
Happy Reading -
Mereka semua, serempak mengendarai kudanya dengan cepat. Afsan yang tadinya dibelakang juga sudah mengejar Renlod dan Bio yang berada jauh di depan. Namun sepertinya, monster itu masih mengikuti mereka.
Andin sudah berhenti menangis, dan kini tengah diam merenung. Andin tidak bersemangat kali ini. Kejadian tadi masih terngiang-ngiang di pikiran Andin. Mengapa harus Tessa yang dibawanya? Itulah yang mengisikan seluruh pikiran Andin.
"Sedikit lagi kita sampai"
Teriak Renlod memberi tahu. Andin mengalihkan pandangannya menatap pohon besar yang masih lumayan jauh didepan sana.
"Lebih cepat lagi semuanya"
Tambah Renlod mempercepat kudanya.
Afsan juga mempercepat kudanya, membuat Andin semakin mengeratkan pegangannya di baju Afsan. Suara langkah kaki monster itu juga perlahan sudah menghilang, sepertinya dia kehilangan jejak. Tapi sepertinya, Andin belum bisa lega. Andin mempunyai perasaan yang tidak enak didalam hatinya.
Pohon besar itu, sepertinya sudah menunggu kedatangan mereka. Dengan cepat, satu persatu dari mereka memasuki pohon itu. Pohon yang mempunyai tempat sembunyi yang indah, dan banyak kehidupan didalamnya.
Kuda mereka membelah jalanan di desa, banyak penduduk yang sedang beraktifitas disana. Ada beberapa orang yang juga memperhatikan raut wajah tegang mereka yang tidak biasa. Kuda itu dengan cepat berlari menuju rumah Ema, Andin butuh penenang sekarang. Dan mungkin Ema bisa membuatnya lebih baik.
Sesampainya mereka dirumah Ema, mereka segera turun dan mengikat kudanya dengan baik. Andin turun dari kudanya dibantu dengan Afsan tanpa Andin harus memintanya. Andin berjalan menuju pintu rumah Ema, dan mengetuknya.
Tok!Tok!Tok!
Ketuk Andin lumayan kencang. Namun, Andin belum mendapat balasan.
"Sepertinya Ema sedang pergi"
Ujar Renlod sambil memegang sepucuk surat yang bertuliskan kalau Ema sedang pergi keluar, dan kuncinya ia taruh dibawah vas bunga.
Renlod mengecek vas bunga di teras rumahnya. Dan dia menemukan sebuah kunci yang terletak dibawah sana. Tanpa berlama lagi, Renlod segera membuka pintu itu.
"Masuklah"
Ajak Renlod pada Andin yang terdiam menatap lurus kedepan. Andin yang mendengar itu pun, langsung melangkahkan kakinya masuk.
Dengan wajah yang lesu mereka masuk kedalam, Bio sepertinya juga sangat terpukul atas yang terjadi tadi. Karena Bio sangat mengerti perasaan yang sedang Andin rasakan saat ini. Afsan tidak ikut masuk kedalam, dia langsung pergi setelah melihat mereka semua masuk kedalam.
"Andin kau tidak ap-"
Sebelum Bio menuntaskan ucapannya, Andin berbalik menatapnya dan berkata.
"Biarkan aku sendiri, permisi"
Potong Andin menatap Bio dan Renlod. Dan setelahnya, Andin melangkahkan kakinya pergi menuju lantai dua.
__ADS_1
Andin melangkah pergi menuju kamarnya, Andin mengehentikan langkahnya saat sudah berada didepan kamarnya itu. Andin berbalik dan menghadap kamar dengan pintu berwarna hijau yang Tessa tempatkan. Andin menatap kamar itu dengan tatapan hangat, sama seperti dirinya menatap Tessa yang tersenyum kepadanya.
Andin perlahan masuk kedalam kamar dengan pintu hijau itu. Andin menatap seluruh isi kamar itu dengan tatapan rindu, sampai Andin tak kuat untuk menahan air matanya lagi.
"Tessa, kamu dimana?"
Ucap Andin yang sudah terduduk lemas di lantai, dan terisak dalam diam.
Andin berharap jika Tessa baik-baik saja dimana pun dia berada. Sekalipun dia dibawa oleh monster itu. Mungkin esok, Andin akan mencoba untuk mencari Tessa lagi. Di dunia, yang tidak jelas keberadaannya ini.
"Sial, semua ini terjadi lagi"
Pekik Bio mengusap seluruh wajahnya. Bio benar-benar merasa kesal saat ini, dia sangat ingin membuat semua monster itu lenyap sekarang.
.
"Aku pulang"
Seru Ema yang baru saja pulang dirumahnya saat mentari perlahan sudah mulai turun. Ema melihat pemandangan yang sangat suram, anak dan suaminya hanya merenung diam.
