Putri Di Negri Afhanda

Putri Di Negri Afhanda
40- Perampok kota


__ADS_3


Happy Reading -



Langkah-langkah mereka telah menghasilkan peluh lelah berada seharian diatas kuda yang juga sama akan lelahnya. Kini, mereka bertiga sudah berjalan jauh untuk bertemu dengan Hedof. Namun dari sepanjang jalan ini, mereka belum menemukan keberadaan Hedof.


Tidak ada pilihan lain selain mencari keberadaan Hedof di bukit Sangju. Afsan dalam pikirannya sendiri sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Hedof bukanlah makhluk biasa seperti mereka semua. Dari tempat tinggalnya saja, bisa dipastikan ia adalah siapa.


Bukit Sangju juga bukan bukit biasa, badai disana sangat tinggi, hawa panas juga mengelilingi tempat itu, terlebih disana terdapat sebuah sihir pertahanan. Jika hanya orang biasa yang akan pergi ketempat itu, bisa dipastikan ia akan mati terbawa badai atau terbakar karena panas, bahkan karena sihir yang akan membuat tubuhnya hancur. Tapi tidak dengan makhluk asli yang mendiami tempat itu, mereka adalah Evector.


"Wah, kota ini terlihat sangat sepi ya"


Pekik Sena menatap kota yang sangat sepi.


Mereka baru saja menjejakkan kakinya disebuah kota. Kota itu terlihat sangat sepi, orang-orang disana juga berkelakuan aneh. Mereka buru-buru masuk kedalam rumah, dan menguncinya. Padahal, baru menjelang sore.


"Ada apa dengan mereka semua?"


Tambah Sena lagi melihat orang yang berlari cepat menuju rumahnya.


Brughh


Seorang wanita tua, terjatuh didepan mereka bertiga karena berlari.


"Apakah kau baik-baik saja?"


Tanya Andin pada wanita itu.


"I-iya... Aku baik-baik saja"


Balas sang nenek memaksakan dirinya untuk berdiri.


Dengan sigap Andin membantunya, tubuh lemah wanita itu benar-benar tidak kuat untuk membantunya berdiri. Tapi wanita itu juga sepertinya ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu.


"Kau ingin kemana, biarkan aku membantumu?"


Tanya Afsan.


"Aku ingin pulang kerumah, kalian semua pergilah dari sini, disini berbahaya"


Kata nenek itu yang membuat mereka bertiga seketika terdiam.

__ADS_1


Nenek itu melepaskan tangannya dari Andin dan tersenyum berterimakasih, lalu kemudian berjalan pergi lagi dengan sedikit berlari. Dengan tertatih tatih nenek itu berjalan. Sampai akhirnya, sebuah panah menancap di kaki nenek itu yang membuatnya terjauh.


"Andin awas!"


Teriak Afsan melihat panah yang melayang keberbagai arah.


Dengan cepat mereka semua berlindung dari panah yang melesat kemana-mana. Andin pun tanpa banyak bicara lagi langsung mengeluarkan kekuatannya dan membuat sebuah perisai besar untuk melindungi mereka semua dari anak panah.


Sesaat kemudian, tak terdengar lagi suara anak panah yang melesat. Dengan berhati-hati, Andin membuka benteng pertahanan itu. Dan terlihat ada sekelompok orang berpakaian hitam berdiri tak jauh dari tempat mereka. Kelompok orang itu, berkostum hitam dari atas kebawah. Membuat orang tidak bisa melihat jelas siapa dirinya.


"Mereka semua adalah penjahat"


Lirih sang nenek dengan wajah yang ketakutan.


Andin bisa merasakan, rasa ketakutan, kecemasan, dan tidak aman bersatu didalam perasaan nenek itu. Apa yang kelompok aneh itu lakukan sampai membuat nenek tua ini sangat ketakutan.


"Tidak apa-apa, ada kami disini"


Cetus Afsan melindungi nenek itu dibelakangnya.


"Siapa kau, beraninya datang ketempat ini?!"


Kata seorang dari kelompok aneh itu sambil berjalan mendekat.


Sahut Afsan dengan suara yang kencang.


"Cih, jangan berlagak seperti pahlawan, bodoh. Aku tidak suka orang seperti itu!"


Maki orang itu sambil melayangkan anak panah kearah Afsan.


Sontak Afsan segera mengeluarkan pedangnya, dan menepis panah itu menjadi terbelah dua. Tidak bisa dipungkiri bahwa panah itu benar-benar sangat cepat, jika Afsan telat sedikit saja, mungkin panah itu akan mengenai dirinya.


"Cukup baik, tapi apakah kau masih bisa menangkis lagi"


Lirih lelaki itu sambil melesatkan anak panah berkali-kali pada Afsan.


Dengan sigap Afsan langsung menangkis itu semua, dengan tertawa jahat lelaki itu terus menyerang Afsan. Andin juga tak akan diam saja, ia membantu Afsan dengan menangkap panah panah itu dan membalikan nya lagi pada lawan. Karena itu, beberapa orang dari kelompok sana terkena panah yang di balikan Andin.


"A-apa"


Gumam lelaki itu tak percaya, sepertinya wanita didepannya itu bukan manusia biasa.


Afsan yang melihatnya tersenyum tipis pada Andin. Sena segera membawa nenek tua untuk pulang kerumahnya, karena ia tahu setelah ini akan terjadi apa.

__ADS_1


"Kurang ajar!"


"Beraninya kau menantang ku, sialan. Semuanya, serang dia!"


Maki lelaki itu sambil berjalan maju, kawannya pun segera mengikuti perintahnya.


Kelompok itu mulai melakukan penyerangan. Andin dan Afsan bersatu untuk melawan, dengan perlahan namun pasti Afsan membuat lawan tunduk padanya. Andin pun sama, kekuatannya itu dipakai untuk mengikat mereka satu-persatu sampai tak bisa lagi bergerak.


"Ukhhh!"


Lenguh lelaki itu saat Afsan memberinya pukulan kencang diperutnya.


Darah pun keluar dari mulut lelaki itu, sepertinya Afsan benar-benar kesal dibuatnya.


"Kau, apa yang kau lakukan disini!"


Tanya Afsan dengan nada tak santai.


"Jawab, bukankah kau tadi banyak ngomong!"


Lelaki itu hanya diam saja dengan wajah kesakitan, bahkan hanya dengan satu pukulan lelaki itu menjadi terdiam.


"Maafkan aku, ukhh..."


Para penduduk yang sedari tadi melihat dari kejauhan juga mulai keluar dari tempat persembunyian, mereka semua melihat kelompok perampok yang biasanya memeras mereka semua sudah babak belur ditangan Andin dan Afsan.


"Cih, ternyata orang sepertimu masih ingat akan kata maaf"


Cetus Afsan.


"Meminta maaf lah pada penduduk sini, dan jangan pernah melakukan hal itu lagi atau kau akan mendapatkan sakit lebih dari ini!"


Pekik Andin sambil menghantam kepala lelaki itu dengan cukup kencang.


Afsan tertawa kecil melihat kelakuan Andin, Andin pun terkekeh sadar akan kelakuannya.


"Terimakasih kakak, akhirnya orang jahat itu kalah juga"


Cetus seorang anak kecil pada Andin. Membuatnya tertegun.


Penduduk lainnya pun juga berterima kasih pada mereka. Tak bisa ditutupi juga jika Andin terharu karena itu. Afsan tersenyum senang mendengarnya, ia pun juga merasa jika perjalanan ini begitu banyak rintangan yang akan menjadi sebuah kenangan indah di hidupnya.


.

__ADS_1


Sakay


__ADS_2