Putri Di Negri Afhanda

Putri Di Negri Afhanda
26- Bisikan dan bayangan


__ADS_3


Happy Reading -



Crakkk


Decit suara pohon besar yang berhasil tertebas oleh pedang Andin. Andin terpaku, ia juga terkejut atas apa yang baru saja ia lakukan itu. Pohon dengan tinggi tiga meter itu, berhasil ia tebas hanya dengan satu tebasan.


"Huh, maaf"


Seru Andin bersalah pada pohon yang tadinya sedang berdiri tenang namun harus tumbang karena menjadi sasaran empuknya.


Andin terduduk menyender di batang pohon yang sudah tumbang itu. Ia terdiam, kembali memikirkan apa yang baru saja ia lakukan. Andin kehilangan kendali, dia benar-benar sedih dan kesal karena tidak bisa menahan dirinya sendiri. Kejadian dimana Tessa di culik oleh monster itu, seketika membuat emosi Andin meradang. Dan karena itu, pohon yang tenang itu pun menjadi bahan pelampiasannya.


"Kau dimana, Tessa?"


Gumam Andin menatap langit yang terlihat sangat hampa. Terkadang ia bertanya-tanya, kapan mimpi ini akan segera berakhir.


Afsan menarik dirinya keluar dari kolam. Seluruh badannya terasa sangat segar dan hangat setelah berendam. Ia mengambil jubahnya yang tergeletak, lalu memakainya menjadi sebuah handuk. Sambil bersenandung, Afsan menggosok badannya itu. Karena saking asiknya, dia menjadi tidak sadar. Jika Andin tidak berada di sekitarnya.


"Dimana Andin?"


Ujar Afsan mengingat Andin, ia baru sadar dimana Andin sekarang. Karena perjalanan ini, bukan hanya dengan dirinya sendiri.


"Aku disini"


Sahut Andin yang muncul dari arah belakang. Afsan menengok ke asal suara, dan melihat Andin berada tepat dibelakangnya.


Andin memalingkan wajahnya kesamping. Nampak jelas tubuh bagian atas Afsan terpampang polos tanpa baju yang melekat ditubuhnya. Itulah yang membuat Andin memalingkan wajahnya, ia bahkan malu sendiri melihat kotak-kotak indah di perut Afsan itu. Benar-benar pikiran yang liar.


Afsan yang melihat gelagat aneh Andin setelah melihatnya itu, langsung tersadar. Ia dengan cepat menutupi bagian atas tubuhnya dengan jubah. Lalu memakai kembali kaus panjang polos hitamnya dengan cepat.


"Ada apa kau mencariku?"


Tanya Andin menaruh pedang miliknya itu.


"Apa yang tadi kau lakukan, Andin?"


Selak Afsan saat melihat Andin menaruh pedangnya itu. Yang ditanyai malah menatap Afsan dengan wajah gusar.


"Aku hanya mencoba pedang itu. Memangnya kenapa?"


"Kau harus berhati-hati, Andin"


Ujar Afsan dengan raut wajah yang tegas. Sepertinya Afsan sedang tidak main-main dengan ucapannya itu. Ia juga bingung, memangnya ada apa dengan pedang pemberian Bio itu.


"Bio.. Kau ini memang ceroboh"


Lirih Afsan dalam hati.

__ADS_1


Bio benar-benar ceroboh. Mengapa ia harus memberikan Andin pedang lima jiwa pada Andin, yang memang belum pernah memegang benda seperti itu. Apalagi pedang lima jiwa itu sangat berbahaya dan sangat kuat. Jika salah sedikit, bisa-bisa pedang itu akan melukai siapa saja yang memegangnya dan membuat luka yang menyakitkan.


Sejauh ini, hanya orang tertentu lah yang bisa membuat pedang itu takluk seketika. Dan sepertinya, pedang itu sudah takluk pada Andin. Walaupun begitu, Afsan benar-benar bodoh. Mengapa ia tidak menyadari, pedang apa yang Bio berikan pada Andin saat itu.


"Pedang ini sangat kuat sekaligus berbahaya, kau harus benar-benar bisa menguasainya. Kalau tidak, kau akan merasakan akibatnya"


Sambung Afsan membuat Andin terdiam. Apakah yang Afsan katakan itu, benar adanya? atau hanya ingin menakut-nakuti dirinya.


"Aku berbicara jujur, kau bisa mencoba sendiri. Betapa tajam dan kuatnya pedang itu"


Kata Afsan lagi seolah membaca pikiran Andin. Lalu Afsan beranjak pergi, meninggalkan Andin yang terdiam sendiri.


Sepertinya ucapan Afsan itu memang benar adanya. Tadi saat Andin mencoba pedang itu, ia sangat kesulitan. Pedang itu sangat kuat dan berat. Namun, setelah beberapa saat Andin bisa mengatasi itu. Walaupun, tangannya harus terluka saat menaklukkan pedang itu.


"Mengapa kau diam disitu. Lukamu harus segera diobati"


Ujar Afsan berteriak. Ia tahu dan sadar jika tangan kiri Andin terluka seperti terkena sayatan benda tajam. Dan ia pun tahu, darimana luka itu berasal.


.


Sang mentari sudah menghilang dan berganti dengan langit malam yang gelap. Semilir angin berhembus kencang membuat daun-daun bergoyang pelan. Deru suara gemericik air, membuat suasana serasa sedikit tenang. Namun, tidak dengan Andin. Ia masih terjaga dimalam yang dingin ini. Entahlah, ia sedang tidak bisa tertidur. Berbeda dengan Afsan yang sudah tenang didalam mimpinya.


