
Happy Reading -
"Kau akan baik-baik saja, bertahanlah sedikit lagi"
Ucap seorang wanita tua pada gadis kecil yang terbaring lemah diatas kasur. Gadis kecil itu merintih kesakitan, menahan sakit yang begitu menyakitkan.
Sang wanita hanya diam saja dalam kepedihan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu obat penyembuh itu datang. Karena tak ada lagi obat penyembuh selain tanaman bunga Cavelo.
Penyakit itu sangat mematikan, namun gadis kecil itu masih bisa bertahan selama tiga tahun lamanya. Padahal orang dewasa pun saat terkena penyakit itu tidak akan lama lagi waktu yang ia punya. Mungkin, itu adalah sebuah keajaiban. Dimana gadis itu bertahan, walaupun merasakan penyakit yang sangat menyakitkan.
Brukk
Brukk
Brukk
Deru suara langkah kaki yang bergerak dengan cepat. Suara itu berasal dari langkah kaki kuda yang sedang menaiki gunung Mahera. Siapa lagi kalau bukan Afsan, Andin dan Sena. Selepas mengambil semua obat Cavelo itu, mereka segera pergi menuju desa Houko, tempat Sena tinggal.
Dengan jalanan yang curam, mereka mampu melewati itu dengan mulus tanpa ada kendala. Namun mereka semua harus tetap hati-hati karena kalau tidak, mereka akan terjatuh dan masuk kedalam jurang.
Andin mengendarai dengan fokus. Kini ia tidak sendiri, ada Sena yang berada tepat duduk dibelakangnya. Sena dengan hatinya yang sangat senang, menjadi terlihat lebih baik daripada saat mereka bertemu didalam hutan. Tentu saja Sena senang, karena ia akan pulang tanpa tangan kosong. Dan membawa kabar baik untuk adiknya itu, Rene.
Akhirnya setelah perjalanan yang cukup panjang. Mereka pun mulai memasuki kawasan desa Houko, dimana sudah terlihat banyak penduduk desa Houko yang seperti menunggu kedatangan seseorang. Dengan tatapan penasaran para penduduk menatap kearah orang yang berada diatas kuda itu.
"Didepan sana"
__ADS_1
Kata Sena menunjukkan sebuah rumah kayu sederhana yang berada tepat lurus tak jauh dari letak mereka. rumah itu, adalah tempat Sena tinggal.
Andin segera menuju rumah itu. Rumah sederhana tempat tinggal Sena dan Rene. Afsan yang berada dibelakang kuda Andin, hanya terus mengikutinya. Setelah diingat-ingat, sepertinya ia juga pernah datang ke desa Houko ini. Namun sudah sangat lama, bahkan ia juga sudah sedikit melupakannya.
Mendengar suara hentakan kaki kuda yang terdengar mendekat. Wanita itu bangkit dari duduknya, dan segera menuju kedepan pintu. Meninggalkan gadis itu yang masih meringis kesakitan. Ia pun membuka pintu, dan melihat ada orang yang tengah menuju kearahnya. Namun setelah ia lihat lagi, ternyata disana juga ada Sena. Yang sedang tersenyum senang menatapnya.
"Sena"
Lirih wanita itu menatap Sena.
Saat baru saja kuda berhenti melangkah, Sena langsung turun dari kuda dan menuju kearah wanita itu memeluknya. Sena menitikkan air mata bahagia, Sena tidak bisa membayangkan, jika ia pulang tanpa membawa obat itu untuk Rene. Sena hanya takut, jika Rene tidak bisa menahan penyakitnya lagi.
"Uliza, aku sudah membawa obat Cavelo ini"
Ucap Sena memberikan wanita bernama Uliza itu sebuah kantung yang berisikan obat Cavelo.
"Tolonglah, buat secepatnya"
Andin dan Afsan yang melihat itu hanya diam. Andin yakin jika penyakit adiknya itu sangat berbahaya dan bisa membawanya pada kematian. Sedangkan Afsan, ia tengah mengamati wanita bernama Uliza itu sambil memutar ingatannya. Sepertinya Afsan pernah bertemu dengan Uliza disebuah tempat jauh dari sini. Disebuah tempat jauh, yang berada di Negri Antlasia.
"Baiklah, aku akan segera membuatnya"
Jawab Uliza. Selepas itu pun, Uliza langsung pergi kembali kedalam rumah.
Sena pun merasakan kelegaan dihatinya, karena sebentar lagi adiknya itu akan merasakan kebebasan. Andin tersenyum menatap Sena yang sedang tersenyum bahagia, Andin bisa merasakan kebahagiaan Sena itu.
"Andin, aku sangat berterima kasih padamu. Jika bukan karena kekuatanmu itu, mungkin saja adikku tidak bisa menahan penyakitnya lagi"
Sena menggenggam kedua tangan Andin. Andin tersenyum karena hal itu, walaupun dirinya masih ragu. Apakah benar jika tanaman itu tumbuh karenanya.
__ADS_1
"Ayo ikuti aku, aku akan membawa kalian kesebuah tempat"
Ajak Sena pada Andin dan Afsan. Tentu saja Andin akan membalasnya dengan anggukan, sedangkan Afsan hanya mengikutinya dengan tangan Andin yang menggenggamnya. Padahal ia belum mengatakan iya atau tidak.
Mereka memasuki jalan setapak yang dipenuhi semak-semak belukar disekelilingnya. Afsan dengan wajah datarnya merasa bosan dengan perjalanan itu, apalagi hendak kemana Sena membawanya.
"Ayo, sedikit lagi"
Ucap Sena sambil menyingkap semak-semak yang menutupi jalan didepannya. Lalu mereka pun mulai melangkah memasuki tempat itu.
Dan ternyata Andin dibuat kagum dengan pemandangan didepannya itu. Sebuah tempat kecil yang tertutup dengan pemandangan sangat indah. Lagi-lagi Andin dibuat kagum dengan semua tempat yang ia temukan di dunia antah berantah ini.
"Indah sekali"
Lirih Andin maju selangkah. Melihat pemandangan itu yang sangat indah.
Afsan hanya diam, lalu ia duduk disebuah batu ditempat itu. Tempat itu adalah buatan Sena sebagai kejutan untuk Rene. Tempat yang teduh dikelilingi semak-semak, dan ada batu-batuan sebagai tempat duduknya. Namun sayangnya, Rene tidak bisa melihat tempat itu. Karena selama ini, Rene hanya bisa terbaring di ranjangnya sambil terus menahan sakitnya.
"Sangat indah bukan?"
Ujar Sena duduk di salah satu batu.
"Ya, sangat indah"
Sahut Andin terseyum. Lalu ia mendekat kearah batu disana, dan mendudukinya.
Sepertinya perjalanan ini tidak terlalu membosankan, sebab banyak sekali tempat indah selama diperjalanan. Dan sepertinya, mereka akan beristirahat sejenak ditempat itu.
.
__ADS_1
Sakay