
Happy Reading -
Andin perlahan melangkahkan kakinya keluar dari gua. Angin malam berhembus kencang menabrak kulitnya, dan kegelapan mulai menunjukkan dirinya. Seakan mempersilahkan Andin untuk melihat kehancuran dunia ini. Andin berjalan mengikuti yang lainnya dengan cepat, karena Andin berjalan paling belakang.
Mereka berjalan mengendap-endap bersama dengan berbaris. Kini Andin berada di barisan tengah, tepatnya berada dibelakang Afsan. Sampai saat ini, mereka belum melihat monster disekelilingnya. Namun walaupun begitu, tentu itu bukan membuat mereka bernafas lega. Bau amis darah pun tak luput dari penciuman mereka.
Akhirnya mereka semua sampai disebuah gang yang berhimpitan dengan rumah penduduk yang lainnya. Tempat itu cocok untuk beristirahat sejenak, karena tempatnya yang tertutup dan cukup sempit.
"Baiklah, sekarang aku akan membagikan kelompok untuk menjalankan tugas"
Kata Afsan menatap wajah orang-orang didepannya bergantian.
"Untuk pergi ke gudang penyimpanan di balaik desa. Rico dan Roci pergilah untuk mengambil selimut disana"
Perintah Afsan pada dua anak kembar didepannya. Pantas saja saat Andin melihatnya, mereka tampak sama.
"Untuk yang mengambil makanan. Aku akan memilih Bio"
Tambah Afsan yang dibalas anggukan dari mereka.
"Baiklah, kami pergi dulu. Kita akan bertemu lagi ditempat ini"
Seru Bio sambil perlahan melangkahkan kakinya pergi bersama Rico dan Roci juga.
Ketiga lelaki itu pun segera berlari pergi, sambil terus mengawasi sekelilingnya. Setelah melihat mereka yang perlahan hilang dari pandangan, Andin menolehkan pandangannya menatap Afsan yang ternyata juga menatap dirinya.
"Dan kau ikut denganku"
Ujar Afsan pada Andin. Lalu tanpa banyak bicara lagi, Afsan langsung melangkah pergi.
Andin pun langsung mengikuti Afsan yang sudah berjalan lumayan jauh didepan. Mereka berdua yang nanti akan pergi mencari kayu bakar, karena hanya itulah yang tersisa sebagai misi malam ini.
Mereka berdua segera melangkahkan kakinya menuju hutan yang berada cukup jauh didepan sana. Misi ini harus diselesaikan dengan cepat, karena bukan hanya mencari kayu nya yang lama. Tapi juga keadaan penduduk yang kedinginan didalam gua.
Akhirnya setelah berjalan cukup lama. Mereka berdua sampai di depan hutan yang cukup lebat dan luas. Sebenarnya mereka bisa mengambil kayu di rumah potongan kayu, tapi letak rumah itu sangat jauh. Bahkan berada ditengah-tengah hutan sana. Jadi, Afsan akan mengambil ranting ataupun kayu yang sudah ada saja.
"Kau cari saja ranting-ranting yang berjatuhan di tanah"
"Baiklah"
Setelah mendapatkan perintah dari Afsan. Andin pun segera melakukan apa yang disuruhnya. Andin hanya akan mengambil ranting pohon yang sudah berjatuhan saja. Lagipula sepertinya itu tugas yang gampang untuk dirinya.
"Sepertinya ini sudah cukup"
__ADS_1
Kata Andin saat menatap ranting pohon yang sudah dikumpulkan oleh dirinya.
"Mungkin satu ranting lagi tidak masalah"
Seru Andin sambil melangkahkan kakinya menuju sebuah ranting yang berada di ujung sana. Namun saat Andin hendak mengambil ranting itu, tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang ingin menghantam kepalanya.
"Awhhhh"
Seru Andin sambil memposisikan tangannya seperti hendak menahan sesuatu yang ingin menghantam kepalanya itu.
Tapi setelah Andin merasakan tidak terjadi apa-apa pada kepalanya. Andin pun segera menengok kebelakang dan mengeceknya. Dan saat itulah Andin membulatkan matanya, melihat apa yang terjadi pada sesuatu didepannya.
"Apa ini?"
