
Happy Reading -
Hawa sejuk di pagi hari ini, menyapu keseluruh wajah Andin yang masih tertidur pulas dengan selimut yang menyelimuti tubuh kecilnya. Andin tertidur setelah menjalankan tugas dan membantu para penduduk semalam.
"Andin, bangunlah"
Ujar Ema membangunkan Andin dari tidurnya.
Andin yang sudah setengah sadar itu pun segera bangun dari tidur. Dan melihat Ema yang tersenyum menatap dirinya.
"Bangunlah kita sarapan bersama"
Tambah Ema lalu perlahan bagkit dan berjalan pergi. Andin hanya mengangguk saja mendengar ucapan Ema.
Andin menyingkapkan selimut itu kesamping, lalu bangkit dari duduknya sambil melipat selimut itu seperti semula. Setelah melakukan itu, Andin pun segera beranjak pergi untuk bergabung pada penduduk lainnya.
Semua penduduk sudah terbangun dari tidurnya. Mereka semua kini tengah berbaris untuk mengambil sarapan dari makanan yang semalam dibawa dari gudang dengan antrian yang lumayan lama.
Andin mulai mengantri di barisan yang panjang itu. Barisan perlahan mulai maju, namun saat Andin ingin melangkah mengikuti barisan. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya yang membuatnya berhenti seketika.
"Kau sedang apa disini? Makanan kamu sudah aku ambilkan"
Ujar Roci yang sedang membawa dua buah roti dan buah apel ditangannya. Lalu Rico menyodorkan apel dan roti itu pada Andin.
"Ayo kita makan"
Kata Roci mengajak Andin untuk pergi bersama mereka. Andin pun mengangguk lalu mengikutinya.
Mereka berjalan pergi menjauh dari antrian yang panjang itu. Lalu berhenti untuk bergabung bersama Bio dan Afsan yang tengah memperhatikan sebuah senjata yang berada ditangan Afsan. Senjata yang berukuran lumayan panjang itu terlihat sangat mengerikan. Apalagi dengan ujungnya yang terlihat sangat tajam.
"Hai"
Sapa Andin menatap mereka semua. Bio tersenyum menatap Andin, sedangkan Afsan tak sedikitpun ingin melirik.
"Hai Andin, apakah tidurmu nyenyak?"
__ADS_1
Tanya Bio yang dibalas anggukan kecil dari Andin.
"Ya, aku pikir begitu"
Jawab Andin sambil tersenyum lebar. Andin mulai memakan roti ditangannya itu saat melihat Rico dan Roci sudah menghabiskan rotinya.
"Permisi"
Seru seseorang yang membuat mereka semua melirik ke asal suara. Yang berasal dari seorang gadis didepan mereka.
"Bio kau dipanggil oleh nona Ema bersama dengan Afsan"
Ujarnya lagi menatap Bio dan Afsan bergantian. Afsan yang mendengar itu pun langsung menghentikan aksinya. Lalu menatap gadis itu datar.
"Baiklah, aku akan segera kesana. Ayo Afsan"
Gadis itu mengangguk lalu melangkahkan kakinya pergi. Bio mengajak Afsan tanpa dia sadari Afsan sudah berjalan lebih dulu darinya.
"Hei, tunggulah"
Teriak Bio pada Afsan yang sudah jauh didepan.
.
Bio dan Afsan berjalan pergi menuju kesebuah tempat didalam gua itu yang terpisah dari yang lainnya. Ruangan itu dipakai untuk tempat dimana Renlod dirawat. Karena disitulah tempat yang lumayan baik dari pada yang lainnya. Disana juga bukan tempat untuk Renlod saja, melainkan tempat untuk penduduk yang terluka parah.
"Ada apa?"
Ujar Bio yang baru sampai di ruangan itu pada Ema. Bio dapat melihat didepannya ada Renlod yang sudah sadar dan terlihat sangat lemas.
"Papa ingin berbicara pada kalian"
Kata Ema pada mereka berdua. Lalu setelah mengatakan itu, Ema melangkah pergi tanpa memberi tahu ingin kemana.
Bio dan Afsan mendekati Renlod yang terbaring lemah di atas selimut dibawahnya. Renlod mengisyaratkan untuk mereka duduk didepannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
Tanya Afsan membuka suara. Renlod menatap kedua orang didepannya itu, dan berkata.
__ADS_1
"Pergilah ke Antlasia"
Pekik Renlod tiba-tiba yang membuat kedua orang didepannya itu menatapnya bingung sekaligus aneh.
"Antlasia?"
Tanya Afsan memastikan.
"Ya, pergilah kesana. Dan carilah Emil"
Tegas Renlod lagi.
"Antlasia? Tempat itu sungguh jauh. Terlebih, apakah memang benar ada Emil disana?"
Seru Afsan yang sangat bingung apa yang sedang Renlod rencanakan.
Antlasia sangat jauh keberadaannya. Bahkan harus memakan waktu berhari-hari untuk sampai di Negri yang besar itu. Apalagi jika kesana hanya untuk mencari Emil. Sang penyihir.
"Karena hanya Emil lah yang bisa menutup kembali pembatas pohon itu"
Kata Renlod.
Afsan hanya terdiam mendengar itu. Karena benar juga apa yang dikatakan oleh Renlod. Cara untuk menutup kembali pembatas pohon itu, kita butuh Emil. Sang penyihir yang dulu membuat pembatas pohon agar para manusia disana bisa hidup dengan aman. Walaupun banyak juga ancaman dari luar.
"Baiklah, aku akan pergi dengan Renlod sekarang"
Seru Afsan pada Renlod. Afsan akan pergi menuju Antlasia mulai dari sekarang, lebih cepat lebih baik.
"Tidak"
Ujar Renlod menghentikan Afsan dan Bio yang hendak berdiri dari duduknya. Lalu mereka menatap Renlod dengan tatapan tanda tanya.
"Kau pergilah dengan Andin"
Tambah Renlod yang membuat Afsan dan Bio menatanya bingung. Mengapa harus pergi dengan Andin? Apa alasannya?
.
Sakay
__ADS_1