
Happy Reading -
Perjalanan mereka bertiga untuk pergi menuju Lembah Okura, kini telah menghabiskan waktu sebanyak satu harian penuh. Dengan waktu yang lama dan rasa lelah juga setelah seharian berada diatas kuda, lebih baik jika merasa beristirahat sejenak di Kota Karegare. Kota yang baru saja mereka menjejakkan kaki disana.
Afsan yang sedikit tahu tentang Antlasia, dengan cepat menuntun mereka semua untuk mencari tempat beristirahat, juga sebuah tempat untuk mengisikan perut mereka yang lapar. Andin dengan tubuhnya yang sudah sangat pegal, dengan perlahan mengikuti langkah Afsan dari belakang. Sepertinya kuda yang ditunggangi mereka masing-masing juga sama akan lelahnya. Terlihat dari langkahnya yang melambat saat berjalan.
"Sekarang kita ingin menuju kemana Afsan?"
Seru Sena yang terlihat dengan wajah letihnya.
"Mencari kedai"
Sahut Afsan.
Andin sedikit tenang mendengar itu, ia pikir jika Afsan akan terus melanjutkan perjalanan jauh ini. Mungkin saja dibalik wajah datarnya, Afsan juga merasakan sama lelahnya dengan mereka.
Terdengar ramai suara orang saling sahut menyahut dari depan sana. Seketika senyum terbentuk diwajah Andin. Ia tahu jika dibalik pohon besar itu adalah Kota Karegare yang dimaksud Afsan. Kota yang dipenuhi akan penduduk, bukan hanya pohon-pohon besar yang mengelilingi sekitar.
"Akhirnya"
Pekik Sena menatap para penduduk kota yang tengah melakukan aktivitasnya.
Kota itu tidak begitu besar, namun penduduk disana lumayan banyak. Dengan sergap mereka turun dari kudanya, dan berjalan untuk berbaur dengan kota itu dan mencari tempat beristirahat. Andin yang berada dibarisan paling belakang, dengan santainya melihat kegiatan para penduduk yang tengah memperjual belikan dagangannya.
Disepanjang jalan, secarik senyum kecil menghiasi wajah Andin. Ia melihat kota ini begitu damai, dan teringat seperti Selter dulu. Tanpa Andin sadari, ternyata ia sudah tertinggal oleh Afsan dan Sena. Andin yang menyadari jika ia tertinggal oleh yang lain, langsung bingung dengan raut wajah yang sedikit khawatir.
"Afsan..Sena.."
Lirih Andin dengan matanya yang mendelik kesan kemari mencari teman-temannya.
Dengan para penduduk yang juga sibuk berlalu-lalang, Andin menjadi sulit untuk mencari temannya. Andin bingung, ia takut apabila ia akan melangkah kejalan yang salah. Apakan Andin akan terus berdiam disitu saja, menunggu Afsan dan Sena menjemput dirinya. Sampai akhirnya...
Brughh!
Tubuh Andin terhuyung kedepan karena mendapatkan tabrakan dari arah belakang. Andin terjatuh, membuat orang sekitar seketika langsung memandangnya penasaran.
__ADS_1
"Awhhh"
Rintih Andin merasakan nyeri di dengkulnya.
Dengan dahi yang mengerut, Andin menengok kebelakang melihat siapa orang yang telah menabraknya. Dan Andin melihat disana jika ada seorang lelaki yang tepat berdiri dibelakang Andin sambil menatapnya dengan wajah tanpa dosa.
"Kau!"
Pekik Andin menatap lelaki itu. Ia yakin jika dia memang orang yang telah menabraknya.
"Huh, Apa?"
Balas lelaki itu dengan wajahnya yang mulai takut akan penduduk sekitar yang mulai memperhatikan gerak geriknya.
"Andin"
Kata Afsan yang melihat Andin tengah tersungkur di sana.
