Putri Di Negri Afhanda

Putri Di Negri Afhanda
39- Cincin permata biru Zrozoa


__ADS_3


Happy Reading -



Hedof melangkahkan kakinya cepat dari tempat itu. Dengan perasaan yang cukup lega setelah berbicara pada Andin, sepertinya ia bisa pergi tanpa ada rasa yang tertahan lagi. Ia berjalan kaki tanpa kuda, kudanya ia ikat didekat pohon tempat mereka beristirahat. Mungkin esok hari, akan terlihat kuda itu yang tertutup oleh gelapnya malam.


"Berikan padaku kayunya"


Kata Sena.


Andin yang mendengar itu, langsung memberikan beberapa ranting dan kayu pada Sena. Dengan cekatan, Sena membuat api unggun yang ia buat sendiri.


"Apakah kau membutuhkan bantuan lagi, Sena?"


Tanya Andin yang langsung mendapatkan gelengan dari Sena.


"Tidak, aku sudah biasa melakukan ini. Biarkan aku saja"


Balas Sena.


Andin tersenyum melihat itu, Sena memang sudah terbiasa melakukan itu. Membuat api unggun untuk para penduduk suku saat mereka dilanda oleh suhu dingin. Sena memang orang yang hebat dan cekatan.


"Baiklah"


Andin beranjak pergi untuk duduk dibawah pohon tak jauh dari sana. Dirinya penasaran dengan sebuah surat yang Hedof berikan padanya. Apa sebenarnya yang ia lakukan, mengapa juga ia pergi tiba-tiba. Surat itupun dibuka, terlihat sebuah tulisan panjang yang Hedof tuliskan. Dan dengan fokus, Andin membaca surat itu.


"Hai semuanya, maaf aku telah membuat kebohongan besar pada kalian. Sebenarnya, aku memiliki tujuan lain pada kalian semua. Aku tidak berniat mengantarkan kalian ke Lembah Okura, dan berbohong jika jalanan menuju kesana ada halangan seperti yang aku katakan. Tadinya aku memang tidak ingin mengantarkan kalian kesana, tapi melihat perjuangan kalian aku menjadi mengurungkan niatku. Disini, aku hanya ingin mencari cinci permata ku, agar aku bisa kembali pulang kerumah. Sebab tanpa itu, aku tidak akan bisa pulang karena lupa dengan arahnya. Maaf aku terlambat untuk mengakui ini, terimakasih atas perjalanan ini. Semoga kita akan bertemu lagi.


Hedof Agearzis"


Andin yang membaca surat itu menjadi tidak karuan. Perasaannya menjadi sedih seperti kehilangan seorang teman yang berharga. Ia tidak merasa jika Hedof memiliki niat yang tidak baik pada mereka semua. Maka dari itu, ia menerima ajakan Hedof saat berada dikota. Karena Andin yakin, Hedof bukan orang yang jahat.


Tiba-tiba Andin teringat oleh sebuah cincin yang ia temukan di sungai. Andin segera mengeluarkan cincin itu dari sakunya, cincin permata berwarna biru yang sangat indah. Apakah ini adalah cincin yang dicari oleh Hedof? Jika ia, secepat mungkin Andin akan mengembalikan padanya.


"Kau sedang apa?"


Ucap Afsan tiba-tiba baru sampai disana.


"Tidak ada, aku hanya sedang duduk"


Balas Andin bangkit.


"Andin... Afsan kemarin lah, aku akan membuat ikan bakar"


Teriak Sena membuat kedua orang itu segera beranjak dari sana.


Malam itu mereka habiskan untuk beristirahat, dinginnya angin malam membuat Andin terkadang terpikirkan oleh Hedof yang entah berada dimana sekarang. Mungkin nanti, Andin akan mengembalikan cincin ini pada Hedof.


Disisi lain, disebuah ruangan yang hanya diterangi dengan cahaya yang remang. Ada seorang gadis yang tengah terduduk diam diatas ranjang yang terasa dingin dikulit. Matanya menatap lekat kearah kegelapan yang terdapat seseorang disana. Tatapan yang menyiratkan sebuah kesedihan yang mendalam.


"Lepaskan aku, apa yang ingin kau lakukan sebenarnya?!"


Teriak Tessa pada Dailey menggema keseluruhan ruangan.


Sekuat tenaga Tessa menahan tangisan dan amarahnya. Dailey mendekat kearah Tessa dengan wajah yang serius, terlihat sangat dingin menyeramkan. Namun dibalik wajah dingin itu, Tessa bisa merasakan sebuah kesedihan.

__ADS_1


"Kau anakku"


"Kau adalah putriku"


"Kau milikku, dan kau tidak boleh menjauh dariku"


Ucap Dailey membuat Tessa menjadi terdiam.


Dailey semakin mendekat kearahnya, Tessa mundur seketika saat Dailey ikut terduduk disampingnya. Dailey mengambil tangan Tessa, dan menggenggamnya erat. Membuat Tessa bisa merasakan, dinginnya kulit Dailey ditangannya.


"Aku bisa tahu itu kau"


"Dan inilah yang membuatku yakin"


Ucap Dailey sambil menunjukkan sebuah cincin yang sama seperti cincin punya Andin. Cincin berwarna permata hijau, sama persis seperti yang Dailey kenakan juga.


