Putri Di Negri Afhanda

Putri Di Negri Afhanda
12- Awal semuanya


__ADS_3


Happy Reading -



Andin terus menarik busurnya dan terus mencetak angka yang lumayan sempurna. Andin merasa senang melakukan hal itu, karena ini pertama kalinya dia memegang sebuah busur panah. Dan untuk yang pertama kalinya juga, ia terus mencetak angka yang lumayan sempurna.


Andin seakan sudah terbiasa dengan hal itu, walaupun sebenarnya ini adalah pertama kali baginya. Bahkan memegang busur pun ia sedikit kesulitan.


"Kau sangat hebat, Andin"


Seru Renlod yang sedari tadi memperhatikan Andin. Renlod terpukau dengan Andin, karena sejauh ini Andin terus mencetak angka yang lumayan sempurna.


"Terima kasih"


Sahut Andin mengentikan aksinya, lalu berjalan kesebuah akar besar dibawah pohon yang rindang.


Tessa dan Bio sepertinya juga masih menikmati waktunya. Sedangkan Afsan menghilang entah kemana. Andin mengedarkan pandangannya keberbagai penjuru, untuk mencari keberadaan Afsan. Namun, Andin tidak dapat menemukannya.


"Ada apa Andin?"


Tanya Renlod yang melihat Andin seperti sedang mencari sesuatu.


"Dimana Afsan, sepertinya dia tidak ada disini"


Kata Andin sambil terus mencari.


Renlod yang mendengar itu pun tertawa kecil, yang membuat Andin menatapnya aneh. Lalu, Renlod memberikan sebuah petunjuk yang mengarah keatas pohon rindang itu. Andin yang mengerti pun langsung menatap keatas.


"Ada apa?"


Ucap Andin yang merasa tidak menemukan apa-apa diatas sana. Andin hanya melihat daun-daun yang lebar dan lebat.


"Perhatikanlah"


Tambah Renlod lagi.


Andin pun terus memperhatikannya, lalu tak lama dari itu. Andin melihat sebuah benda seperti busur diatas sana. Busur yang terletak disebuah batang pohon. Dan Andin juga melihat seperti ada seseorang yang tertidur disebuah batang besar, Andin tahu pasti orang itu. Dia adalah Afsan.


"Afsan?"


Ujar Andin menundukkan pandangannya.


"Ya, benar sekali"


Balas Renlod.


Renlod dan Bio sudah biasa melihat Afsan seperti itu saat mereka pergi ke taman bunga ini. Pohon ini biasa dipakai Afsan untuk beristirahat dan untuk menghilangkan penat saat Bio mengunjungi tempat ini.

__ADS_1


Andin yang masih penasaran dengan Afsan itu pun malah terus memperhatikannya. Andin merasa aneh dengan Afsan, mengapa dia malah tertidur diatas sana. Lagipula pohon ini juga lumayan tinggi, bagaimana cara dia menaikinya?


"Baiklah, mari kita berkeliling lagi"


Ucap Renlod bangkit dari duduknya, dan berjalan mendekat kearah kuda miliknya.


Andin pun juga ikut bangkit dan mengikuti langkah Renlod. Tessa dan Bio pun juga sudah selesai menikmati keindahan taman bunga itu.


"Sekarang waktunya berburu"


Ujar Bio antusias.


Merekapun langsung menaiki kudanya masing-masing. Sedangkan Andin masih terdiam karena memikirkan Afsan yang masih tertidur diatas sana.


"Tunggu, bukankah Afsan masih tertidur"


Kata Andin pada mereka semua. Yang ditanyai itu pun hanya tertawa. Membuat Andin menatap mereka semua aneh.


"Lihatlah dibelakangmu"


Kata Bio memberitahu, Andin pun segera menengok kebelakang.


Ternyata dibelakangnya sudah ada Afsan yang sudah siap menaiki kudanya. Andin menatap Afsan bingung, bukannya dia masih tertidur diatas sana. Tapi mengapa sudah ada didekatnya, apakah tadi dia tidak benar-benar tertidur.


"Cepatlah naik ke kudamu Andin"


Ujar Tessa membuyarkan lamunan Andin, lalu Andin pun segera menaiki kudanya.


