Putri Di Negri Afhanda

Putri Di Negri Afhanda
13- Hilangnya Tessa


__ADS_3


Happy Reading -



"Wargghhhhh"


Raung monster itu saat berhasil membawa salah satu dari mereka. Kemudian monster itu pun berlari cepat memasuki pohon-pohon yang besar dan lebat.


Andin yang sehabis melihat itu pun langsung mengambil pasokan udara yang banyak. Andin baru kali ini sangat dekat dengan monster tadi, bahkan Andin juga melihat seperti banyaknya binatang kecil yang berada di tubuh monster tadi.


Monster tadi berlari kearah mereka. Dan melompati mereka semua, entah apa yang monster itu lakukan. Tapi yang pasti itu bisa membahayakan mereka semua. Bagaimana keadaan Tessa saat melihat itu? Apakah dia pingsan lagi?


"Tessa?"


Ucap Andin melihat kesamping kanannya tempat Tessa berada. Tapi tunggu, mengapa Andin tidak melihat Tessa berada disana?


"Tessa? Dimana Tessa"


Kata Andin mencari-cari dimana Tessa. Bukannya Tessa berada disampingnya, tapi mengapa sekarang hilang entah kemana. Bahkan, yang tersisa hanya kudanya saja.


Afsan, Bio, dan Renlod memandang Andin yang sedang berteriak memanggil-manggil nama Tessa. Mereka memandang Andin penuh tanda tanya, karena kini Andin sudah mulai mengeluarkan air matanya.


"Ada apa Andin?"


Ucap Renlod mendekati Andin dengan khawatir.


"Dimana Tessa?"

__ADS_1


Balas Andin yang mulai berfikiran buruk tentang Tessa. Andin takut, jika Tessa yang dibawa oleh monster itu.


Bio dan Afsan setelah mendengar kata Andin itu pun langsung saling pandang. Afsan dan Bio juga memiliki pikiran yang sama. Mereka sama-sama berfikir kalau Tessa dibawa oleh monster itu.


"Apa mungkin Tessa"


Kata Bio menggantung ucapannya. Namun, Andin mengerti apa maksud dari ucapan Bio itu. Andin pun menggelengkan kepalanya, lalu berkata.


"Nggak mungkin, ini nggak mungkin kan"


Ucap Andin menangis meratapi semua ini. Andin harap dari semua kejadian ini, hanya saat ini saja Andin berharap kalau ini adalah mimpi.


Pikiran Andin kalut, semua yang Andin pikirkan hanyalah Tessa seorang. Tessa lah yang membuat Andin menahan air matanya saat Andin merasa sedih akan apa yang terjadi saat ini. Tessa juga yang menyemangati dirinya saat seluruh pikirannya penuh keterpurukan.


"Aku harus menyusulnya"


Andin mulai menggerakkan kudanya. Namun, saat hendak melangkah. Mereka semua dikejutkan dengan suara langkah kaki yang besar, berlarian menuju mereka. Suara yang pasti membawa mereka kedalam bahaya.


"Cepatlah lari, jumlah mereka terdengar banyak saat ini. Dan kita juga sudah tidak mempunyai senjata lagi untuk melawannya"


Kata Renlod memberi tahu. Mereka pun mulai menggerakkan kudanya untuk pergi, namun Andin hanya diam dan mematung ditempat itu.


"Andin, cepatlah berlari"


Kata Bio yang melihat Andin hanya diam ditempatnya saja. Tapi, Andin tidak mendengarkannya.


"Andin bergegaslah"


Teriak Renlod yang sudah jauh didepan. Namun lagi-lagi, Andin tidak mendengarkannya. Andin masih terdiam dengan pikirannya yang masih berada pada Tessa.

__ADS_1


"Andinnnn, cepatlah"


Teriak Bio saat sudah melihat monster-monster itu diujung sana. Andin pun menengok kearah samping kanan tempat monster itu yang tengah berlari kearah mereka.


Pikiran Andin seketika kosong, dan menatap monster itu dalam diam. Andin lelah jika harus berlari menghindarinya lagi, Andin hanya ingin segera bangun dari mimpi buruk ini.


Namun tiba-tiba, Andin merasa seperti ada yang mengangkat tubuhnya. Ya, Andin diangkat Afsan untuk naik ke kudanya miliknya. Dan berada di posisi, seperti waktu pertama kali mereka bertemu. Dengan posisi, Andin yang berada di pangkuannya dan juga berada tepat didepan dada bidangnya.


Andin menatap Afsan dengan hangat. Lagi-lagi mereka ditempatkan dengan posisi seperti ini. Namun Andin juga berterima kasih, karena Afsan sudah menyadarkannya dari lamunannya sendiri.


"Terima kasih"


Ucap Andin berterima kasih pada Afsan dengan suara yang bergetar.


Afsan yang mendengar itu pun, langsung menatap Andin yang berada di pelukannya.


"Bolehkah aku untuk memakai dada mu itu sebagai tempat bersandar?"


Tanya Andin yang sudah mengeluarkan air matanya lagi.


Sebelum Afsan berkata Iya, Andin sudah bersandar di dada Afsan dan menangis tersedu disana. Afsan yang melihat itu pun, hanya diam saja. Afsan tahu jika kini, Andin sangat terpukul dan bersedih. Jadi biarlah saat ini Andin menangis di pelukannya.


Sedangkan Andin terus menangis, air matanya seakan tidak mau berhenti keluar. Tapi walaupun begitu, Andin merasa lebih baik jika menangis.


Dan diperjalanan itu pun, Afsan harus bisa fokus dan tetap cepat. Juga, Afsan memposisikan diri agar membuat Andin nyaman.


.


Sakay

__ADS_1


__ADS_2