"Ada apa ini?"
Tanya Ema menatap wajah suami dan anaknya bergantian.
"Dimana yang lainnya?"
"Ada apa?"
Ujar Ema yang penasaran dengan hal itu.
"Semua terjadi lagi"
Sahut Renlod menatap Ema lesu. Ema yang mendengar itu pun, menatapnya bingung.
"Terjadi apa? Dan dimana Andin dan Tessa?"
Ema bingung dengan ucapan Renlod. Dan juga biasanya Tessa dan Andin sudah berkumpul dibawah saat di jam-jam seperti ini.
"Tessa telah hilang dibawa oleh monster"
Kata Bio tanpa jeda. Ema menatap wajah Bio dengan tatapan yang tak percaya, namun Ema bisa merasakan perasaan sedih di ucapan Bio itu.
"Ini tidak lucu, jangan bercanda seperti itu"
Ema menggelengkan kepalanya, menolak untuk percaya.
"Iya itu ben-"
Belum selesai Renlod mengucapkan ucapannya, tiba-tiba terdengar ada dentuman keras yang membuatnya berhenti berucap.
__ADS_1
Brughhh
Brughhh
Brughhh
Dentuman keras itu terdengar sangat jelas dimana-mana. Renlod, Bio, dan Ema langsung keluar dari rumah untuk melihat dari mana dentuman itu berasal. Penduduk disana juga langsung keluar dari rumah. Mereka semua menjadi penasaran.
"Suara apa itu?"
Kata Bio menatap keseluruh penjuru. Suara dentuman itu terdengar semakin keras sekarang.
Andin yang tertidur saat menangis Tessa itu pun, langsung terbangun dari tidurnya. Dentuman keras itulah yang membuatnya terbangun. Perlahan Andin bangkit dari duduknya, dan berjalan pergi keluar kamar. Sepertinya suara dentuman itu membuatnya penasaran.
Saat dia tidak melihat siapa-siapa di dalam rumah. Andin bergegas menuju keluar, pasti mereka semua berada diluar sekarang. Dan benar saja, ketiga anggota keluarga itu sedang berdiri menatap lurus kedepan kearah pintu pohon persembunyian, yang berada jauh di depan sana. Dan pohon itu hanya bisa terlihat dari rumah Ema, karena rumah Ema berada di atas bukit.
"Ada apa?"
Tanya Andin menatap mereka bertiga, lalu mengalihkan pandangannya lagi kearah pohon itu yang perlahan bergetar.
"Aku pun tidak tahu"
Ujar Bio yang dibalas anggukan dari yang lain.
Pohon itu bergetar semakin hebat. Daun-daunnya juga bergoyang sampai ada yang berjatuhan. Semua orang memperhatikan itu dengan seksama, entah apa yang terjadi diluar pohon sana. Tapi bisa dipastikan, itu tidak baik jika nantinya pohon ini akan goyang dan rusak.
Semua orang pada diam memperhatikan pohon itu. Sampai akhirnya, pohon itu rusak. Pohon itu rusak dengan sebuah bolongan besar ditengahnya. Dan mereka semua tahu, bahwa pelakunya itu. Adalah, monster.
"Warghhhh"
Raung monster itu saat berhasil masuk melewati pohon yang telah rusak. Dan seketika, semua orang pada berhamburan tanpa arah.
Andin menatap semua itu dengan tatapan tidak percaya. Setelah apa yang terjadi tadi, mengapa sekarang ada masalah baru lagi. Tessa saja belum ditemukan, dan sekarang pohon pembatas itu malah dirusak.
"Bio, ayo kita bantu mereka semua. Arahkan penduduk ke gua Zere, dan Ema bawalah Andin bersamamu"
Ujar Renlod yang sudah siap dengan kudanya. Bio pun sama, dengan busur panah yang lebih besar dari biasanya.
"Naiklah ke kudamu Andin"
Kata Ema sambil menunjukkan kuda berwarna putih. Andin pun segera menaiki, dan mengikuti langkah Ema yang memimpin perjalanan.
Perlahan kuda mereka turun dari bukit, dan berlari dengan cepat melewati kerumunan orang yang berlarian entah kemana. Andin mengendarai kudanya sambil mencoba untuk tetap fokus. Karena disepanjang jalan itu, Andin melihat beberapa orang yang diinjak bahkan di makan oleh monster itu.
Andin benar-benar tersiksa karena semua ini. Andin ingin sekali menolong semua orang sekarang. Namun, Andin juga tidak bisa apa-apa selain mengikuti apa yang Renlod katakan. Bahkan Andin pun tidak mempunyai senjata untuk melindungi dirinya sendiri.
.
Sakay.
__ADS_1