Putri Di Negri Afhanda

Putri Di Negri Afhanda
16- Berlindung


__ADS_3


Happy Reading -



Semua orang kembali terdiam merenung, meratapi nasib mereka yang hampa ini. Ada yang masih menangisi kepergian orang-orang yang dicintainya, karena mati saat berlarian mencari perlindungan tadi. Ema juga sudah mengobati tangan Renlod dan sekarang sedang menunggu Renlod untuk sadar.


Bio dan Afsan juga hilang entah kemana. Dari banyaknya penduduk di gua ini, membuat Andin sulit untuk mencari keberadaan mereka. Gua ini juga cukup besar untuk di jelajahi, dan sepertinya Andin tertarik akan hal itu. Andin berjalan pergi mengikuti jejak lurus di gua ini, sambil berjalan pelan karena banyak penduduk yang sedang tertidur dan beristirahat.


"Tempat apa ini?"


Gumam Andin menatap kagum pada tempat didepannya ini.


Andin menjejakkan kaki di sebuah tempat yang berada cukup dalam kedalam gua. Tempat itu lumayan besar, dan sangat indah dipandang mata. Dinding-dinding berbatu didalam gua itu berwarna hijau tosca menyala. Tempatnya juga sangat sejuk walupun bertempat jauh didalam. Cahayanya juga sangat indah, yang terpancar dari di dinding itu.


Perlahan Andin melangkahkan kakinya maju. Andin berjalan menuju sebuah batu besar didalam tempat itu. Batu yang lumayan besar yang terlihat kokoh didalam sana.


"Nadin?"


Gumam Andin sambil menatap sebuah ukiran nama di batu itu. Bukan hanya ukiran, namun juga terdapat dua jejak telapak tangan seseorang disana.


"Sedang apa kau disana?"


Ucap seseorang mengagetkan Andin. Sontak Andin langsung menoleh menatap orang yang memanggil namanya tadi.


"Afsan"


Ujar Andin menatap Afsan yang berada di ujung sana.

__ADS_1


Namun disana bukan hanya ada Afsan saja. Ada Bio juga yang baru saja sampai di sana, dan berdiri tegap disamping Afsan.


"Kau kemana saja?"


Tanya Bio yang berada tepat di samping Afsan.


"Aku pun juga mencarimu. Bahkan aku sampai kesini"


Ujar Andin menatap mereka bergantian.


"Yasudah, mari kita membantu penduduk yang lainnya"


Kata Bio menuntaskan percakapan. Lalu merekapun segera menuju para penduduk disana.


Banyak penduduk yang terluka ataupun masih trauma. Bio, Andin, dan Afsan akan membantu semua penduduk itu. Mereka tidak hanya bertiga, tapi ada juga orang-orang yang mengerti akan hal itu untuk membantu mereka. Mereka harus berkerja keras, karena penduduk lumayan banyak dengan keadaan yang sangat memprihatikan.


.


.


.


Angin malam dengan lincahnya membuat banyak orang didalam gua kedinginan. Andin yang sedang tidur pun terbangun karena merasakan dingin di sekujur tubuhnya. Perlahan Andin bangkit, dan berjalan menuju Ema terlihat tengah memberitahu Bio dan Afsan diujung sana.


"Hai Andin, kau sudah bangun?"


Ucap Ema saat melihat Andin yang menuju kearahnya. Andin yang mendengar itu pun hanya mengangguk saja.


"Duduklah. Ada yang ingin aku bicarakan pada kalian semua"

__ADS_1


Kata Ema menatap semua orang didepan itu. Bukan hanya mereka bertiga saja. Namun ada dua orang lelaki lain yang bergabung juga.


"Keadaan kita disini sangat darurat. Banyak penduduk yang kedinginan dan kelaparan. Kita tidak mempunyai persediaannya apapun selain obat-obat disini. Dan aku menyuruh kalian untuk kumpul disini karena"


Kata Ema pada semua orang didepannya. Andin menatapnya fokus pada Ema yang sedang berbicara itu.


"Aku menyuruh kalian untuk keluar dari gua dan masuk kedalam gudang penyimpanan di balai desa yang terdapat banyak persediaan barang. Disana ada banyak selimut untuk, juga bawalah makanan untuk kita semua. Dan jangan lupakan kayu untuk membuat api unggun"


Ujar Ema panjang lebar. Mereka semua hanya mengangguk-angguk paham.


"Baiklah. Kita semua akan berangkat segera"


Pekik Afsan sambil bangkit, disusul yang lainnya. Setelah itu pun, satu persatu dari mereka mulai pergi menuju gerbang batu.


"Andin"


Ema memanggil Andin saat Andin hendak mengikuti langkah mereka. Andin yang mendengar itu pun, langsung menatap kearah Ema dengan tampang tanda tanya.


"Berhati-hatilah"


Tambah Ema tersenyum hangat pada Andin. Andin seketika langsung ikut tersenyum. Lalu mengangguk paham sambil berlalu pergi.


Gerbang batu itu juga sudah dibuka. Dan dengan cepat mereka langsung keluar dari gua. Andin menatap keluar dengan tatapan yang kuat. Kali ini, Andin tidak mau membebani orang lain. Dan akan menjalankan apa yang Ema suruh dengan berhati-hati.


Walaupun Andin sendiri tidak tahu. Apakah masih ada ancaman saat dirinya keluar dari gua itu.


.


Sakay.

__ADS_1


__ADS_2