Putri Di Negri Afhanda

Putri Di Negri Afhanda
7- Istirahat


__ADS_3


Happy Reading -



Andin terus melangkah kan kakinya, sambil melihat-lihat tempat yang indah ini. Ukiran senyuman di bibir Andin seakan tak mau pudar, Andin merasa sangat nyaman disana. Walaupun Andin baru pertama kali menjejakkan kaki di tempat ini, Andin merasa bahwa dirinya sudah lama dan terbiasa dengan keadaan disana.


"Hei Afsan kemana saja kau"


Seseorang memanggil Afsan. Afsan yang mendengar itu pun langsung menghentikan langkahnya, melihat Afsan berhenti Andin pun juga ikut berhenti.


"Apa urusannya denganmu"


Sahut Afsan melirik sebentar kearah seorang lelaki yang tengah berjalan menujunya. Lalu Afsan melanjutkan langkahnya lagi.


"Kau ini, masih saja begitu"


Ujar lelaki berambut ikal panjang itu berjalan beriringan di samping Afsan. Afsan hanya diam, tanpa ingin membalas ucapan lelaki berambut ikal itu.


"Tunggu sebentar, dia siapa?"


Tambah lelaki itu lagi, yang baru menyadari keberadaan Andin. Afsan menoleh ke arah lelaki itu, lalu mengangkat bahu seakan tak tahu.


"Aku Andin"


Ucap Andin tersenyum hangat, memperkenalkan diri pada lelaki berambut ikal itu.


"Kau cantik sekali"


Ujar lelaki itu, yang terdiam menatap Andin kagum. Andin hanya tersenyum melihat sikap lelaki itu yang terdiam menatapnya. Sampai Andin melihat Afsan sudah berjalan jauh didepan sana, Andin pun segera menyusulnya.


"Oh ya, namaku Bio"


Ucap lelaki itu sambil berjalan di samping Andin.


Disepanjang jalan itu, Andin tersenyum dan tertawa saat Bio menceritakan semua tentang Afsan. Walaupun penampilan Bio itu seram, tapi Bio sangat asik untuk dijadikan teman.

__ADS_1


Afsan berhenti di sebuah rumah besar yang terbuat dari kayu. Rumah kayu itu berada lebih jauh dari pada rumah-rumah yang lainnya. Lebih tepatnya, rumah ini lebih memasuki ke dalam hutan. Tapi yang pasti, hutan ini tidak buruk dari pada hutan yang di luar. Dan di hutan ini, nampaknya juga tidak ada monster menyeramkan.


"Selamat datang di rumah kayu"


Ucap Bio yang baru saja sampai di depan rumah kayu itu bersama Andin. Andin menatap rumah kayu bergaya classic itu, dan terbesit satu kata. Yaitu, indah.


"Ayo kita masuk, Andin"


Ajak Bio masuk ke dalam rumah kayu itu setelah Afsan. Andin melangkahkan kaki memasuki rumah kayu itu perlahan.


Sungguh luar biasa. Di dalam rumah itu ternyata lebih megah dari luarnya. Dengan aksesoris yang cantik dan design interior yang classic, membuat rumah itu membawa aura yang positif. Rumah yang sangat indah, ditambah rumah ini menyatu dengan alam. Membuat kesan asri dan nyaman.


"Akhirnya kau sampai juga Afsan"


Ucap seseorang sedikit berteriak, Afsan menengok kesal pada seseorang yang memanggil namanya itu. Siapa lagi kalau bukan, Renlod.


"Kenapa lama sekali. Apa kau kesenangan karna membawa gadis itu"


Tambah Renlod yang sudah berada tepat didepan wajah Afsan. Renlod tertawa saat melihat wajah suram Afsan menatap dirinya.


"Tutup mulutmu itu"


"Aku harus pergi, aku mau memeriksa keadaan kudaku"


Ujar Bio lalu pergi keluar sambil melambaikan tangan.


"Hei gadis cantik, siapa namamu"


Tanya Renlod pada Andin.


"Namaku Andin"


Sahut Andin yang dibalas anggukan dari Renlod yang sudah duduk disofa sebelah Afsan.


"Temanmu berada dikamar atas. Kau bisa melihatnya jika mau, dia diruangan dengan pintu berwarna hijau"


Tanpa banyak bicara. Andin langsung bergegas menaiki tangga setelah menganggukan kepalanya. Andin sangat khawatir dengan keadaan Tessa, Andin terus berdoa semoga Tessa baik-baik saja.

__ADS_1


Setelah Andin sampai dilantai dua. Andin langsung mencari kamar berpintu hijau itu, Andin terus mencari sampai akhirnya berhenti dikamar paling pojok kamar dengan pintu berwarna hijau tua. Tanpa berlama lagi, Andin pun langsung mengetuk pintu itu.


Celekk


Pintu terbuka. Andin menatap seorang wanita paruh baya didepannya yang tersenyum menatap Andin.


"Mari masuk, temanmu sedang tertidur"


Ucap Wanita itu, Andin pun segera masuk kedalam kamar.


Lagi-lagi, Andin dibuat kagum dengan isi rumah ini. Kamar berpintu hujau ini sangat indah. Kamar minimalis dengan aksesoris yang unik didalamnya.


Andin menatap Tessa yang tengah tertidur diatas ranjang. Wajah teduh Tessa sangat damai, Andin suka saat melihat Tessa sedang tertidur. Karna hanya disaat tertidur Tessa menjadi diam dan tenang.


"Maaf kalau boleh tahu kamu siapa?"


Tanya Andin pada wanita itu.


"Panggil saja aku Ema. Aku istri Renlod dan Ibunya Bio"


Sahut Ema. Jika dilihat lihat memang Bio dan Ema sedikit mirip. Seperti rambut ikal mereka dan tubuh tegapnya sama seperti Renlod.


"Aku Andin, dan itu temanku Tessa"


Ujar Andin sambil menunjuk Tessa.


"Tessa tadi hanya pingsan. Dia hanya kelelahan saja, jadi kau jangan khawatir. Kalau kau ingin istirahat, kau bisa tidur dikamar satunya. Dikamar pintu berwarna biru. Aku pamit dulu ya"


Ucap Ema panjang lebar.


Andin mengangguk angguk tanda paham. Tak lama dari itu, Ema pun keluar.


Andin mendekat ke Tessa, lalu menyelimuti tubuh kecil sahabatnya itu. Andin juga merasa kalau dirinya sangat lelah. Maka dari itu, Andin segera menuju kamar berpintu biru yang dikatakan Ema tadi. Kamar yang berada tepat didepan kamar Tessa.


Andin langsung memasuki kamar itu. Kamar minimalis dengan dominan biru dengan aksesoris yang unik. Andin menuju ranjang yang ukuran singel, lalu membaringkan dirinya. Perlahan mata Andin tertutup, dan tertidur.


.

__ADS_1


Sakay.


Lagi pusing, jadinya begini dah hasilnya.


__ADS_2