Kata Andin menatap sebuah ranting yang hendak terjatuh, namun ranting itu melayang seperti tertahan sesuatu.
Andin mendekat ke arah ranting itu, dengan tangan yang terjulur kedepan. Tapi setelah diperhatiin, sepertinya ranting itu mengikuti gerakan tangannya. Dan saat Andin mencobanya pun, itu benar adanya. Ranting itu benar-benar mengikuti gerakan tangannya.
"Apa ini?"
Gumam Andin yang bingung akan apa yang terjadi saat ini.
Andin masih tidak percaya atas apa yang dilihatnya. Apa benar jika ranting itu mengikuti gerakan tangannya, dan tidak jadi jatuh karena ditahan olehnya?
"Sedang apa kau?"
Tanya Afsan yang mengagetkan Andin. Andin yang mendapat kejutan seperti itu pun, langsung menatap kearah Afsan.
"Cepatlah, kita harus kembali kedalam gua"
Tambah Afsan sambil berlalu pergi meninggalkan Andin lagi.
Andin langsung merapihkan susunan rantingnya yang tergeletak di tanah tadi. Lalu tak sengaja melihat ranting pohon yang mengikuti gerakan tangannya yang sudah terjatuh ke tanah. Andin masih dibuat bingung olehnya, apakah memang benar jika ranting itu digerakkan olehnya?
.
.
.
"Cepatlah Rico, lebih cepat lagi"
Teriak Roci pada Rico yang berada jauh dibelakang sana.
Mereka bertiga sekarang sedang berlarian kembali menuju gang. Namun tanpa mereka sadari ternyata ada monster di sekeliling balai desa. Dan sialnya sekarang monster itu tengah mengejar mereka semua.
"Ayo cepat masuk kedalam gang"
__ADS_1
Ujar Bio menatap gang yang sedikit lagi akan digapainya.
Satu-persatu dari mereka pun memasuki gang itu, dan mengambil pasokan udara yang banyak.
Monster yang mengejar mereka itu pun, tidak bisa menemukan mereka. Hanya terdengar suara langkah kaki yang mulai terdengar menjauh, sepertinya monster itu kembali ketempatnya semula lagi.
"Benar-benar seru"
Ujar Rico sambil tertawa pelan. Dan tentunya mengundang lirikan aneh dari kedua temannya itu.
"Diamlah, bahkan kau yang lari paling lambat tadi"
Cetus Roci melirik Rico. Bisa-bisanya dia bilang seru, bahkan tadi dia ingin di terkam oleh monster itu.
Tak lama dari itu pun, Afsan dan Andin datang. Afsan melihat teman-teman itu yang dipenuhi dengan keringat di dahi mereka masing-masing. Seperti habis dikejar oleh sesuatu, dan Afsan tahu apa itu. Pasti mereka habis di kejar-kejar monster.
"Lama sekali kalian"
Kata Bio pada dua orang didepannya itu.
"Kita habis dikejar oleh monster tadi"
Seru Roci menambahi.
"Aku tahu itu, bahkan terlihat diwajah ketakutan kalian"
Jawab Afsan seenaknya.
"Ck, aku kan tidak mempunyai senjata. Lagipula bawaan ini cukup banyak"
Pekik Bio sambil memperlihatkan sebuah kantung yang berisikan makanan itu.
"Akupun harus menahan berat membawa selimut"
Ujar Rico yang juga membawa kantung yang cukup besar ditangannya. Yang juga sama di miliki Roci.
"Sudahlah, ayo cepat kembali kedalam gua"
Cetus Andin sambil berjalan pergi meninggalkan mereka semua. Andin sangat malas jika berlama-lama disini, apalagi dengan angin malam yang dingin ini.
"Ayolah kita pulang"
Seru Rico sambil mengikuti langkah Andin. Lalu merekapun segera keluar dari tempat itu, dan berjalan kembali menuju gua.
Dengan masing-masing barang yang dibawa mereka, dan dengan susah payah. Sepertinya membuahkan hasil untuk semua penduduk. Karena malam ini sepertinya cukup untuk mereka tidak kedinginan lagi.
Dan Andin yang masih dipenuhi bayangan tentang ranting tadi.
__ADS_1
.
Sakay.