Putri Di Negri Afhanda

Putri Di Negri Afhanda
28- Tanaman obat Cavelo


__ADS_3


Happy Reading -



Andin terdiam, dengan tangannya yang perlahan membuka kupluk jubahnya. Ia menatap lekat sesosok wanita didepannya itu. Sang wanita itu pun, juga menatap Andin dengan bingung sekaligus penasaran. Sebab, wajah Andin sangat asing. Mungkinkah Andin berasal dari negri yang jauh.


"Hei Andin"


Seru Afsan pada Andin. Namun Andin hanya membalasnya dengan lirikan sekilas. Membuat Afsan jengah dengan lirikan Andin itu.


Andin lalu turun dari kudanya. Ia tersenyum pada wanita itu. Namun wanita itu hanya diam ditempatnya, dengan diri yang waspada ia terus mengamati gerak-gerik Andin yang mendekatinya.


"Hai, perkenalkan aku Andin"


Ujar Andin tepat didepan wanita itu tersenyum hangat dan menjulurkan tangannya pada sang wanita.


Cukup lama mereka saling terdiam dengan tangan Andin yang belum juga terbalaskan. Akhirnya wanita itu pun mengangkat suaranya.


"Aku Sena"


Balas wanita bernama Sena itu membalas uluran tangan Andin. Andin pun menjadi tersenyum akan hal itu.


"Kau sedang apa disini?"


Tanya Andin. Dan Sena menjawabnya dengan sebuah gelengan.


"Apakah kau baik-baik saja?"


Tambah Andin khawatir melihat keadaan Sena yang terlihat pucat dan lesu. Dan Kali ini Sena diam.


Andin tahu jika Sena sedang tidak baik-baik saja. Bahkan terlihat dari wajahnya yang sangat lelah. Namun Sena masih diam saja ditempatnya. Tanpa Andin ya, Sena merasakan pusing di kepalanya. Matanya perlahan memburam, dan semuanya terlihat seakan berputar-putar.


Brukkk


Tubuh Sena terhuyung kedepan. Dan untungnya dengan cekatan Andin menahan tubuh Sena agar tidak jatuh ketanah.


Afsan yang melihat itu segera turun dari kudanya. Ia mendekati kearah mereka berdua dan membantu Andin untuk menaruh Sena dibawah pohon. Sepertinya Sena pingsan karena kelelahan.


.


Setelah cukup lama Andin dan Afsan menunggu Sena untuk kembali sadar, akhirnya Sena pun tersadar. Dengan kepalanya yang masih terasa pusing, Sena menatap kedua orang asing didepannya itu. Andin yang melihat Sana pun tersenyum senang dan Afsan sendiri dengan wajahnya yang datar.


"Akhirnya kau sadar juga, Sena"


Ujar Andin pada Sana yang memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


"Kau baik-baik saja?"


Tanya Andin khawatir. Lalu tanpa diminta, tiba-tiba Afsan memberikan sebuah apel dan air kepada Sena. Dan Sena dengan sergap menerimanya.


"Terimakasih"


Seru Sena sedikit menundukkan kepalanya. Afsan pun hanya diam mendengarkan tanpa berniat untuk membalasnya kembali.


Sena meminum air yang berada didalam bambu dengan tergesa, sepertinya ia sangat haus. Dan juga itu adalah bukti dari perjalanan jauh ia untuk mengambil taman obat yang hanya tumbuh lima tahun sekali. Sudah bertahun-tahun Sena menunggu agar tanaman itu tumbuh.

__ADS_1


Namun saat sudah tumbuh dan di petiknya, ia pun harus merelakan tanaman itu dicuri oleh para bandit. Sena juga tidak bisa melawan, karena tenaganya juga terkuras habis untuk perjalanan ia menuju tanaman obat itu.


"Aku baik-baik saja, terimakasih atas pertolongannya"


Kata Sena pada Andin dan Afsan.


"Syukurlah"


Andin bernafas lega. Namun Andin masih penasaran dengan asal dan mengapa Sena bisa berada ditengah hutan.


"Kau berasal dari mana?"


Ujar Afsan menatap Sena lekat. Afsan pun tak kalah penasarannya pada Sena, sama seperti Andin.


Sena terdiam sejenak, lalu menghembuskan nafasnya perlahan. Sena ragu, ia takut jika mereka berdua adalah orang yang jahat. Namun melihat perlakuan mereka tadi terhadapnya, mampu membuat Sena tahu jika Andin dan Afsan adalah orang yang baik.


"Aku berasal dari Desa Houko"


Ungkap Sena.


"Houko?"


Tanya Afsan yang merasa tidak asing saat mendengar nama desa Houko tersebut.


"Ya, desa terpencil yang berada di atas gunung Mahera"


Tambah Sena membuat Afsan semakin dibuat penasaran. Ia yakin jika dirinya pasti tahu mengenai desa itu.


"Gunung Mahera? bukankah itu sangat jauh?"


Ungkap Afsan yang dibalas anggukan dari Sena.


"Lalu untuk apa kau datang kesini?"


