
Happy Reading -
Malam telah tiba, dengan sinar bulan yang menyinari sekumpulan orang yang sedang beristirahat itu. Didalam hutan yang gelap, mereka semua duduk melingkari api unggun yang dibuat untuk menghangatkan tubuh yang terasa dingin karena angin yang kencang membuat tubuh mereka sedikit menggigil.
Serta langit yang terasa sangat pekat, dan hawa yang terasa ingin hujan. Membuat mereka sedikit khawatir, takut akan tidak ada tempat untuk berteduh lagi. Karena sekarang, mereka tengah berada dibawah pohon besar nan rindang, namun jika hujan datang disertai oleh petir sepertinya mereka menjadi sedikit khawatir.
"Anginnya sangat kencang"
Ucap Sena sambil mengusap-usap tangannya.
"Ya, dan sepertinya akan turun hujan"
Sahut Andin menatap langit mendung.
Mereka tengah mencoba untuk menghangatkan tubuh mereka agar tidak kedinginan. Namun berbeda dengan Hedof, ia seperti tidak merasakan kedinginan. Padahal, angin benar-benar terasa kencang menabrak tubuh mereka semua.
"Sejuk sekali"
Lirih Hedof yang langsung mendapatkan lirikan mata dari lainnya.
"Sejuk? lama-lama aku bisa mati kedinginan berada disini"
Cetus Sena yang sudah merasakan dingin sedari tadi.
"Memang berapa lama lagi kita akan sampai di Lembah Okura?"
Tambah Sena bertanya.
Afsan memperhatikan wajah Hedof yang terlihat kebingungan mendengar ucapan Sena tadi. Sepertinya kecurigaan Afsan padanya semakin bertambah.
"Emm, mungkin sekitar 2 hari lagi"
"Apa?! Yang benar saja, kata mu ini jalan pintas. Mengapa lama sekali?"
Pekik Sena merasa dibohongi.
Hedof kaget mendengar Sena yang berbicara dengan nada kesal padanya. Tapi mau bagaimana lagi, ia sendiri juga tidak tahu pasti kapan mereka semua akan sampai.
Andin menghiraukan ucapan teman-temannya. Kini ia tengah menatap sendu bulan yang nampak indah diatas sana. Tidak bisa dipungkiri lagi, bagaimana pun juga ia tetap merindukan rumahnya, merindukan kehidupan normal seperti biasanya, dan merindukan sahabatnya yang entah hilang kemana. Harus berapa lama lagi ia berada disini, di dunia yang bagaikan sebuah dongeng didalam cerita.
Jika Andin tengah memandangi bulan, berbeda lagi dengan Afsan yang tengah memandangi Andin dari tempatnya. Tatapan Andin yang ia lihat, terasa seperti penuh akan kesedihan.
Setelah semalam yang penuh akan drama, akhirnya mereka bergerak juga untuk melanjutkan langkah mereka menuju Lembah Okura. Kini, Hedof yang memimpin barisan. Namun setelah Afsan perhatikan dari belakang, ia merasa aneh dengan Hedof yang seakan kebingungan untuk terus melangkah kedepan. Seperti orang yang bingung untuk menentukan jalan.
"Lurus kedepan, disamping kita sekarang hanya penuh akan semak-semak liar"
Kata Afsan pada Hedof yang berhenti karena tidak tahu lagi dimana jalan yang benar.
"Aku tahu itu"
__ADS_1
Ucap Hedof merasa tidak butuh bantuan.
Afsan dan Sena kompak memutarkan bola matanya malas saat mendengar ucapan Hedof tadi. Jelas-jelas Hedof kebingungan, Sena sendiri tahu itu. Berbeda dengan Andin yang sedari tadi hanya diam, ia merasakan ada suara gemericik air yang deras berada disekitar mereka. Tapi dimana itu.
"Ada apa Hedof?"
Tanya Andin pada Hedof yang berhenti lagi.
Hedof memutar tubuhnya kebelakang, dan menatap mereka dengan wajah polosnya.
"Didepan ada sungai"
Cetus Hedof.
"Mengapa kau berhenti, majulah. Biar kita bisa melihat juga!"
Kata Sena yang langsung dituruti oleh Hedof.
Dan terlihatlah, sungai besar dengan arus yang sangat deras didepan mereka. Sungai dengan air yang deras itu terlihat sangat mengerikan. Bayangkan jika terjatuh kedalam sana, pasti kau akan terombang-ambing di dalam air, dan dengan arus yang seperti itu sepertinya akan sulit untuk keluar dari sungai.
"Bagaimana cara agar kita bisa menyebrang kesana?"
Tanya Sena menunjuk jauh ke daratan diseberang sana.
"Tidak ada jembatan yang bisa kita gunakan"
Lirih Afsan mencari-cari sebuah jembatan untuk mengantar mereka ke seberang sana.
