Putri Di Negri Afhanda

Putri Di Negri Afhanda
37- Arus sungai


__ADS_3


Happy Reading -



Andin terdiam menatap sesosok trolls yang terbangun dari tidurnya itu. Trolls itu sangat besar, dengan wajah yang menyeramkan. Afsan, Hedof dan Sena sudah mengambil ancang-ancang untuk pergi dari tempat itu. Karena mereka tahu, jika trolls itu akan menyerang mereka semua.


"Semuanya, ayo cepat ke seberang!"


Seru Afsan lalu beranjak pergi.


Mereka semua segera pergi dari sana, Andin yang berada jauh dibelakang langsung cepat melangkah. Tapi baru saja Andin melangkah, trolls itu sudah berlari menuju jembatan itu. Deru suara langkahnya terdengar sangat kencang, membuat mereka yang sudah berada di sebrang itu kembali menengok kebelakang.


"Andin!"


Teriak Afsan melihat Andin yang masih berada ditengah-tengah jembatan.


"Andin cepat, lari!"


Ucap Sena berteriak.


Andin kembali melajukan kudanya. Namun terlambat, trolls itu sudah berada dibelakangnya. Mereka yang berada di sebrang sana melihat itu terdiam khawatir. Andin yang merasa sudah tidak memiliki celah, melirik kearah belakang dengan wajah yang sedikit tegang.


Burrr


Seketika Andin bersama dengan trolls itu terjatuh kedalam sungai karena beban dari trolls yang membuat jembatan itu rusak karena tidak kuat menahan beban yang sangat berat. Andin terhempas ke segala arah, arus sungai itu membuatnya terombang-ambing kesana-kemari.

__ADS_1


Trolls itu segera bangkit, dan kembali ke tempatnya semula. Untungnya ia tidak melihat keberadaan Afsan dan lainnya yang tengah bersembunyi dibalik semak-semak. Trolls itu kembali menjadi gundukan batu yang besar. Dan setelah itu, mereka semua pun segera keluar dari tempat persembunyian.


Jembatan itu sudah rusak, dengan bolongan yang besar ditengah-tengah. Arus sungai itu, juga tidak mau kalah. Dan sepertinya jauh lebih deras dari sebelumnya. Hedof memandang itu dengan wajah yang bersalah. Ia menyesal karena telah membawa mereka ketempat yang membahayakan.


"Maaf semuanya"


Lirih Hedof.


Afsan melirik kearah Hedof dengan wajah yang dingin dan datar.


"Apa tujuanmu sebenarnya?"


Tanya Afsan pada Hedof.


"Tujuan?"


Kata Hedof sedikit gugup.


Tambah Hedof yang merasa tajamnya tatapan Afsan.


"Oh benarkah, tapi mengapa kau menjadi gugup?"


"Sepertinya kau tidak benar-benar membantu kita"


Ucap Afsan dengan dingin, membuat Sena juga merasakan perbedaan atmosfer yang menjadi menyeramkan.


"Jika kau memang mempunyai tujuan lain, pergilah. Jangan sampai aku membunuhmu"

__ADS_1


Kata Afsan dengan sedikit penekanan.


Lalu ia melangkah pergi mengikuti sungai untuk mencari Andin. Sena juga mengikutinya dari belakang, sebelum pergi ia melirik kearah Hedof sebentar. Sepertinya Hedof benar-benar merasa bersalah. Tapi Sena juga tidak bisa berbuat apa-apa padanya, saat ini Andin harus dicari. Ia berhutang budi yang sangat besar pada Andin, orang yang telah menyelamatkan adiknya.


"Maaf"


Gumam Hedof.


Ia merasa bersalah dan merasa sangat bodoh karena tidak memberi tahu mereka tentang apa yang sebenarnya ingin ia lakukan. Tapi ia benar-benar ingin membantu Andin dan lainnya, bukan memanfaatkan mereka demi mendapatkan apa yang Hedof inginkan.


Afsan berjalan dengan sangat cepat, tatapannya menyiratkan amarah. Ia memang sudah merasa ada yang aneh dengan Hedof. Ia juga memperhatikan Hedof disepanjang perjalanan ini. Setiap beberapa saat Hedof akan berhenti sejenak dan melihat kearah sekitar dengan fokus. Sama seperti tadi, saat berjalan melintasi sungai. Hedof juga terdiam sejenak dan memandang ke sekitar bahkan sampai kearah sungai. Tapi saat diperhatikan lagi, disaat seperti itu mata Hedof berubah menjadi biru menyala.


"Afsan tunggulah"


Cetus Sena yang merasa ditinggal. Alih-alih berhenti, Afsan malah menambah kecepatannya lagi.


"Hei, kau ini!"


Maki Sena.


Afsan hanya fokus pada Andin. Bagaimana pun, ia harus menemukan Andin. Sungai yang mengalir deras ini sangat panjang, sepertinya beberapa meter lagi akan ada banyak bebatuan yang berada di sungai itu. Dan jika beruntung, Andin bisa menyangkut disana. Sebelum terhanyut lebih jauh lagi.


Tanpa mereka sadari, Hedof juga mengikuti mereka dari belakang. Sepertinya ia harus mengucapkan maaf dan salam perpisahan pada Andin sebelum ia benar-benar pergi.


Disisi lain, Andin yang masih bisa bertahan itu mencoba untuk mengambil nafas. Dengan sekuat tenaga Andin menahan agar dirinya tidak terombang-ambing lagi. Namun walaupun begitu, arus sungai masih tetap lebih kuat dibandingkan dirinya.


Andin menyelam kembali, dengan wajah yang terlihat penasaran dengan apa yang ia lihat didalam air. Sebuah benda yang mengkilat membuat Andin tertarik untuk mendekat. Itu adalah sebuah cinta berwarna biru indah menyala, sepertinya Andin mendapatkan temuan yang sangat indah. Baru saja ia senang, tiba-tiba arus sungai menghantam tubuh Andin dengan sangat kencang. Membuat Andin kehilangan kesadaran.

__ADS_1


.


Sakay


__ADS_2