Putri Di Negri Afhanda

Putri Di Negri Afhanda
19- Mission Impossible


__ADS_3


Happy Reading -



Disisi lain, ada sekelompok orang yang sedang menikmati waktunya dengan berbicara santai dan sesekali tertawa riang. Siapa lagi kalau bukan, Rico, Roci, dan Andin. Yang masih berada ditempatnya sedang bercanda dan tertawa. Nampaknya, mereka cepat untuk akrab.


"Andin, kau dari negri mana?"


Tanya Rico yang penasaran dengan Andin. Pasalnya dia masih begitu asing melihat wajah Andin yang baru saja dilihatnya kemarin.


Andin yang mendengar itu pun, langsung menghentikan aksinya yang sedang mengunyah roti. Andin bingung harus menjawab apa kali ini, apakah Andin memberitahunya seperti dia memberitahu Afsan di malam itu?


"aku berasal-"


"Andin"


Sebelum Andin menyelesaikan ucapannya itu. Tiba-tiba ada Seseorang yang memanggil namanya. Andin yang merasa dipanggil namanya itu pun, langsung menengok kearah belakang untuk mencari asal suara.


Mata Andin menangkap kesebuah objek dua orang lelaki yang sedang berjalan menuju nya. Mereka berdua adalah Afsan dan Bio yang baru saja menerima panggilan dari Renlod. Tepatnya panggilan untuk memberitahu sebuah misi.


Namun, Afsan tidak melakukannya bersama Bio ataupun yang lainnya. Tapi hanya berdua dengan Andin saja. Afsan pun tidak mengerti mengapa dia harus bersama dengan Andin, dan Renlod tidak menjelaskan alasannya. Sekarang Afsan hanya bisa menjalankan misi itu saja. Misi yang cukup mustahil untuk dilakukannya.


Mengapa mustahil? Itu karena, mereka disuruh untuk mencari dimana Emil. Sang penyihir sakti, yang sudah lama menghilang entah kemana. Dan tadi, Renlod memberitahunya jika Emil berada di Antlasia. Negri besar yang sangat jauh diujung sana.


"Andin"


Seru Afsan saat sudah berada tepat di hadapan Andin. Andin pun sedikit mendongak menatap Afsan yang berdiri di depannya.


"Iya?"


Balas Andin menatap Afsan.


"Bersiaplah. Sedikit lagi kita berdua akan pergi menjalankan misi dari Renlod"


Ujar Afsan tegas.


Andin yang mendengar itu pun langsung menyeritkan alisnya. Andin tidak mengerti apa yang baru saja Afsan ucapkan. Misi? Misi apa? Mengapa dia tidak diberi tahu sebelumnya.


"Misi? Misi apa?"


Tanya Andin ingin tahu. Dia benar-benar bingung dengan apa yang Afsan ucapkan tadi.


"Kau dan aku, di tugaskan pergi ke Antlasia untuk mencari seseorang"


"Hanya kita berdua?"

__ADS_1


"Iya, dan sekarang kau bersiaplah"


Afsan melangkahkan kakinya pergi setelah memberi tahu Andin misi apa untuk mereka kali ini. Andin hanya mengangguk angguk paham sambil menatap kepergian Afsan. Walaupun sebenarnya Andin masih belum paham dengan apa yang Afsan ucapkan.


"Bersiaplah Andin"


Ujar Roci menatap Andin tersenyum. Andin pun membalasnya dengan anggukan sambil tersenyum, lalu melangkah pergi untuk segera bersiap.


Andin merapih kan penampilannya dengan cepat, seperti rambut lurusnya yang di gerai indah. Juga membasuh wajahnya yang terlihat kusam dengan air minum di gelasnya. Tak lupa Andin juga memakai sepatunya kembali. Dan setelah merasa sudah siap, Andin pun melangkah pergi menuju Afsan yang pasti sudah menunggunya di dekat gerbang.


Benar saja, disana sudah ada Afsan dan yang lainnya. Mereka menunggu kehadiran Andin disana. Andin yang melihat itu pun, tersenyum hangat menatap mereka semua.


"Aku siap"


Kata Andin pada Afsan yang sudah terlihat gagah dengan jubah berwarna hitam dengan penutup kepala yang menutupi kepalanya.