Afsan langsung bergegas berlari menuju Andin. Andin yang melihat itu terdiam sejenak, dan merasa lega karena Afsan mengetahui jika ia tertinggal jauh dari mereka.
"Ada apa?"
"Aku tidak apa-apa, hanya kecelakaan kecil saja"
Kata Andin sambil melirik lelaki tadi.
Afsan yang melihat pandangan Andin itu, langsung mengikuti arah matanya. Dan melihat seorang lelaki yang berada tak jauh disana. Lelaki itu menjadi sedikit takut melihat tatapan tajam Afsan padanya. Lelaki itu merasa seperti ia sudah membunuh orang saja.
"Kau, apa yang lakukan pada Andin?"
Cetus Afsan.
Lelaki itu merasa keringat dingin mulai mengucur di dahinya. Tatapan Afsan sukses membuat lelaki itu takut padanya. Benar, memang tatapan tajam Afsan benar-benar menyeramkan.
"Maaf, aku tak sengaja telah menabrak wanita itu"
Seru lelaki tadi.
"Ya, mungkin karena aku juga yang berdiam diri ditengah jalan"
__ADS_1
Andin menengahi itu, lalu menatap penduduk sekitar agar tidak menimbulkan kesalah pahaman.
"Syukurlah tidak apa-apa"
Kata salah satu penduduk, lalu satu-persatu pun mulai pergi dari sana.
"Andin, mengapa bisa begini. Lagipula mengapa kau tiba-tiba menghilang dari barisan?"
Pekik Sena keheranan.
"Maaf, aku terlalu fokus untuk melihat keadaan sekitar"
Sahut Andin.
Afsan membantu Andin berdiri dengan sergap, sedangkan Sena tengah memegangi kuda Andin. Afsan sadar jika Andin menghilang dari barisan saat ia baru saja sampai didepan sebuah kedai. Dan tanpa berlama lagi mereka berdua pun segera mencari Andin, dan untungnya Andin tidak beranjak pergi jauh dari sana. Jadi Afsan bisa dengan mudah menemukan Andin, dan ternyata itu lebih mudah lagi. Karena Andin telah menjadi pusat perhatian orang sekitar setelah ia terjatuh.
"Apakah kau bisa berjalan?"
"Iya, lagipula hanya sedikit goresan saja"
Entahlah, apakah hanya Andin yang merasa jika perlakuan Afsan sedikit berlebihan padanya.
"Ayo Sena"
Cetus Afsan pada Sena yang tengah memandangi lelaki tadi tak suka.
Lalu merekapun segera pergi dari sana, Afsan dengan telaten menuntun Andin dengan sabar padahal Andin juga masih bisa berjalan tegak sendirian. Lelaki itu pun bernafas lega melihat mereka bertiga pergi dari sana. Namun tidak dengan Sena, ia tiba-tiba berhenti dan berbalik menuju lelaki tadi.
"Ikutlah, jika ada apa-apa dengan Andin kau harus tanggung jawab!"
Kata Sena menarik lelaki itu mengikuti langkahnya.
Baru saja bisa bernafas lega, malah dibuat sesak karena takut apa yang akan terjadi dengan dirinya lagi. Dengan terpaksa akhirnya Hedof mengikuti mereka semua.
Disisi lain, Tessa tengah terbaring lemah diatas ranjangnya lagi. Ia tidak berhasil untuk melarikan diri dari Kastil misterius itu karena ketahuan oleh Dailey. Dan akhirnya Tessa dibawa kembali kedalam kamarnya. Entah bagaimana Dailey bisa mengetahui dirinya berada, padahal terakhir Tessa lihat ia masih berada di ruangan seram itu.
Namun walaupun begitu Tessa menjadi tahu, makhluk apa yang tinggal disekeliling kastil itu. Itu adalah monster, namun dengan fisik yang lebih besar dan lebih menyeramkan. Tapi Tessa masih tetap pada pendiriannya, ia akan terus pergi dari kastil itu, bagaimana pun caranya.
.
__ADS_1
Sakay