"Aku menemukanmu"


Seseorang berkata dibalik lebatnya pohon-pohon. Mata yang tajam itu tengah memerhatikan seseorang dari jauh.


.


Kuda yang sedang berlari cepat itu, tiba-tiba mendadak berhenti. Mereka serempak memberhentikan kudanya saat Renlod yang berada didepan itu berhenti seketika. Dan tentunya mereka juga ikutan berhenti.


Renlod memperhatikan sebuah jalan sepi didepannya itu, sambil mendengarkan seperti ada suara langkah yang akan datang. Tessa dan Andin dengan muka penasarannya, sedangkan Afsan dan Bio hanya bersikap biasa namun tetap waspada.


"Diam lah sebentar"


Ucap Renlod tetap fokus melihat depan. Renlod merasakan perasaan yang tidak baik saat ini.


"Andin, ada apa ini?"


Tanya Tessa membisik, namun Andin dapat mendengarnya. Andin hanya mengangkat bahunya tak tahu seraya menggelengkan kepala.


"Waspadalah"


Kata Bio singkat.

__ADS_1


Mereka semua waspada sambil terus melihat sekelilingnya. Andin juga terus menengok kearah belakang. Karena dia berada dibarisan paling belakang bersama Tessa. Kalau Bio dan Afsan berada ditengah, dan Renlod sendiri memimpin barisan.


Lama mereka terdiam, namun tidak ada kemunculan monster atau makhluk lainnya. Mungkin saja monster itu sudah pergi dan tidak jadi kesini.


"Sepertinya monster itu sudah menjauh"


Ucap Bio memberi tahu, walaupun dirinya sendiri masih belum yakin.


"Yasudah, mari kita lanjutkan lagi"


Seru Renlod menggerakkan kudanya. Namun mereka semua tidak tahu kalau sedari tadi ada yang memperhatikannya dan menunggu kapan waktu untuk dirinya keluar.


Renlod yang sudah menggerakkan kudanya itu pun seketika berhenti lagi saat mendengar sebuah langkah kaki yang besar mendekat kearah mereka. Andin yang juga mendengar itu pun juga menengok kearah sebelah kiri asal dari suara itu. Dan Andin melihat jika ada monster besar dengan kuping lebar tengah berlari kearah mereka.


"Panah dia"


Ujar Renlod berteriak, Afsan dan Bio pun langsung menghujaninya dengan semua panah yang mereka punya.


"Andin, itu besar banget"


Kata Tessa meringis melihat monster itu.


Andin mendekatkan kudanya ke sebelah Tessa, agar membuatnya tidak begitu panik dan berjaga kalau nanti Tessa pingsan.


Afsan, Bio, dan Renlod tengah fokus dan mengerahkan seluruh panahnya untuk melawan monster itu. Andin tidak mempunyai sebuah busur ataupun panah, karena Andin tidak membawanya. Andin terus menggenggam tangan Tessa dan memperhatikan monster besar itu yang terlihat lebih besar dari yang dia lihat sebelumnya.


Monster dengan kuping yang lebar dan hidung yang panjang terlihat sangat menyeramkan. Apalagi saat monster itu semakin mendekat kearah mereka.


"Dia tidak goyah, bahkan lukanya hanya sedikit"


Ujar Bio memandang monster yang terlihat seperti tidak merasakan sakit saat panah menancap di tubuhnya.


"Gawat, dia semakin mendekat. Dia seperti kebal dengan rasa sakit itu"


Seru Renlod lagi berjalan mundur, panah mereka satu-persatu juga sudah mulai habis. Saat ini, mungkin masih ada kesempatan untuk berlari.


"Mundur semuanya"


Renlod memberi tahu. Semuanya pun berbalik dan mundur dari sana. Karena nyatanya, monster itu sangat sulit untuk dikalahkan.


"Tidakkkkkkkk"


Teriak Andin saat monster itu mendekat kearahnya. Dengan mata tajam monster itu menatap dirinya, dan Andin hanya terdiam memperhatikannya.


"Wargghhhhh"


Monster itu meraung setelah mendapatkan salah satu dari mereka. Kemudian monster itu pun berlari cepat kedalam pohon-pohon yang besar dan lebat.


Jadi, siapakah yang dibawa oleh monster itu??

__ADS_1


.


Sakay.


__ADS_2