Putri Di Negri Afhanda

Putri Di Negri Afhanda
27- Wanita ditengah hutan


__ADS_3


Happy Reading -



Deru suara langkah kaki berlari dengan langkah yang cepat dan terburu di saat sang fajar ingin bersinar. Nafasnya pun tersengal-sengal mengikuti langkah kakinya yang tergesa-gesa. Sesekali ia menengok kearah belakang untuk melihat apakah masih ada para bandit yang mengikuti dirinya. Namun saat ia ingin menengok kearah depan tiba-tiba.


Brugh


Wanita itu pun terjatuh, menabrak badan kekar salah satu bandit jahat yang mengejarnya. Dan membuat kantung yang ia bawa tadi terpental.


Seseorang bertubuh besar dan kekar mendekati sebuah kantung yang tergeletak di atas tanah. Mungkin, ialah ketua dari kelompok bandit itu. Lalu, ia mengambil kantung besar itu dengan binar di matanya. Mungkin saja, isi didalam kantung itu adalah sesuatu yang berharga.


"Jangan, jangan kau ambil barang milikku"


Seru sang wanita berusaha memberontak dari cekalan bandit itu terhadapnya.


"Cukup berat, dengan ini kau akan ku lepaskan"


Ujar lelaki itu dengan santai sambil membawa pergi kantung milik wanita itu tanpa menghiraukannya.


"Ayo kita pergi dari sini"


Tambah lelaki itu lagi sambil tertawa kencang. Membuat wanita itu semakin kesal dengan apa yang para bandit itu lakukan.


Para bandit itu pun menaiki kembali kuda mereka masing-masing. Sang ketua menaruh curiannya itu kesebuah tempat yang terdapat di samping badan kuda itu. Sebelum melanjutkan perjalanannya lagi, ia tertawa kencang. Menatap wanita itu dengan remeh, dan kemudian kembali melanjutkan perjalanan jahatnya itu.


"Oh tidak, maafkan aku Rena"

__ADS_1


Lirih wanita itu sedih, bersedih atas kantung yang dicuri oleh bandit itu. Padahal, ia sudah susah payah menunggu obat penyembuh penyakit adiknya itu. Dan hanya tumbuh lima tahun sekali.


Wanita itu pun hanya diam, bersandar ke sebuah pohon. Ia tak kuasa jika pulang hanya membawa dirinya saja. Padahal ia sudah berjanji, jika hari ini adiknya itu akan diberikan obat penyembuh penyakitnya. Namun, ia pun hanya bisa pasrah. Karena kenyataannya, tanaman obat itu tidak bisa tumbuh dengan cepat.


.


"Kau sudah bangun?"


Ujar Afsan menatap Andin yang baru saja membukakan matanya. Ia tersenyum tipis menjawab ucapan Afsan itu.


Andin lalu terduduk. Memperhatikan Afsan yang sedang mengeluarkan buah dari daun-daun yang dijadikannya sebagai pengganti tas. Disana masih tersisa lima apel lagi. Lalu Afsan memberikan satu apel pada Andin. Dan memakan satu untuk dirinya.


"Terimakasih"


Ucap Andin menerima apel itu. Lalu memakannya dengan mengambil gigitan kecil. Terlihat tidak berselera.


Tanya Afsan yang masih penasaran. Ia bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak karena masih kepikiran dengan Andin.


Andin yang mendengar itu terdiam, karena ia juga tidak yakin apakah semalam itu adalah nyata. Namun, mengatakan ia seakan tidak bisa mendekati mamanya. Dan juga mengapa pertemuan itu hanya sebentar saja.


"Semalam mungkin aku bermimpi bertemu dengan ibuku. Namun aku juga tidak yakin, apakah semalam itu adalah mimpi"


Jawab Andin mengingat kejadian dimana semalam ia melihat mamanya itu dengan jelas. Sosok yang sangat ia rindukan.


"Ya, mungkin saja. Namun, kau harus tahu. Jika tangisanmu semalam, benar-benar asli dan tidak tertahankan"


Kata Afsan yang membuat Andin tersemu malu. Mungkin saja ingus dan air matanya itu melekat di baju Afsan. Membayangkannya saja membuat Andin ingin menghilang dari hadapan Afsan.


Afsan kemudian berdiri, mengambil jubahnya dan memakainya. Pedangnya itu juga ia rapihkan kembali ditempatnya semula. Perjalanan ini masih panjang, kalau masih bersantai mungkin akan lebih memakan waktu yang panjang. Dan para penduduk di gua, juga tidak bisa terlalu lama berada didalam sana. Apalagi, dengan stok makanan yang terbatas.

__ADS_1


"Perjalanan ini masih panjang, dan juga lebih cepat lebih baik"


Kata Afsan.


Andin yang mendengar itu mengangguk paham. Benar juga apa yang Afsan ucapkan. Perjalanan ini mungkin memang masih panjang. Dan para penduduk pun juga menaruh harapan besar pada mereka berdua.


Perjalanan pun, dimulai kembali.


.


Sinar mentari menyorot tapat pada seorang wanita yang tertidur dengan wajahnya menghadap ke atas. Dan tentu saja jika sinar itu mengusik tidurnya.


"Huh, benar-benar sial"


Lirih wanita itu menutupi kedua matanya dengan tangan. Ia merasa kesal dengan dirinya sendiri. Mengapa ia sangat lemah, jika saja ia bisa melawan bandit itu. Mungkin saja obat adiknya sedang dibuat.


Tak lama dari itu, ia bangkit dari duduknya. Dengan wajahnya yang lesu, ia akan pulang ke desanya. Mungkinkah ia harus menunggu lima tahun lagi agar tanaman itu bisa tumbuh. Namun ia juga tidak pasti apakah adiknya itu masih bisa hidup.


Derap suara langkah kaki yang kencang membuat langkah wanita itu terhentikan. Ia lalu membalikkan tubuhnya, mencari derap suara itu yang berasal dari belakang. Bisa saja bandit itu kembali lagi kesini, mungkin saja ia bisa mendapatkan barangnya kembali. Namun ternyata, itu bukan bandit. Melainkan dua orang yang sedang menunggangi kuda sedang menuju kearahnya.


Sontak wanita itu pun terdiam. Ia takut dan was-was, mungkinkah jika lelaki dan wanita itu adalah orang jahat.


Andin yang berada dibelakang Afsan pun menjadi tidak fokus dengan perhatiannya. Ia tanpa sengaja melihat seorang wanita yang sedang berdiri menatap kearah mereka berdua. Andin ragu untuk mendekat, namun sepertinya wanita itu sedang kesusahan. Namun pada akhirnya, Andin pun berhenti dihadapan wanita itu.


Sedangkan Afsan yang merasa suara langkah Andin menghilang, ia pun juga memberhentikan langkahnya juga. Ia menengok kearah belakang, dan melihat Andin yang berada jauh di belakangnya sedang berdiri dihadapan wanita yang baru saja ia lewati.


.


Sakay.

__ADS_1


__ADS_2