Afsan semakin penasaran, berbeda dengan Andin yang hanya diam menyaksikan tanpa tau harus menjawab apa.


"Aku sedang mencari tanaman obat untuk penyembuh penyakit adikku. Namun saat aku sudah mendapatkan nya dan ingin kembali pulang. Ditengah perjalanan aku di cegah oleh sekelompok bandit dan semua tanaman obat langka itu di ambilnya tanpa ada yang tersisa"


Ungkap Sena kembali mengingat kejadian dimana ia merasa sangat tidak berguna semalam.


"Tanaman obat langka apa itu?"


Tanya Afsan. Ia tidak mengetahui banyak mengenai obat-obatan, tapi sepertinya ia tahu apa tanaman obat langka itu.


"Tanaman obat Cavelo. Dan hanya tumbuh dalam kurun lima tahun sekali"


Dan benar dugaan Afsan. Ternyata tanaman itu adalah Cavelo. Jenis tanaman langka dan sangat mahal.


Cavelo adalah tanaman obat langka yang bisa dipakai untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk penyakit mematikan. Namun sampai sejauh ini, tanaman obat itu semakin langka. Terlebih tanaman itu hanya tumbuh lima tahun sekali. Itulah mengapa para bandit sangat mengincar tanaman itu. Karena nantinya saat dijual akan sangat mahal dan menguntungkan.


"Tanaman seperti apa itu?"


Tanya Andin ingin tahu.


"Apakah kau ingin melihatnya?"


Sahut Sena membuat Andin mengangguk antusias.

__ADS_1


"Baiklah, namun itu berletak cukup jauh"


"Ya, kau bisa naik kuda bersamaku"


Ajak Andin berdiri dari duduknya. Mereka pun segera melangkah pergi dari tempat itu. Andin menaiki kuda bersama Sena. Sedangkan Afsan hanya dengan dirinya sendiri.


Setelah itu, mereka semua segera beranjak menuju tanaman obat itu berada. Afsan sebenarnya ingin sekali mengajak Andin untuk segera pergi melanjutkan misinya itu. Namun melihat Andin begitu antusias, juga Sena dengan wajahnya yang masih sedih. Membuat Afsan mengurungkan niatnya.


.


Setelah perjalanan yang lumayan jauh. Akhirnya mereka bertiga pun sampai didepan sebuah tanaman sepetak dengan bunganya yang terlihat cantik. Ya, itu adalah tanaman obat Cavelo.


"Inikah tempatnya?"


"Ya"


Andin kembali tercengang. Ia sangat menyukai warna merah muda dari bunga itu. Bahkan saat Andin memegangnya, bunga itu sangat halus dan menyenangkan.


"Ohya, dimana tanaman obat itu?"


Tanya Andin.


"Tanaman obat itu berasal dari bunga, dan berbentuk seperti mutiara. Obat itu pun berada tepat ditengah bunga yang bermekaran. Namun karena sudah aku ambil, dan beberapa bunga yang juga aku cabut. Sekarang hanya menyisakan sebagai ini saja"


Balas Sena. Karena saking semangatnya ia untuk mengambil tanaman itu, ia pun juga ikut membawa bunga dan beserta daun-daun ke kantungnya.


Andin tersenyum kecil. Ia mengusap-usap bunga didepannya itu dengan lembut. Dan berfikir, andai saja ia bisa membuat bunga itu bermekaran.


"Bermekar lah"


Lirih Andin. Namun siapa sangka jika semua bunga itu menjadi bermekaran. Sontak membuat Afsan dan Sena terkejut ditempatnya.


Andin menarik tangannya kembali. Ia merasa aneh dan takut bersamaan. Apakah itu sebuah kebetulan? namun bukannya tanaman itu hanya tumbuh sekali dalam lima tahun?


"Bagaimana bisa?"


Ujar Sena dengan tangan yang mulutnya yang bergetar ingin menangis. Sena tidak tau apa yang sebenarnya terjadi sekarang. Apakah itu semacam sihir?


Andin terdiam dengan wajahnya yang bingung. Bagaimana bisa ia membuat bunga itu seketika bermekaran hanya dengan sekali ucapan. Andin pun mengangkat kedua telapak tangannya itu dan memperhatikannya dengan seksama. Ia ingin mencari apakah ada yang aneh disana.


Afsan memperhatikan Andin dalam diam. Sepertinya semakin jelas kecurigaannya jika Andin bukanlah wanita biasa. Dirinya sendiri pun juga harus mengetahui itu lebih dalam.


"Terimakasih, terimakasih, Andin"


Kata Sena memegangi tangan Andin dengan wajahnya dipenuhi air mata. Membuat Andin terdiam dibuatnya.


"Pakailah ini"


Afsan memberikan kantung yang terbuat dari daun-daun miliknya itu pada Sena. Sepertinya ia membutuhkan.


"Terimakasih"


Balas Sena pada Afsan.


Sena pun dengan gencar memetik obat di bunga yang bermekaran itu. Entah apa yang Andin lakukan tadi, tapi yang pasti obat untuk penyakit Rene bisa ditemukan kembali.


.

__ADS_1


Sakay.


__ADS_2