
Happy Reading -
Sebuah cahaya terang berkilauan terlihat sangat indah dipandang dari kejauhan. Siluet mentari pun seakan memberikan tempat itu sebuah kenyamanan. Andin tak henti-hentinya melajukan kudanya agar cepat sampai didepan sana. Sebuah tempat yang dipenuhi dengan berbagai keindahan alam yang melimpah didalamnya.
Afsan memimpin barisan, ia berjalan cepat paling depan. Sedikit lagi mereka akan sampai ditempat nan indah, tujuan mereka. Rene juga turut serta dalam perjalanan ini, seperti janjinya.
Flashback
"Apa tujuan kalian? dan darimana asal kalian?"
Tanya Sena
Andin melirik Afsan, melihat apakah ia akan menjawabnya. Mereka bertiga kini tengah berkumpul sambil menikmati hidangan yang disajikan oleh Sena.
"Kami ingin pergi ke, Antlasia"
Sahut Afsan.
"Antlasia? sepertinya aku pernah mengunjungi tempat itu. Aku akan menemani kalian kesana, sebagai ucapan terimakasih atas bantuan kalian berdua"
Tawar Sena sambil tersenyum. Afsan pun hanya mengangguk saja mendengarnya.
__ADS_1
"Dan kalian berasal dari mana?"
Tanya Sena lagi masih penasaran.
"Selter"
Singkat Afsan menjawab.
Andin baru tahu jika tempat itu bernama, Selter. Afsan bangkit dan beranjak pergi dari sana, menyisakan Andin dan Sena yang masih pada tempatnya. Sena terdiam setelah mendengar kata Afsan, ia tidak menduga jika kedua orang itu berasal dari Selter.
Selter salah satu kota besar yang indah dulunya. Namun sampai suatu hari, kota Selter dan kota lainnya menjadi hancur tak tersisa.
.
Cahaya terang berkilauan didepan seakan menyapa dan membiarkan ketiga orang itu memasukinya. Hingga akhirnya sampailah Andin, Afsan dan Sena didepan hutan luas membentang yang sangat berwarna. Berbeda saat berada dikawasan tadi, yang masih menyimpan banyak misteri.
"Antlasia"
Gumam Afsan, akhirnya ia berhasil sampai ditempat tujuannya.
Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Afsan pergi ke Antlasia. Dulu sewaktu Afsan masih kecil, ia pernah dibawa oleh Ayahnya mengunjungi Antlasia. Entah apa yang Ayahnya lakukan saat itu, disana Afsan hanya sekedar menemaninya.
"Sudah lama aku tidak mengunjungi tempat ini"
Ucap Sena menatap hutan didepannya.
__ADS_1
Sena juga pernah datang menjelajahi Antlasia. Ia mencari tanaman obat Cavelo, namun saat itu Cavelo belum tumbuh. Dan membutuhkan waktu 4 tahun lagi. Tapi beruntungnya, yang masih didalam kawasan negri Afhanda. Tanaman Cavelo itu juga tumbuh subur disana.
"Ayo kita lanjutkan"
Seru Andin yang dibalas anggukan dari lainnya.
Merekapun bergerak memasuki negri Antlasia cepat. Setelah menjejakkan kaki di Antlasia, mereka bisa merasakan sesuatu yang berbeda disana. Disana terasa sangat indah dan menenangkan, berbeda jika di Afhanda. Terlihat sangat misterius dan diselimuti hawa menyeramkan.
Andin dapat merasakan perbedaan itu. Angin sejuk pun membuatnya terdiam kesenangan. Bisa dibandingkan jauh saat berada di kota Selter. Andin melirik keberbagai arah. Pohon-pohon disini sangat hidup dan berwarna. Bahkan bunga-bunga yang bermekaran juga
tak hentinya menari-nari mengikuti angin yang menerpanya. Benar-benar sangat indah.
"Andin, bukankah negri ini sangat indah?"
Seru Sena menjejerkan posisinya dengan Andin.
"Ya, aku menyukainya"
Sahut Andin terseyum senang.
Afsan yang berada di paling depan samar-samar mendengar percakapan mereka berdua. Dan tanpa sadar wajah yang tanpa ekspresi pun tiba-tiba menerbitkan senyum kecil setelah mendengarnya.
Memang tempat ini sangat indah, namun dulu Afhanda juga tak kalah keindahannya. Banyak kekayaan alam melimpah di Afhanda, namun entah mengapa suatu hari Afhanda mendadak jadi negri mati.
.
__ADS_1
Sakay