Putri Di Negri Afhanda

Putri Di Negri Afhanda
38- Kepergian Hedof


__ADS_3


Happy Reading -



Uhuk..Uhukk


Andin terbatuk, matanya terbuka perlahan. Dan melihat sesosok lelaki yang sedang menatapnya khawatir. Tunggu, lelaki itu adalah Afsan. Apa yang sedang ia lakukan?


"Andin, kau tak apa?"


Tanya Sena dengan wajah khawatir.


Andin bangkit dari pangkuan Afsan, kepalanya terasa sangat pusing. Andin tidak begitu mengingat bagaimana ia bisa berada di atas batu itu. Apakah arus sungai yang deras membuatnya menyangkut diantara bebatuan. Tapi tak apa, dengan begitu Andin bisa lebih gampang untuk ditemukan. Daripada terus terbawa oleh arus sungai.


"Ya, aku tidak apa-apa"


Balas Andin lemah.


"Ada apa, mengapa kalian menatapku seperti itu?"


Tanya Andin merasa bingung. Kedua temannya itu benar-benar menatapnya intens.


"Kau ini, apakah kau tidak tahu kalau aku sangat khawatir padamu. Untung kau tidak apa-apa, hanya pingsan saja"


Kata Sena sambil memeluk tubuh Andin dengan erat.


Andin meringis sambil membalas pelukan itu. Ya untunglah jika ia hanya pingsan saja. Sepertinya Afsan telah menyelamatkan nya, walaupun wajahnya itu masih sama datarnya.


"Untunglah Afsan cepat memberi pertolongan pertama padamu"


Cetus Sena yang membuat Andin terdiam seketika.


Pertolongan pertama, apa itu? Mengapa pikiran Andin menjadi melayang entah kemana. Sampai membuat pipinya menjadi merah merona membayangkannya.


Flashback


Didepan sana, sudah terlihat banyak bebatuan yang berada ditengah-tengah arus deras itu. Afsan mempercepat langkahnya lagi, ia penasaran apakah Andin akan berhenti disana atau terus terbawa oleh arus.


"Andin!"


Pekik Afsan melihat Andin yang terdampar di salah satu batu besar.


Tanpa berlama lagi, Afsan langsung turun dari kudanya dan bergegas menuju tempat Andin berada. Tanpa perduli bagaimana arus sungai menerpanya, tapi untunglah ada bebatuan yang bisa dipijak untuk mencapai ketempat Andin tanpa harus masuk kedalam sungai.


"Andin... Andin.."


Seru Afsan sambil mencoba membangunkan Andin dengan menepuk pelan pipinya.


"Cepatlah, beri Andin pertolongan!"

__ADS_1


Kata Sena khawatir.


Afsan mengikuti kata Sena, ia mulai menggunakan cara cpr pada Andin dengan sedikit khawatir. Namun, sampai beberapa saat Andin belum sadar juga. Apakah tekniknya salah, Afsan tidak begitu yakin.


"Ayolah Afsan, gunakan cara lain"


Cetus Sena tidak sabaran.


Sepertinya Afsan harus mencobanya, bagaimana pun juga nyawa Andin sangat berharga. Tidak ada cara lain lagi, ia akan melakukan cara ini. Melakukan pertolongan pernafasan dengan cara mouth to mouth. Dan setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Andin bisa sadar kembali. Seperti yang Andin pikiran, kalau Afsan memang benar-benar melakukan itu.


"Dimana Hedof?"


Kata Andin saat menyadari tidak ada Hedof bersama mereka.


Seketika Andin menyadari perbedaan raut wajah diantara kedua temannya itu. Sepertinya sesuatu ada yang berubah, atau mereka sedang menyembunyikan nya.


"Hedof sudah pergi"


Sahut Afsan.


"Benarkah?"


Afsan mengangguk menanggapi itu. Sena menjadi bingung harus menjawab apa, berbohong pun membuat Sena tidak enak hati pada Andin. Tapi disisi lain, apakah mereka harus memberi tahu Andin jika Hedof pergi setelah diancam Afsan karena dianggap membahayakan.


"Ya, Hedof telah pergi. Aku juga tidak tahu ia akan pergi kemana"


Sela Sena meyakini Andin.


Tanya Andin lagi.


