Putri Di Negri Afhanda

Putri Di Negri Afhanda
15- Kehancuran


__ADS_3


Happy Reading -



"Semuanya cepatlah masuk ke gua Zere"


Instruksi Renlod pada semua penduduk yang sedang berhamburan untuk menyelamatkan diri. Dengan perasaan takut dan khawatir, para penduduk satu persatu mulai mendatangi gua Zere.


Gua Zere adalah gua besar yang berada tidak jauh dari rumah-rumah penduduk disana. Namun, gua itu tidak boleh di kunjungi dengan sembarangan. Karena gua itu adalah sebuah peninggalan berharga dari Ratu mereka disana, juga masih banyak barang-barang peninggalannya didalam gua itu. Gua Zere juga sangat tersembunyi, walaupun berada tidak jauh dari rumah penduduk.


Ema melajukan kudanya dengan cepat dan gesit. Bersama dengan Andin yang setia mengikuti langkahnya. Bio sibuk untuk memberikan arah untuk semua penduduk disana. Namun sepertinya, para penduduk belum begitu mendengarkan ucapan mereka. Karena saat ini, penduduk sedang mencari perlindungan diri.


"Andin, bergeraklah lebih cepat"


Ujar Ema sambil menengok kearah belakang. Andin yang sedang menatap kearah lain itu pun, langsung menatap Ema mengangguk.


Ema berbalik menatap Andin dengan khawatir. Ema takut jika Andin akan kehilangan keseimbangan atau hal lain yang bisa membahayakan dirinya. Ema sendiri pun, masih mencoba agar tetap fokus dan tenang. Karena semua ini, baru pertama kali terjadi.


Saat Ema hendak berbalik kearah depan lagi. Tiba-tiba Ema dikejutkan dengan munculnya monster yang berlari menuju dirinya. Ema yang terkejut itu pun, langsung memberhentikan lajunya. Dan menatap diam monster yang tengah berlari kencang menujunya. Ema lihat dengan jelas, jika monster itu menatap dirinya dengan buas.


Andin juga ikut memberhentikan lajunya. kemudian Ema berjalan perlahan dengan diam menatap lurus kedepan. Andin juga ikut menatap ke arah yang sedang Ema perhatikan. Dan yang Andin lihat, ada seorang monster bergigi besar berlari kearahnya.


Monster itu pun semakin dekat dengan capat. Monster bertubuh besar dengan gigi yang besar itu terlihat sangat baru dimata Andin, karena dia berkulit kebiruan.


"Emaa, awas"


Teriak Renlod berlari menuju Ema dengan cepat. Namun Ema hanya tetap diam, menatap monster dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Arrghhh"


Raung monster itu tepat dihadapan Ema yang sudah terjatuh ke tanah. Dan Ema merasakan sesuatu yang memeluknya dengan erat. Pelukan hangat yang sangat Ema suka. Pelukan hangat dari suaminya.


Ema manatap Renlod yang berada tepat di pelukannya, memeluknya dengan erat. Saking dekatnya, Ema bisa merasakan detak jantung Renlod yang berdetak sangat cepat. Perlahan Ema bangkit setelah Renlod dengan perlahan melepaskan pelukannya. Ema menatap dirinya dengan bingung, mengapa dia sekarang berada diatas tanah. Bukannya tadi sedang menaiki kuda.


"Kau tidak apa?"

__ADS_1


Tanya Renlod sambil menatap Ema khawatir.


"Aku tidak apa, dan kau sen-"


Sebelum Ema menuntaskan ucapannya. Ema dibuat diam dengan sesuatu yang menarik perhatiannya, dan itu berasal dari Renlod.


"Ka- kau"


Ucap Ema sambil menatap Renlod dengan air mata yang sudah mengembang. Sedangkan Renlod hanya membalasnya dengan senyuman.


"Tidak apa, ini hanya luka biasa"


Sahut Renlod tersenyum. Membuat air mata Ema mengalir dengan deras.


Mengapa Renlod berkata itu hanya luka biasa. Padahal sudah jelas tangan sebelah kirinya putus, dan itu terlihat sangat menyakitkan. Ema memeluk Renlod sambil menangis kejar, karena Ema tahu itu semua pasti karena dirinya.


Andin juga terkejut saat melihat kondisi Renlod. Andin menatap lengan Renlod yang sudah putus itu sambil menangis. Pikirannya seketika di penuhi dengan segala hal menyedihkan tentang hari ini. Mengapa saat ini banyak sekali masalah yang datang.


"Papa"


"Bawalah Papa mu kedalam gua"


Ujar Ema pada Bio yang sudah berderai air mata. Namun dengan cepat Bio menghapusnya, dan menjalankan perintah dari Ema.


Bio membawa Renlod dengan kudanya. Dan berjalan cepat menuju gua yang sedikit lagi sampai. Ema juga akan segera menyusulnya.


"Andin ayo cepat"


Kata Ema pada Andin. Sebelum Andin menjawabnya, Ema sudah melajukan kudanya. Membuat Andin dengan cepat mengikutinya.


Disis lain, ada seorang lelaki yang sedang membersihkan pedangnya yang terbalut dengan darah. Lelaki itu menatap monster didepannya yang sudah terbujur kaku dengan tatapan yang dingin. Dan setelah merasa selesai, dia pun segera melangkahkan kakinya pergi dari sana. Dialah Afsan.


Andin memasuki gua itu dengan cepat. Gua yang sangat berbeda dari gua kebanyakan. Gua ini membuat Andin seketika tercengang, karena tampilannya yang sangat indah. Dinding gua itupun, terlihat sangat berwarna.


"Semuanya, bantu aku untuk menutup gua"


Teriak Bio pada semua penduduk. Dan dengan cepat, para penduduk mulai mendekat ke sebuah batu besar yang dibuat sebagai pintu. Andin pun juga ikut serta membantu.

__ADS_1


"Semuanya, dorong"


Teriak Bio lagi yang dengan cepat dilakukan. Namun sebelum pintu itu tertutup, Andin melihat seseorang yang tengah berlari menuju gua.


"Tunggu, ada seseorang lagi"


Kata Andin pada semua orang. Dan benar saja, ada seorang dengan jubah berwarna hitam sedang berlari menuju gua.


"Terima kasih"


Ucap Afsan.


Andin tidak mengenalnya karena Afsan memakai pakaian serba hitam. Terlebih, dia juga memakai sebuah jubah yang menutupi kepalanya.


"Ayo semuanya, mari kita dorong"


Teriak Bio lagi saat merasa sudah tidak ada orang lagi diluar sana. Tanpa banyak bicara, orang-orang pun langsung mendorongnya.


Brughhh


Pintu tertutup sempurna, sampai tidak ada celah untuk melihat keluar sana. Tapi walaupun begitu, gua ini terlihat lebih baik dibandingkan diluar sana.


Semua orang kembali ke tempatnya masing-masing. Andin juga segera menuju Ema yang sedang membalut lengan Renlod yang putus agar darahnya tidak begitu banyak keluar. Disana juga banyak orang yang membantunya, seperti mencarikan perlaratan untuk mengobati tangan Renlod. Untungnya di gua itu juga sudah di lengkapi dengan berbagai perabotan.


.


"Selamat datang, sayang"


Ucap seorang wanita pada monster didepannya. Monster itu segera membungkukkan badannya hormat kepada wanita itu. Dan memberikan apa yang disuruhnya.


"Bukankah dia sangat cantik?"


Ucap Wanita itu menatap gadis cantik dihadapannya. Gadis yang tertidur di genggaman monster.


.


Sakay.

__ADS_1


__ADS_2