
Happy Reading -
"Siapa namamu?"
Tanya Sena pada Hedof yang akhirnya dibawa untuk mengikuti mereka semua.
"Hedof"
Balas Hedof singkat.
"Darimana kamu berasal?"
"Bukit Sangju"
"Bukit Sangju? dimana itu?"
"Tepatnya berada di kota, Samoa"
Sena terdiam mendengar ucapan Hedof, ia sendiri tidak tahu Bukit Sangju. Mungkin selama ini ia hanya sibuk berkelana kesana-kemari mencari tanaman Cavelo, sampai tidak pernah tahu keberadaan tempat lainnya. Tapi sepertinya ia tahu, jika kota Samoa, berada di Antlasia.
"Oh, aku tidak tahu"
Cetus Sena seenaknya, sedangkan Hedof yang mendengar itu hanya memasang wajah datarnya saja.
"Bahkan aku juga sampai lupa dimana rumahku berada"
Pekik Hedof membuat yang lain langsung menatapnya aneh.
Lupa? bagaimana ia bisa melupakan rumahnya sendiri. Benar-benar aneh.
"Bagaimana bisa lupa?"
Tanya Andin bingung.
"Mana aku tahu, kan aku lupa"
Sahut Hedof memasang wajah sedihnya, yang entah mengapa membuat yang lainnya memandangnya seperti orang aneh, atau mungkin gila.
"Ohya, kalian ingin pergi kemana?"
Tanya Hedof.
Afsan menatapnya tajam, ia hanya merasa kurang suka pada Hedof. Dari tampangnya yang seperti berandalan, gayanya yang acak-acakan, dan terlebih dari awal pertemuan mereka yang tidak mengenakkan. Apalagi, ia sudah membuat Andin terluka. Dan lagi, Sena juga seperti Afsan saat menatap Hedof didepannya.
__ADS_1
"Lembah Okura, kami ingin pergi kesana"
Sahut Andin.
"Lembah Okura, sepertinya aku tahu tempat itu"
Seketika mereka semua langsung menatap Hedof. Hedof yang ditatap seperti itu pun, langsung memasang wajah anehnya lagi sambil menatap mereka satu persatu.
"Apakah kau memang tahu tempat itu?"
Pekik Sena menatap Hedof intens, membuat Hedof tak nyaman akan itu. Seperti ingin di terkam saja.
"Ya, aku tahu. Dan aku bisa mengantar kalian kesana"
Balas Hedof percaya diri.
Sepertinya Afsan memiliki perasaan yang kurang baik atas tawaran Hedof tadi. Entahlah, sepertinya Afsan memang sudah terlanjur tidak suka pada Hedof. Tapi yang pasti, ia bisa lihat senyum licik Hedof disana.
"Tidak, kami bisa pergi sendiri"
Kata Afsan.
Andin menatap Afsan dengan wajah yang bertanda tanya, ada apa dengannya. Padahal Hedof sudah baik menawarkan dirinya, tapi mengapa jawabannya itu sangat dingin.
"Sayang sekali, padahal aku sudah berbaik hati untuk menawarkan kalian nanti melewati jalan pintas menuju Lembah Okura, sebab Jalan menuju Lembah Okura sudah hancur"
"Jalan pintas?"
Andin berucap.
"Ya, aku akan membawa kalian melewatinya"
Seru Hedof.
"Tapi kalian harus membantu aku terlebih dahulu"
Tambah Hedof menyeringai.
Ternyata benar, jika Hedof ada maunya juga. Terlihat dari wajahnya yang berubah seperti ******** licik. Tapi entah mengapa, Andin malah tertarik dengan hal itu. Padahal sudah jelas jika Sena dan Afsan menolaknya mentah-mentah.
"Aku setuju, iyakan Afsan, Sena?"
Sena terkejut mendengar itu, apakah Andin tidak sadar jika Hedof itu sangat mencurigakan.
"Tapi Andin di-"
Belum selesai Afsan berbicara, tiba-tiba...
__ADS_1
"Baiklah baiklah, aku akan mengantar kali-"
Brughh
Afsan memukul wajah Hedof sebab ia berani untuk memotong ucapannya, dan karena itu. Membuat darah segar keluar dari hidung Hedof, bersama para pengunjung yang menatap penasaran sekumpulan orang aneh itu.
"Aku belum selesai berbicara!"
Kesal Afsan membuat Andin ikut bangkit dan memeganginya, takut jika nanti mereka malah berkelahi.
"Sakit tahu!"
Maki Hedof memegangi hidungnya yang berdarah.
"Sudah sudah"
Kata Andin dan Sena.
Andin memaksa untuk Afsan duduk kembali, Sena juga membantu untuk Hedof berdiri. Kini suasana diantara mereka menjadi terasa hening dan sepi, padahal banyak orang disekitarnya. Afsan mengalihkan pandangannya kearah lain, ia benar-benar malas untuk berada disini.
"Makanan sudah datang, silahkan"
Ucap seorang pegawai disana memberikan makanan yang Andin pesan.
"Terimakasih"
Kata mereka, kecuali Afsan yang sudah hilang selera makan. Tapi tidak dengan Hedof yang sudah berbinar melihat sekumpulan makanan yang harum itu.
"Kukira tidak ada makanan"
Hedof melayangkan tangannya itu untuk mengambil satu makanan, namun dengan cepat Sena memukulnya.
Andin yang melihat Afsan hanya terdiam, akhirnya ia mencoba untuk memberi Afsan makanan. Walaupun ragu, dengan cepat Andin mendekatkan makanan itu ke mulut Afsan. Membuat Afsan sedikit bingung, tapi dengan senyum hangat Andin memberikan itu, sampai akhirnya Afsan memakannya.
Dan disinilah mereka sekarang, disebuah jalan yang entah mereka tahu dimana keberadaannya. Hedof memimpin jalannya, dan dengan terpaksa Afsan juga harus mengikuti langkah mereka semua.
"Apakah masih jauh?"
Kata Andin setelah merasa berjalan cukup jauh.
"Ya, tapi karena ini jalan pintas jadi hanya membutuhkan waktu 1 hari lagi"
Andin mengangguk-angguk mendengar itu, ia merasa sedikit lega jika untuk pergi ke Lembah Okura hanya membutuhkan waktu 1 hari lagi. Afsan mendengar itu mendecak tidak suka, kedengarannya memang mustahil, karena Lembah Okura sangat jauh. Apalagi banyak bahaya juga saat ingin pergi kesana.
Tapi mau gimana lagi, Andin yang langsung menyetujui itu. Ia juga malas apabila Andin merengek padanya untuk menyetujui itu, jadi lebih baik ia menyetujuinya saja. Padahal aslinya, jika Afsan tidak menyetujui juga, Andin akan pergi. Entah, Andin melihat jika Hedof memang orang yang baik.
.
__ADS_1
Sakay