Putri Di Negri Afhanda

Putri Di Negri Afhanda
23- Kekuatan Andin


__ADS_3


Happy Reading -



Afsan terus menuntun kudanya agar bergerak lebih cepat, ia bisa merasakan ada yang tidak mengenakan dihatinya sekarang. seperti, ada sesuatu yang terjadi. Entah apapun itu, yang jelas Afsan sangat mengkhawatirkan Andin. Apakah dia baik-baik saja disana.


"Ayo lebih cepat, Jess"


Ujar Afsan mengelus kuda hitam bernama Jess itu. Kuda kesayangan Afsan dan juga sebagai sahabatnya.


Seakan mengerti, Jess pun berlari lebih cepat. Tak perduli dengan apa yang ada didepannya, Jess hanya terus berlari membuat angin malam yang kencang itu menabrak dirinya. Namun, Jess adalah kuda yang kuat. Ia bahkan mampu membawa banyak beban ditubuh kekarnya itu.


Afsan sendiri yang masih berbalut perasaan tak karuan dihati nya, tengah fokus berkendara agar cepat sampai di pohon besar yang masih jauh itu. Pohon tempat mereka beristirahat sebelumnya. Dan semoga saja, Andin masih tertidur dengan baik-baik saja.


Brakk


Andin tersandung batu, yang membuat tubuhnya terhuyung kedepan ingin terjatuh. Namun untungnya, Andin masih bisa menjaga keseimbangan dirinya. Dan tidak membuat dirinya tersungkur ke tanah.


Andin melihat kearah batu yang membuatnya tersandung itu. Lalu menengok kearah belakang untuk melihat apakah makhluk itu masih mengejar dirinya. Dan benar saja, makhluk itu bahkan sudah mulai mendekati dirinya.


Andin memutar tubuhnya kembali, lalu mulai berlari cepat lagi. Dengan nafas yang tersengal Andin menengok kanan kiri mencari celah agar bisa melepaskan diri dari incaran makhluk itu. Namun sialnya, sedari tadi Andin tidak menemukan celah. Disepanjang jalan itu, hanya terdapat rumput tipis yang panjang. Yang ada bukan membuatnya terlepas dari makhluk itu, malah ia bisa tertangkap. Karena rumput itu akan membuatnya susah untuk berlari cepat.


"Oh tidak"


Pekik Andin membulatkan matanya menatap sebuah pohon besar yang berdiri tak jauh dari dirinya yang sedang berlari itu.

__ADS_1


Andin menggelengkan kepalanya seraya menatap lesu kedepan. Ia benar-benar frustasi sekarang. Seakan tak ada lagi celah untuk dirinya pergi dari incaran. Pohon itu sangat besar, bahkan disekelilingnya pun terdapat rumput tipis liar itu. Membuat Andin akan terjebak dan terpojok oleh makhluk itu disana.


Andin tidak lagi melangkah. Ia mengambil pasokan udara yang banyak untuk dirinya. Peluh yang membasahi wajahnya pun dihiraukannya. Dia benar-benar merasa tak mempunyai kesempatan untuk berlari dan menyelamatkan hidupnya lagi. Karena percuma, sekarang makhluk itu pun sudah berada dibelakangnya.


Andin membalikkan badannya perlahan, dan menegakkan kepalanya menatap makhluk yang sudah berada didepannya itu. Susah payah Andin menelan ludahnya, ia terkejut dan takut dengan wujud makhluk itu yang seakan dirinya sudah siap untuk melahap Andin hidup-hidup. Andin pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah setelah ini ia akan mati?


"Andin, dimana kau?"


Seru Afsan yang baru saja sampai disana, dan di buat bingung saat melihat Andin yang sudah tidak ada ditempatnya.


Afsan berjalan menelusuri tempat disekeliling itu, namun ia tidak menemukan Andin disana. Lalu Afsan menengok kearah jalan setapak yang berada tak jauh didekat pohon yang Andin tempati. Ia yakin, jika Andin pasti mengikuti jelan itu. Yang bisa membuat dirinya, masuk kedalam hutan lebih jauh.