Lalu Andin bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju tepi kolam dan duduk disana dengan setengah kakinya terendam. Seketika Andin mengingat suasana indah dia bersama dengan mama-nya dan dengan orang-orang terdekatnya, seperti Tessa. Andin merindukan itu semua, ia tidak tahu bagaimana caranya agar terbangun dari mimpinya ini. Mimpi yang tidak akan pernah Andin harapkan.


"Andin"


Lirih suara wanita memanggil nama Andin. Sontak Andin yang mendengar hal itu pun, langsung terdiam mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


Seru Andin berdiri. Lagi-lagi, ia mendengar suara wanita memanggil namanya itu.


"Andin, jangan bersedih"


Lirih suara wanita itu lagi yang seketika membuat Andin melebarkan matanya.


Dan tiba-tiba, munculah sebuah sinar terang yang membuat Andin langsung menyipitkan matanya. Ia melihat jika cahaya itu berasal dari pepohonan besar yang berada lumayan jauh dari tempatnya berada. Samar-samar, Andin melihat jika dibalik cahaya terang itu ada sesosok wanita yang berdiri tegap menatap kearahnya.


Wanita cantik dengan senyum manis menghias wajahnya. Wanita itu memakai sebuah dress putih indah, yang terlihat tidak asing dimata Andin. Dan saat Andin menegaskan penglihatannya itu, Andin pun langsung terdiam kaku.


"Mama?"


Ujar Andin menatap wanita itu dengan wajah sedih. Apakah dia yakin dengan apa yang ia lihat kini. Mama nya, sedang tersenyum menatap dirinya dari kejauhan.


Andin melangkahkan kakinya perlahan. Matanya memanas dan tubuhnya seketika terasa lemah tak berdaya. Andin menatap wajah mama nya itu yang juga terlihat sedih menatapnya. Namun, saat ia melangkahkan kakinya lagi.


"Andin"


Ucap Afsan yang baru saja berhasil meraih tubuh Andin sebelum tercebur kedalam kolam. Dan tentunya, Andin terkejut dengan kedatangan Afsan yang tiba-tiba.


"Ada apa denganmu Andin?"


Tanya Afsan khawatir. Ia terbangun karena mendengar suara isakan. Dan ternyata, suara itu berasal dari Andin yang entah menangis apa.

__ADS_1


Andin memalingkan wajahnya menatap kearah pepohonan tadi. Ia menatap lakat mama nya yang terlihat mulai menghilang, namun senyuman diwajah mama nya itu tidak memudar.


"Jaga dirimu baik-baik, Andin"


Lirih sang mama menghilang entah kemana.


Dan setelah itu pun, Andin langsung menangis kencang meratapi kepergian mama nya. Jelas saja itu hanya pertemuan sebentar, bahkan Andin belum sampai dihadapan mama nya itu.


Afsan memeluk Andin di pelukannya dengan canggung. Sebenarnya ia ingin bertanya pada Andin tentang apa yang baru saja ia lihat. Namun melihat keadaan Andin sekarang sepertinya tidak memungkinkan. Jadi ia hanya bisa menunggu sampai esok pagi. Dan ketahuilah, jika Afsan sudah menyelamatkan Andin dua kali sebelum tercebur kedalam kolam.


.


Disisi lain, di sebuah tempat megah dan jauh berada didalam hutan. Ada seorang gadis yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya.


"Uhh, tempat apa ini?"


Lenguh gadis itu terduduk di atas ranjang yang megah. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Menatap tempat yang sangat asing di penglihatannya itu.


"Kau sudah bangun?"


Ujar seorang wanita yang terduduk disebuah bangku tidak jauh dari tempatnya berada. Wanita itu kemudian bangkit, dan berjalan mendekati gadis itu.


Gadis itu menatap sang wanita dengan was-was. Mungkin saja sosok wanita yang sedang berjalan didalam bayangan gelap itu, bukanlah manusia.


"Tuan Putri?"


Sambung wanita itu tersenyum lebar menampakan dirinya.


Sang gadis terdiam menatap wanita dengan penampilan serba hitam itu berada didekatnya. Wajahnya benar-benar terlihat muda dan cantik. Namun senyumnya yang lebar itu, benar-benar seram baginya.


"Kau manis sekali, siapa namamu?"


Kata wanita itu lagi sambil membelai lembut rambut sang gadis. Membuatnya menjadi tidak nyaman berada didekatnya.


"Namaku Tessa"


Ucap gadis itu. Ya, gadis itu adalah Tessa. Dia baru saja terbangun dan berada ditempat jauh dan sangat sepi itu. Tessa bingung, dimana dirinya berada sekarang.


Mendengar itu, wanita itu tersenyum licik. Ia membasahi bibirnya sendiri dengan lidahnya yang panjang seperti ular. Matanya menyala, menatap Tessa yang terlihat bingung ditempatnya.


"Dimana ini, dan siapa namamu?"


Tanya Tessa. Sepertinya, ia bukan berada ditempat seperti ini. Dan terlebih, wanita itu juga sangat asing.


"Kau berada di, Afhanda. Dan namaku adalah, Dailey"


Jawab sang wanita terseyum. Tessa hanya mengangguk-angguk saja. Tiba-tiba ia memikirkan Andin, dimana ia saat ini.


Dan Tessa pun kemudian kembali mengingat bagaimana dirinya dibawa oleh monster didalam hutan. Apakah Dailey yang menyelamatkan dirinya dari sang monster?


.

__ADS_1


Sakay.


__ADS_2