Afsan yang mendengar itu menjadi tidak suka. Ia merasa jika Andin terlalu memikirkan Hedof, tapi tunggu... Mengapa Afsan juga berpikiran seperti itu?


"Sudahlah, bisakah kau berhenti bertanya Andin"


Cetus Afsan lalu membawa Andin ala bridal style.


"Hei, turunkan aku!"


Pekik Andin sedikit berontak.


"Diam lah, bisa-bisa kita terjatuh kedalam sungai nanti"


Kata Afsan dengan tegas.


Andin hanya pasrah dengan itu. Lagi-lagi ia dibawa oleh Afsan dengan keadaan seperti ini. Matahari juga tengah menenggelamkan dirinya, berganti dengan malam yang sedikit lagi akan sampai. Afsan mencari sebuah tempat untuk mereka beristirahat saat ini. Goresan ditubuh Andin akibat terhanyut tadi harus segera diobati.


Dibalik sebuah pohon besar, ada Hedof yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Senyumnya mengembang saat melihat Andin yang sudah tersadar. Tapi ia ragu untuk menampakan dirinya pada Andin. Ia merasa jika ucapan Afsan tadi tidak main-main. Hedof takut jika ia akan dibunuhnya, bagaimana pun juga ia masih ingin hidup. Mana belum menikah.


"Beristirahat lah, besok kita akan memulai perjalanan lagi"


Seru Afsan pada Andin dan Sena.

__ADS_1


"Aku akan pergi untuk mencari makanan"


Tambah Afsan lagi sebelum benar-benar pergi.


Andin tersenyum menatap kepergian Afsan, Sena membuat sebuah api unggun agar tetap hangat. Sedangkan Andin, ia tengah mencari kayu untuk api unggun itu. Andin sedikit takut untuk mendekati sungai, bayangan bayangan tadi juga masih terngiang-ngiang.


"Sut..Sut"


Terdengar suara orang yang entah dari mana. Andin yang samar-samar mendengar itu hanya menghiraukannya saja.


"Andin, hei"


Andin yang merasa terpanggil itu sontak menjadi was-was.


"Siapa?"


Sahut Andin ingin tahu, apakah itu nyata atau halusinasinya saja.


"Ini aku, Hedof"


"Aaaaaaaa!"


Teriak Andin terkejut saat melihat Hedof yang berada tepat dibelakangnya. Dengan cepat Hedof menyuruh Andin untuk berhenti, karena ia takut jika Afsan dan Sena akan mendengar itu.


"Ini aku, Hedof. Maaf membuatmu terkejut"


"Kau ini, bisa-bisanya membuatku terkejut. Ada apa, mengapa kau pergi?"


Hedof hanya tersenyum tipis sambil memberikan Andin secarik kertas. Dan dengan sergap Andin mengambil kertas itu.


"Maafkan aku Andin, aku harus pergi. Maaf telah berbohong pada kalian, aku akan pergi. Semoga kita bisa bertemu lagi"


Tutur Hedof membuat Andin kebingungan. Apa yang terjadi sebenarnya, bukankah ia bilang akan membantunya untuk pergi ke Lembah Okura.


"Kau mau pergi kemana Hedof, bukankah kau ingin membantu kami untuk pergi ke Lembah Okura?"


Hedof terdiam mendengar pernyataan Andin. Ia merasa menjadi semakin bersalah pada Andin. Karena Andin lah yang setuju pada Hedof yang berkata akan membantu mereka.


"Tidak Andin, maaf"


Lirih Hedof lalu berbalik untuk segera pergi.


Andin yang melihat itu segera untuk menahan Hedof. Alasan Hedof tadi benar-benar membingungkan, apa sebenarnya yang ingin ia lakukan.


"Andin, kau dimana?"


Teriak Sena yang membuat langkah Andin terhenti. Disaat itulah, Hedof memanfaatkan kesempatan itu untuk segera pergi.


Dan akhirnya dengan terpaksa, Andin kembali untuk ketempat semula. Padahal ia masih ingin tahu apa yang membuat Hedof pergi. Alasan Hedof tadi, membuat Andin menjadi semakin penasaran. Ada apa sebenarnya, juga mengapa Hedof menemuinya dengan diam-diam. Sepertinya ada sesuatu yang telah Andin lewatkan.


.

__ADS_1


sakay


__ADS_2