
Happy Reading -
Deru suara langkah kaki yang tergesa-gesa memenuhi gema di segala arah. Langkah itu benar-benar cepat, seakan sedang melarikan diri dari sesuatu yang sedang mengincarnya. Tessa berlari turun di tangga melingkar yang sedikit licin dan curam. Ia tidak perduli lagi jika ia akan terjatuh, sekarang Tessa hanya ingin pergi sejauh mungkin dari tempat asing ini.
Tessa benar-benar takut, ia ingin pergi sesegera mungkin sekarang. Entah apa yang terjadi dengannya nanti, yang penting Tessa harus berhasil keluar dari kastil aneh ini. Tessa berlari secepat mungkin, ia yakin jika yang dilihatnya itu benar. Dailey bukanlah manusia biasa, dia adalah iblis.
Sebenarnya Tessa memang sudah menaruh curiga pada Dailey, Tessa juga pernah memergokinya di tengah malam. Saat Tessa tidak bisa tertidur dan keluar, ia dikejutkan dengan Dailey yang melompat dari lantai dua kebawah tanpa memakai pelindung apa-apa, bahkan ia memasang wajah yang datar tanpa ekspresi.
Dan kecurigaannya itu semakin kuat saat Tessa mengikuti Dailey kesebuah ruangan yang berada jauh dilantai atas paling pojok. Ruangan itu sangat lembab, misterius, dan pastinya menyeramkan. Ruangan yang dipenuhi tanaman merambat, dan juga memiliki aroma yang tidak sedap.
Tessa terus mengikuti lorong itu sampai akhirnya berhenti disebuah pintu besar yang berada tepat diujung depan sana. Pastinya Dailey ada didalam ruangan itu, dengan ragu dan sedikit keberanian. Tessa akhirnya mencoba untuk masuk kedalam. Namun tidak, belum sempat melangkah ia sudah dibuat diam oleh apa yang baru saja ia lihat didepannya.
"Dailey, Dailey"
Lirih suara besar yang menggema di seluruh ruangan besar itu.
"Ya, aku disini? ada apa kau memanggilku?"
Balas Dailey membuat makhluk besar yang sangat seram ini membalikan badannya.
Tessa meringis melihatnya, entah apa lagi jenis makhluk itu. Yang jelas dia sangat berbeda, bisanya hanya monster raksasa menyeramkan saja. Namun ini berbeda, bahkan berkali-kali lipat lebih menyeramkan. Makhluk ini memiliki tubuh yang hitam dan tak sedikit garis-garis merah menyala di sekujur tubuhnya. Juga memiliki tanduk besar runcing yang menjulang keatas. Memiliki mata merah yang menyala, juga saat berbicara mengeluarkan asap dari mulutnya.
"Apakah kau sudah mendapatkannya?"
__ADS_1
Ucap makhluk itu mendekatkan wajahnya kehadapan Dailey.
"Belum"
Singkat Dailey menatap kedua mata yang bersinar merah itu diam.
"Kau ingin menghancurkannya Dailey. itulah tujuanmu, Dailey!"
Seru makhluk itu semakin membuat Dailey terdiam menatapnya. Seakan mata merah itu menarik Dailey agar mengikuti perintahnya.
"Iya, itulah tujuanku"
Kata Dailey bergetar, tangannya mengepal kuat bibirnya bergetar menahan amarahnya yang ingin membuncah keluar.
Tessa menutup mulutnya dengan tangan kanannya, ia tidak tahan lagi. Atmosfir disini benar-benar berbeda, tekanannya sangat terasa berat dan hawa yang tidak mengenakkan.
Pinta sang makhluk pada Dailey. Sontak Dailey tersadar dari lamunannya, dan menatap makhluk itu datar.
"Makanlah rusa itu dulu, malam kau bisa bebas memakan apa yang kau mau"
Sahut Dailey menyerahkan tiga rusa dihadapan makhluk itu. Dan Tessa baru sadar jika sedari tadi Dailey membawa rusa bersamanya.
Makhluk itu menggeram, lalu sedetik kemudian.
"Slurrhhh"
Makhluk itu mengisap sang rusa, ketiga rusa itu pun bergetar, dengan wajahnya yang tegang dan suara yang tidak bisa keluar.
__ADS_1
Sampai akhirnya, tak butuh waktu lama rusa-rusa itu mati mengenaskan dengan tubuhnya yang hanya sisa tulang tergeletak di lantai.
Lutut Tessa merasa lemas, ia takut. Sekuat tenaga Tessa menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara sama sekali. Sudah tidak ada alasan lagi untuk Tessa berdiri disini, ia harus pergi sesegera mungkin dari tempat ini. Tessa pun, mulai melangkah pergi.
"Brughh"
Tessa terjatuh.
"Awhhh, sshhh"
Ringis Tessa melihat gaunnya yang kotor karena terjatuh dilantai. Lantai ini benar-benar kotor dan licin.
Suara langkah kaki berjalan dengan perlahan entah menuju kemana. Tessa yang mendengar itu pun langsung membulatkan matanya. Ia harus kembali berlari, jika tidak sudah pasti Dailey akan menangkap dirinya disini. Tessa tidak mau, ia sudah takut duluan jika dirinya menjadi santapan makhluk seram itu.
Oleh karena itu, ia harus tetap berlari. Entah sejauh mana ia harus melangkah untuk keluar dari tempat ini. Tapi yang pasti Tessa harus pergi.
.
Sebuah kota besar yang terlihat sangat hidup itu membuat pandangan ketiga orang disana terdiam kagum menatapnya. Andin tersenyum kagum, kota didepan matanya itu benar-benar indah.
"Selamat datang di kota Gelsero, seperti banyak orang yang sibuk"
Kata Sena melangkah maju diantara orang-orang yang sedang beraktivitas itu.
Mereka serempak turun dari kudanya. Dalam hati Andin bersenandung ria, setidaknya mingkin mereka aman berada di negri ini. Afsan kembali mengingat masa lalu ia bersama ayahnya. Ya, sepertinya banyak perubahan dari kota ini.
.
__ADS_1
Sakay.