Putri Di Negri Afhanda

Putri Di Negri Afhanda
6- Hidden place


__ADS_3


Happy Reading -



Sudah cukup lama Andin dan Afsan berada di perjalanan. Namun, sedari tadi mereka belum juga sampai. Entahlah kalau Tessa dan Renlod, mungkin saja mereka sudah sampai.


Tapi walaupun cukup lama, Andin merasa tidak bosan. Karna disepanjang jalan, Andin di suguhkan dengan banyak pemandangan pepohonan yang indah menjulang tinggi. Membuat mata Andin tak bosan memandang. Sesekali, Andin juga memperhatikan wajah Afsan, yang tengah sibuk mengendarai kudanya. Wajahnya yang dingin itu membuat Andin penasaran.


"Mengapa kau menatapku seperti itu?"


Kata Afsan yang merasa dirinya tengah diperhatikan. Andin yang menyadari itu pun segera memalingkan wajahnya. Malu, itulah yang Andin rasakan saat ketahuan sedang menatap Afsan diam-diam.


"Tidak"


Sahut Andin tanpa melihat wajah Afsan. Andin sangat malu, mungkin sekarang pipinya sudah merah.


"Cihh, pembohong"


Pekik Afsan, lalu tiba-tiba menambah kecepatan kudanya. Membuat Andin mau tak mau mengencangkan eratan tangannya di pundak Afsan. Dan itu membuat jarak mereka bertambah dekat.

__ADS_1


Disaat kuda hitam itu sedang melaju kencang, tiba-tiba saja Afsan memberhentikannya. Pasti ada sesuatu yang membuatnya berhenti melangkah. Andin menatap Afsan, memasang wajah penuh tanda tanya. Seakan mengatakan, mengapa diberhentikan kudanya?


Afsan yang menyadari itu pun berkata


"Diamlah, makhluk jelek itu tengah mendekat"


Seketika Andin membungkam mulutnya. Sungguh Andin tidak mau bertemu dengan monster itu lagi, sudah cukup tadi saja. Andin lelah jika harus berlari menghindarinya lagi. Tapi Andin belum melihat tanda-tanda kedatangan monster itu, mengapa Afsan berkata bahwa monster itu mendekat kearah mereka.


Disaat itu juga, Afsan mengangkat busurnya mengambil satu anak panah dan mengarahkan ke semak-semak yang lebat. Andin yang melihat itu, menyadari bahwa Afsan sedang tidak bercanda.


Anak panah itu sudah siap diluncurkan ke target, semak-semak yang tadinya diam sekarang semuanya mulai bergoyang. Tak lama dari itu, muncul lah monster mengerikan dengan lidah panjang menjulur kedepan. Monster itu menatap kearah mereka buas dan mulai berlari menuju mereka. Tentu saja Afsan tak akan diam.


"Waarrgghhhhh"


"Sial!"


Kata Afsan sambil menjalankan kudanya kembali. Bergegas pergi menjauh dari monster yang terbaring lemah itu.


"Ada apa?"


Tanya Andin menatap Afsan lagi.

__ADS_1


"Lihatlah kebelakang"


Sahut Afsan padanya. Andin yang mendengar itu pun segera melihat kebelakang. Dan dikejutkan dengan sudah banyak monster-monster disana yang tengah menatap monster yang Afsan panah tadi.


Jumlahnya kali ini juga cukup banyak. Pantas saja Afsan langsung melajukan kudanya, karna Afsan sudah tahu akan banyak monster yang berdatangan disana.


Andin bernafas lega, untung saja tepat waktu. Jadi tidak, mereka harus berurusan dengan monster itu lagi. Tapi bukan berarti Andin tidak akan bertemu monster itu lagi. Mungkin saja ada monster itu didepan sana yang tengah menunggunya.


.


Setelah lama berada di perjalanan, akhirnya mereka pun sampai. Kini, Andin dan Afsan berada di depan pohoh besar dengan daun lebat menjuntai ke tanah. Pohon tinggi dan besar itu sepintas terlihat biasa saja. Namun itu membuat Andin kagum, terlihat indah walaupun sederhana.


Afsan perlahan masuk kedalam daun-daun menjuntai itu. Ternyata itu bukan sekedar pohon biasa, terdapat jalan yang lumayan besar didalamnya. Afsan menjalankan kudanya kembali, Andin sangat menyukai tempat ini. Sangat damai dan nyaman, apalagi disetiap jalan itu terdapat banyak bunga warna-warni yang indah.


"Lihatlah kedepan"


Ucap Afsan sambil menatap wajah Andin. Andin pun langsung menoleh ke depan sana. Dan seketika menatap kagum atas apa yang dilihatnya.


Sebuah tempat yang indah berada di depan mata Andin sekarang. Langit biru yang cerah, pohon-pohon besar berwarna hijau yang indah, rumah yang memiliki bentuk yang berbeda-beda, gunung-gunung yang mengelilingi, dan yang paling membuat Andin tidak percaya adalah. Banyak manusia seperti dirinya.


Semuanya terlihat normal seperti biasanya, Andin menyukai pemandangan ini. Perlahan Andin turun dari pangkuan Afsan, Andin ingin lebih dekat melihat semua itu. Afsan juga ikut turun dari kudanya, dan berjalan beriringan bersama Andin yang terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


.


Sakay


__ADS_2