Putri Di Negri Afhanda

Putri Di Negri Afhanda
21- That voice again


__ADS_3


Happy Reading -



Di tengah hutan belantara, yang sudah diliputi oleh gelapnya malam. Ada


seorang lelaki yang baru saja terbangun dari tidurnya yang nyenyak tadi. Lelaki itu adalah, Afsan. Yang baru saja terbangun karena hembusan angin yang cukup kencang membuat tidurnya terusik.


Afsan membuka matanya lebar, dan melihat langit yang sudah gelap dengan cahaya rembulan dan bintang yang memerangi bumi ini. Pandangan beralih pada Andin yang sedang tertidur pulas dengan posisi menyender di pohon besar.


"Cih, lihatlah seberapa lelahnya dirimu ini"


Decih Afsan memperhatikan Andin. Dia mengingat ucapan Andin siang tadi yang berkata bahwa dirinya tidak lelah. Padahal kenyataannya, dia tertidur pulas dengan wajah letihnya.


Perlahan Afsan bangkit, dan meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku. Afsan memandang ke sekeliling tempatnya itu, dan sangat sepi. Hanya ada dirinya, Andin dan kedua kudanya yang menginjakkan tempat itu.


Rasa haus mulai menyapa tenggorokan Afsan yang kering. Karena ia tidak memiliki bekal untuk perjalanan ini, mau tak mau dia harus pergi mencari minum. Dan meninggalkan Andin, yang masih tertidur pulas disana. Bisa saja sebenarnya mereka membawa bekal untuk perjalanan ini, namun terlebih dulu Afsan menolak. Karena ia tahu, keadaan di dalam gua masih terbilang cukup sulit.


Afsan menaiki kudanya, dan bersiap untuk mencari berbagai makanan dan air untuk pengganjal perut mereka nanti. Sebelum pergi, Afsan berbalik dan menatap Andin. Ia harus pergi meninggalkannya sendiri dengan berat hati. Afsan hanya tak ingin membangunkan Andin dari tidurnya itu, dan memilih untuk pergi sendiri. Walaupun dia tahu, bisa saja bahaya dan ancaman yang akan menghampiri Andin nanti.


Tanpa berlama lagi, Afsan pun segera melajukan kudanya.


.

__ADS_1


"Andin"


Lirih seseorang memanggil nama Andin yang masih tertidur lelap.


"Andin"


Suara lembut wanita itu pun terdengar kembali. Andin yang sudah setengah sadar pun, mencoba mencerna apa yang barusan dia dengar.


"Andin, bangunlah"


Kata wanita itu lagi, yang seketika membuat Andin terbangun dan terdiam bingung.


Andin terdiam. Suara wanita itu, masih terngiang-ngiang di pikirannya. Andin tahu pasti suara apa itu, suara yang juga pernah ia dengar saat tertidur di rumah Ema. Suara yang terdengar lembut dan sangat menenangkan.


Gumam Andin masih terdiam. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari apakah ada seseorang disekelilingnya. Namun, tidak ada.


Andin kemudian teringat dengan Afsan. Dimana dia berada, Andin hanya menatap pohon tempat Afsan tadi dengan raut wajah bingungnya. Dan melupakan suara tadi, yang sempat membingungkan nya.


"Afsan?"


Seru Andin memanggil nama Afsan.


"Afsan, dimana kau?"


Kata Andin lagi berteriak saat tidak menerima jawaban dari sang empunya. Andin kemudian berjalan, menelusuri tempat itu pelan-pelan.

__ADS_1


Sambil meneriaki nama Afsan sesekali. Andin terus melangkahkan kakinya hati-hati, menelusuri tempat itu tanpa kudanya. Dengan gelap, sendiri, dan sunyi tidak membuat Andin takut akan dirinya saat itu. Saat ini, Andin hanya ingin bertemu dengan Afsan.


Semakin Andin melangkah, semakin jauh pula tempat ia menginjakkan kakinya. Sampai akhirnya Andin sadar, dimana dirinya kini berada. Andin benar-benar bingung, karena ia merasa jika tempat ini sangat berbeda. Banyak pepohonan yang tinggi, namun memiliki batang yang kurus. Daunnya pun juga sangat lebat, membuat sinar sang bulan tertutup olehnya.


"Dimana ini?"


Tanya Andin pada dirinya sendiri. Ia merasa ceroboh, apalagi dia tidak membawa senjata. Bahkan ia lupa jika masih ada ancaman disekelilingnya.


Andin membalikkan badannya, lalu memutarkan nya sambil memandangi tempat asing itu. Andin hanya perlu tetap tenang, dan jangan panik. Ia yakin jika dirinya pasti bisa kembali ke tempat semula.


Setelah merasa yakin, dengan arah didepannya itu. Yang menuju kesebuah jalan setapak yang terlihat sangat meyakinkan. Dengan tekad bulat, walaupun hatinya berdebar. Andin pun mulai melangkah.


Namun siapa sangka, ternyata ada sesosok makhluk yang sedang memperhatikannya sedari tadi diujung sana. Makhluk itu menatap Andin dengan tatapan yang sangat lapar. Bahkan makhluk itu pun, sudah mengepakkan sayapnya dan bersiap untuk menangkap Andin.


Andin terhenti, merasakan ada yang memperhatikannya. Mata Andin mengawasi pohon-pohon di depannya itu, takut jika ada monster yang menunggunya di balik sana.


.


Disisi lain, Afsan tengah memetik buah di sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi. Pohon itu berbuah sangat banyak, dan tentunya Afsan tidak akan menyiakan kesempatan itu. Ia akan membawanya secukupnya.


.


Tadinya sebenarnya mau up kemarin, tapi naskahnya belum di bikin. Jadinya hari ini deh, semoga tetap suka ya. Dan jangan bosen okee.


Sakay.

__ADS_1


__ADS_2