Afsan pun hanya melirik sekilas tanpa membalas ucapan Andin tadi. Lalu menaiki kuda hitamnya sendiri.


"Bawalah ini"


Ujar Bio sambil menyodorkan benda ke Andin. Andin pun tahu pasti benda apa yang Bio pengang itu. Sebuah pedang.


Bio pun yang mengerti raut wajah bingung Andin segera memberitahu nya.


"Untuk berjaga jaga, lagi pula tak selamanya Afsan bisa menjagamu disana"


Benar juga apa yang baru saja Bio ucap tadi. Tak selamanya juga Afsan bisa menjaganya dan melindunginya di perjalanan nanti. Apalagi, hanya mereka berdua yang akan menjalankan misi. Andin tak mau membebani Afsan nanti. Jadi Andin bertekad untuk menjaga dirinya sendiri.


"Terima kasih"


Balas Andin setelah membawa pedang itu ke tangannya.


Pedang yang terbungkus rapih dengan sarungnya. Namun jika di keluarkan, akan terlihat bagaimana tajamannya.


Andin menaruh pedang kesamping, lalu segera melangkah maju menuju ke sebuah kuda berwana coklat di sebelah Afsan. Dan tanpa berlama lagi, Andin langsung menaikinya.


"Pakailah ini"


Afsan melemparkan sebuah kain berwarna hitam pada Andin. Andin menatap Afsan bingung, namun Afsan memilih untuk diam sambil menatap lurus kedepan.


Andin mengambil kain itu, lalu membukanya. Ternyata kain itu adalah sebuah jubah yang sama seperti Afsan kenakan. Andin tersenyum menatap jubah itu, lalu melirik ke arah Afsan.


"Terima kasih"


Seru Andin setelah mengenakan jubah yang terlihat kebesaran di badannya itu. Tapi walaupun begitu, Andin sangat senang akan hal yang barusan Afsan lakukan padanya.


"Baiklah, gerbang akan segera dibuka"

__ADS_1


Kata Roci sambil mendorong batu besar itu bersama beberapa penduduk yang membantunya. Dan dengan perlahan, batu itu membuka celah.


Dada Andin bergemuruh. Dia bisa merasakan ke gelisahan di dalam sana saat menatap kearah depan yang sepi tidak berpenghuni sama sekali. Sedangkan Atsan dia hanya bersikap biasa saja. Tanpa ada ke khawatiran atau pun ketakutan.


"Berhati-hati lah kalian"


Ujar para penduduk dan lainnya pada mereka berdua.


"Ayo, jalan"


Pekik Afsan menatap Andin sebentar. Dan setelah itu pun, Afsan langsung menggerak kan kudanya melesat dengan cepat.


Andin yang melihat itu pun, juga segera menyusulnya. Andin mengikuti Afsan yang berada tak jauh di depannya. Disana, Andin yang sedang fokus itu dangan tak sengaja pecah. Mata Andin menangkap ke berbagai penjuru di sekitarnya. Dan di saat itu pula, Andin merasakan matanya yang memanas.


Andin melihat tubuh penduduk yang berada di tanah dengan darah di sekitarnya. Bahkan, potongan tubuh para penduduk itu, juga berceceran dimana-mana. Andin benar-benar tak kuasa melihat itu semua. Apalagi, jika mengingat teriakan mereka kemarin.


Semalam, Andin hanya mencium bau darah. Tanpa melihat jasad itu. Namun sekarang, Andin dapat melihatnya.


"Andin, fokuslah"


Ujar Afsan membuyarkan lamunan Andin.


"Tetap lah di sampingku"


Tambah Afsan lagi yang bersejejer dengan Andin.


Andin melirik Afsan dan menatapnya dalam diam. Lalu sedetik kemudian, Andin langsung tersadar. Dan mulai memfokuskan dirinya lagi untuk misi kali ini. Afsan terus men-sejajarkan dirinya dengan Andin di sampingnya. Karena sekarang, dia juga harus mejaga Andin dalam misi ini.


.



Andin



Andin Monata Abigail



Afsan



Afsan Leuster Zeiss


.

__ADS_1


Sakay.


__ADS_2