Disaat itulah Tessa menjadi berpikir keras, apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka saat ini. Cincin yang dikenakan oleh Dailey, benar-benar mirip dengan punya Dailey. Namun bedanya, di cincin yang Dailey kenakan. Terdapat sebuah ukiran huruf insinal orang, yaitu huruf N.


"Tidurlah dan jangan pernah berpikir akan kabur dari tempat ini"


Pekik Dailey bangkit, dan perlahan pergi.


Namun, Tessa adalah Tessa. Ia akan terus mencoba untuk pergi dari sini. Karena Tessa tidak sama sekali kenal dengan Dailey, dan Ibunya juga bukan Dailey. Tapi yang pasti, ia harus mencari tahu pada Andin tentang cincin yang ia punya. Mungkin nanti akan jelas, siapa anak yang Dailey cari selama ini. Apakah anak itu adalah Andin?


"Hoamm... Selamat pagi"


Ucap Sena yang baru terbangun dari tidurnya.


"Pagi juga, apakah tidurmu nyenyak?"


Tanya Andin yang sudah terbangun lebih awal.


Jawab Sena.


"Apakah kita akan memulai perjalanan lagi?"


Tanya Sena yang melihat Andin dan Afsan tengah menyiapkan segala kebutuhannya.


"Ya, kau bersiaplah"


Sahut Andin.


Dengan cepat Sena berlari menuju sungai, ia membasuh wajahnya agar lebih segar. Tanpa sengaja, saat Sena ingin kembali matanya melihat sesosok kuda yang terikat disebuah pohon tak jauh dari sana. Jika dilihat lebih dekat, kuda itu sama seperti yang Hedof miliki.


Sena segera melepaskan kuda itu, ia terdiam bingung mengapa kuda itu ada disini. Padahal kemarin tidak ada, apakah Hedof ada disini juga. Tapi sepertinya tidak ada, hanya sepi yang mendiami tempat itu.


Sena pun membawa kuda itu agar ikut dengannya, karena kuda yang mereka punya kemarin hanya tersisa dua. Sedangkan kuda milik Andin, sudah hanyut terbawa sungai.


"Ini kuda milik siapa?"


Tanya Andin melihat Sena dengan kuda putih yang dibawanya.


"Aku menemukannya sedang terikat disebuah pohon"


Sahut Sena.


Afsan sudah tahu kuda siapa yang Sena bawa. Kuda berwarna putih, milik Hedof. Sama seperti Afsan, Andin juga tahu siapa pemilik kuda itu.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita pergi"


Cetus Afsan yang sudah siap.


Sena juga segera siap, berbeda dengan Andin yang merasa semakin ingin untuk pergi mencari Hedof.


"Kita akan kemana?"


Tanya Andin.


"Lembah Okura"


Balas Afsan datar.


"Tapi aku ingin pergi untuk mencari Hedof. Aku tahu pasti sudah terjadi sesuatu pada kalian selagi aku hanyut di sungai. Dan aku juga tahu, apa yang selama ini kau curigai pada Hedof"


Kata Andin membuat Afsan tidak jadi untuk melangkah.


"Andin..."


Lirih Sena khawatir.


Suasana disana seketika berubah, menjadi menegangkan. Afsan melirik Andin, wajahnya sangat datar dan dingin. Andin pun tidak mau kalah, ia juga memasang wajah tegasnya.


"Apa yang kau tahu?"


Tanya Afsan singkat.


Andin menelan ludah melihat wajah Afsan yang sangat menyeramkan. Sepertinya, ia marah.


"Aku tahu jika selama ini kau menaruh curiga pada Hedof, curiga kalau ia mempunyai niat jahat pada kita semua. Tapi ia tidak begitu, walaupun memang awalnya ia mempunyai niat yang berbeda. Namun itu semua, juga untuk mencari sebuah cincin berharga untuknya"


Kata Andin sambil menunjukkan mereka sebuah cincin permata biru. Afsan tertegun melihat itu, ia tahu pasti cincin apa yang berada ditangan Andin. Sebuah cincin permata biru milik sebuah makhluk besar yang bernama Evector.


"Cincin itu, bukannya cincin Zrozoa"


Lirih Sena yang juga mengetahui cincin itu.


"Kalian tahu tentang cincin ini?"


Tanya Andin penasaran.


Sena mengangguk, ia memang tahu sedikit dengan makhluk besar Evector itu. Makhluk besar yang hampir mirip dengan naga, namun mempunyai kekuatan mistis yang berbeda.


"Jadi, apakah Hedof makhluk Evector?"


Cetus Sena.


Andin dengan cepat mengeluarkan surat yang Hedof berikan. Ia memberikannya pada Afsan, dan dengan cepat Afsan membacanya. Jadi apakah benar jika Hedof salah satu makhluk Evector.


"Bagaimana, apakah kau mau membantu Hedof?"


Lirih Andin pada Afsan.


Afsan hanya diam mendengar ucapan Andin. Sena pun yang juga membaca surat itu, membuat perasaannya tidak menentu. Kini mereka tinggal menunggu jawaban dari Afsan, karena ia yang mengetahui perjalanan ini. Namun jika ia tidak mau, Andin akan pergi sendiri mencari Hedof.


.

__ADS_1


Sakay.


__ADS_2