"Sepertinya untuk membuat perahu akan sama saja, sama-sama berbahaya dengan arus seperti itu"
Mereka semua menjadi bingung, apa yang akan mereka lakukan sekarang. Sepertinya tidak ada jalan untuk mencapai ke seberang, jika kembali lagi untuk mencari jalan lain sepertinya juga akan membutuhkan waktu yang banyak lagi. Apalagi mereka sudah sejauh ini.
"Bagaimana ini Hedof, apakah kau tahu jalan lain?"
Tanya Sena.
Hedof menggelengkan kepalanya, lalu menatap kearah Sena dengan tatapan serius tidak seperti biasanya.
"Tidak"
Jawab Hedof dingin.
Sontak saja Hedof langsung mendapatkan lirikan aneh dari yang lain. Bisa dibilang tatapan Hedof tadi juga cukup menegangkan.
"Aku bercanda, apakah kau takut"
Hedof tertawa melihat tampang Sena yang terdiam kebingungan.
"Bisakah kau serius"
Pekik Sena sambil memukul kepala Hedof, membuat Hedof langsung terdiam sambil meringis kesakitan.
Afsan mengalihkan pandangannya pada dua orang itu. Dan tidak sengaja melihat Andin yang turun dari kudanya dan mendekati sungai itu dengan sangat tenang. Tanpa berlama lagi, Afsan segera mendekat kearah Andin.
__ADS_1
"Hei Andin, kau ingin apa?"
Kata Afsan mengejar Andin.
Hedof dan Sena yang mendengar itu juga langsung bergegas menyusul Afsan. Kini mereka semua menjadi bingung dengan Andin yang tanpa sedikit ketakutan berjalan santai mendekati sungai itu.
Sampai akhirnya Andin berada di tepi sungai itu, ia bisa merasakan dengan jelas saat percikan air itu mengenai kakinya. Afsan Hedof dan Sena tidak bisa sampai di tepi sana seperti Andin, jalanan itu sangat licin terlebih tanah basahnya sangat berat menempel di kaki kuda. Dan karena itu sepertinya mereka harus berjalan kaki, seperti Andin.
Dengan perasaan penasaran, Andin mengangkat tangannya dan menjulurkan tangannya itu kearah sungai. Ia ingin membuktikan, apakah memang benar jika ia mempunyai kekuatan. Dengan bersamaan Andin menutup matanya juga, ia hanya takut jika itu tidak akan terjadi.
Krekk
Andin membuka matanya mendengar itu, dan melihat dengan jelas tanaman yang merambat menjadi sebuah jembatan luas untuk menuju kedepan. Teman-temannya yang sudah berada disebelah Andin langsung terdiam melihat kekuatan Andin.
Ranting-ranting, akar pohon, daun-daun, semua menjadi satu dan merambat menuju kedepan menjadi sebuah jembatan. Andin juga tidak bisa menutupi rasa harunya, ia tersenyum senang melihat itu. Berarti yang kemarin-kemarin saat ia mendapati keanehan itu, berasal dari dirinya. Sepertinya ranting yang tidak jatuh di hutan saat melakukan misi.
"Andin, kau luar biasa"
Seru Sena kagum.
Afsan terseyum tipis melihat itu, berarti kecurigaannya itu memang benar. Andin memang mempunyai sebuah kekuatan, kecurigaan itu bermula saat didalam hutan melakukan misi. Tidak sengaja Afsan melihat Andin yang sedang memainkan ranting yang tidak terjatuh karena ditahan oleh kekuatannya itu. Sepertinya Andin bukan orang biasa.
"Luar biasa, Andin. Kau sangat hebat"
Hedof bersuara.
"Kau seperti Dewi Alam"
Tambah Hedof yang langsung mendapatkan lirikan tajam dari Afsan.
"Diam lah, jangan menyebut Dewi Alam sembarangan!"
Sinis Afsan.
Hedof hanya memandang Afsan dengan wajah tidak sukanya, lalu mereka segera menaiki kuda masing-masing. Andin berjalan lebih dahulu, ia ingin mengetes apakah jembatan itu memang kokoh. Dan ternyata benar, mereka semua langsung tersenyum senang melihat itu. Akhirnya mereka bisa melakukan perjalanan itu lagi.
Brughhhhhh
Tiba-tiba terdengar bunyi hantaman dari arah belakang. Sontak mereka semua langsung menatap kearah belakang dengan wajah yang terkejut serta kebingungan.
"Oh tidak"
Kata Hedof dengan mata yang membulat.
"Lari semua, itu trolls"
Teriak Sena langsung melajukan langkahnya.
Merekapun segera berlari kencang, tapi Andin berada di paling belakang. Entah mengapa ia merasa kudanya berjalan sangat lambat, padahal trolls itu juga sudah melihat mereka. Dan akhirnya...
~Sampai jumpa 3 hari lagi, wkwkwk.
.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke cerita baru gua ya~
Sakay.