Setelah itu pun, Andin membantu Ema untuk mencuci sayuran. Sedangkan Tessa, bagian memotong.


Mereka memasak dengan semangat. Membuat masakan lezat yang akan segera di santap dengan berbagai menu yang enak. Harum masakan Ema pun, sudah tercium sampai hidung Bio di perjalanan yang sudah dekat dengan rumah kayunya.


Bio mempercepat langkahnya, agar cepat sampai ke rumah. Dan meninggal kan Afsan yang masih berada jauh di belakang nya.


"Aku pulang"


Ucap Bio sedikit berteriak, sambil berlari masuk kedalam rumah.


"Banyak sekali makanannya"


Seru Bio lagi, saat melihat meja makan penuh dengan berbagai makanan dari yang berkuah sampai yang kering.


Makanan yang tertata rapi dan terlihat lezat membuat mata Bio membulat.


"Hei hei hei, kau tidak boleh memakannya dulu"


Ucap Ema saat melihat Bio hendak menaruh sepotong daging di piring makan yang ia genggam.


"Kenapa?"

__ADS_1


Tanya Bio menatap Ema bingung.


"Tunggulah yang lain. Apakah kau tidak malu dengan kedua gadis ini"


Ujar Ema pada Bio yang sudah tersenyum malu saat sudah sadar bahwa ada Andin dan Tessa yang sudah memperhatikannya sedari tadi.


"Dimana Afsan?"


Tanya Ema yang tidak melihat keberadaan Afsan. Padahal mereka berangkat bersama saat hendak berkuda.


Itulah kebiasaan Afsan, Bio, dan Renlond, diwaktu pagi. Biasanya mereka akan berkuda sambil memanah, dan itu adalah salah satu cara Afsan menikmati hidupnya.


"Hai Ema"


Sapa Afsan yang baru saja sampai di rumah. Dan dengan tampang lesu, Afsan duduk di kursi sebelah Bio.


"Nah, sekarang Afsan sudah disamping ku"


Ucap Bio terkekeh.


"Yasudah, mari kita makan"


Kata Ema pada mereka yang sudah duduk anteng di kursi.


Tanpa sengaja, Afsan menangkap manik mata Andin yang diam-diam menatapnya. Membuat pandangan mereka bertemu seketika. Sampai akhirnya, Andin yang memutuskan untuk membuang muka. Malu, itulah yang Andin rasakan saat ini.


.


 


Sejuknya angin malam, membuat Andin sesekali memerjapkan matanya karena nyaman. Kini Andin berada di atas sebuah batu besar yang tak jauh dari rumah Ema. Andin menikmati keindahan malam itu sangat menyenangkan. Hanya ditemani dengan angin, rembulan, dan bintang-bintang. Jika kalian bertanya Tessa dimana? Tessa sudah tertidur sejak 1 jam yang lalu.


Andin melamun memikirkan keadaannya sekarang. Dia juga masih belum tahu, bagaimana dia berada di sini. Dan apa alasan dia berada di sini. Apakah ini surga? Tapi mengingat monster di luar sana, membuktikan bahwa keadaan diluar sana tidak baik-baik saja.


Krekk...Krekk


Suara langkah kaki seperti menginjak sesuatu. Bisa jadi, daun, batang, atau pun akar pohon.


Andin yang mendengar itu pun, refleks melirik kearah samping. Dan melihat dibalik semak-semak itu seperti ada seseorang yang sedang menuju kearahnya. Kemudian Andin bangkit dari duduknya, dan menatap fokus kearah semak-semak yang kini dihadapannya.


Sampai seseorang keluar dari balik semak-semak itu. Membuat Andin terkejut sambil menatap orang itu yang ternyata adalah Afsan. Afsan pun juga menatap Andin dengan tampangnya yang datar. Lalu berjalan mendekat ke arah Andin yang masih menatap dirinya lekat.


"Sedang apa kau disini?"

__ADS_1


Tanya Afsan membuyarkan lamunan Andin, yang sedang menatapnya.


"Ingin saja"


Balas Andin, sambil kembali duduk di tempatnya semula. Afsan masih memperhatikannya, membuat Andin merasa tak nyaman.


"Ada apa?"


Tanya Andin yang merasa di perhatikan.


"Ini adalah tempatku bersantai. Dan sekarang, aku keduluan"


Ucap Afsan menatap Andin datar. Batu besar yang diduduki Andin ini, adalah tempat dimana biasanya Afsan beristirahat ataupun bersantai.


"Benarkan? Aku tidak tahu"


Kata Andin yang siap turun dari batu itu. Namun saat hendak turun, Afsan berkata.


"Duduklah, ada yang ingin ku kubicarakan denganmu"


Mendengar itu pun, Andin duduk kembali. Dan sedikit menjauh saat Afsan juga duduk dibatu itu.


"Sebenarnya, dari mana kau ini?"


Tanya Afsan tiba-tiba. Andin menatap wajah Afsan, lalu dengan berat berkata.


"Aku berasal dari tempat jauh nan indah, tempat dimana aku dilahirkan dan dibesarkan. Namun saat aku terbangun dari tidur, tiba-tiba aku sudah berada di tempat yang aku tak tahu keberadaannya ini"


Balas Andin mengingat kejadian yang dialaminya sambil menatap langit dengan tatapan hampa.


"Afsannn... Afsannn..."


Teriak seseorang memanggil nama Afsan.


Afsan yang sangat mengenal suara seseorang itu pun, hanya menghela nafasnya. Dan memutuskan untuk segera pergi, walaupun masih sangat ingin mencari tahu lebih siapa sebenarnya Andin dan Tessa.


"Kembalilah, sebentar lagi tengah malam"


Ucap Afsan berbalik menatap Andin, lalu melanjutkan langkahnya lagi.


Andin pun mengangguk, lalu menatap kepergian Afsan yang perlahan menghilang dibalik pepohonan. Tak lama dari itu, Andin segera kembali kerumah Ema.


.

__ADS_1


Sakay.


__ADS_2