"Yang benar saja"


Ujar Afsan kembali naik keatas kuda. Ia tidak bisa berfikir bagaimana Andin bisa meninggalkan tempatnya itu. Dan bahkan, Andin tak membawa senjatanya. Apakah Andin lupa jika disini juga masih banyak bahaya yang siap menerjang dirinya.


Afsan mulai bergerak, dan mengikuti jalan setapak yang membuatnya memasuki hutan itu lebih dalam. Dan tentunya, masih banyak bahaya didepan sana.


Tapi sedetik kemudian, makhluk itu pun mulai bergerak kedepan. Membuat Andin sontak mundur kebelakang. Gerakan Andin itu lah yang membuat makhluk itu membuka mulutnya perlahan. Ternyata, makhluk itu diam karena ia mengira jika Andin sudah mati.


"Oh tidak"


Gumam Andin melihat makhluk itu mulai membuka lebar mulutnya. Bahkan Andin bisa melihat bagaimana tajamannya gigi depan makhluk itu. Tangan Andin pun mengepal kuat.


"Tidakkkkkkk"


Teriak Andin panjang dengan tangan yang terlihat menghalangi wajahnya agar tidak melihat makhluk itu lagi. Tepat saat makhluk itu menerjang dirinya untuk masuk kedalam mulut makhluk itu.

__ADS_1


"Arrrggghh"


Raung makhluk itu panjang dengan suara besarnya. Andin yang mendengar itu semakin menutup mata dengan erat.


Dari kejauhan, Afsan mendengar suara raungan makhluk itu yang terdengar seperti kesakitan. Raungan yang terdengar sangat dekat dimana dirinya berada dan tanpa membuang waktu lagi, Afsan segera menuju keasal raungan makhluk itu. Dengan perasaan yang tak karuan, Afsan mulai bergerak cepat.


Sesaat raungan makhluk itu, Andin tidak merasakan apa-apa pada dirinya. Dengan perlahan, ia pun membuka matanya dan tangan yang menutupi wajahnya. Dan dirinya pun, dikejutkan dengan hal aneh pada makhluk yang sudah terjatuh di tanah.


"Apa apa ini?"


Gumam Andin menutup mulutnya, ia bingung mengapa makhluk itu dipenuhi dengan lilitan dari pohon-pohon yang melilit dirinya. Namun, mengapa itu bisa terjadi pada makhluk itu.


Lilitan dari akar pohon bahkan batangnya sudah melilit tubuh mahkluk aneh itu yang membuatnya terbujur kaku ditanah. Matanya masih terbuka lebar, namun seperti nyawanya sudah melayang. Karena Andin bisa melihat jika lilitan itu sangat kencang, yang pastinya membuat makhluk itu mati seketika.


Menatap makhluk itu berlama-lama entah kenapa tiba-tiba Andin merasakan pusing. Tubuhnya pun seakan sudah tak kuat untuk berdiri lagi. Dan matanya tengah berkedip agar tetap sadar.


"Andin"


Sayup-sayup Andin mendengar seseorang memanggil namanya. Ia juga mendengar derap langkah kaki kuda yang menuju kearahnya.


Afsan yang baru saja menemukan asal suara raungan itu pun, langsung mengeceknya. Dan ia juga tidak menyangka jika ada Andin disana. Dengan muka pucat dan keringat yang membasahi dirinya. Lalu Afsan turun dari kudanya, dan mendekat kearah Andin. Belum saja Afsan sampai didepan Andin, tiba-tiba tubuh Andin terhuyung kedepan.


"Andin kau kenapa?"


Tanya Afsan yang dengan sergap menangkap Andin kedalam pelukannya. Namun, ia tidak mendapatkan balasan. Dan pastinya, Andin pingsan sekarang.


Afsan menaikan Andin terlebih dahulu keatas kuda, lalu dirinya. Ia menaruh Andin didepan dan menaruhnya kedalam pelukannya agar Andin tidak terjatuh saat berjalan nanti. Namun, sebelum Afsan menjalankan kudanya. Ia menengok sebentar kearah makhluk yang mengenaskan itu. Lalu tak berlama-lama lagi, ia pun mulai menjalankan kudanya. Dan kembali ketempat semula.

__ADS_1


.


Sakay.


__ADS_2