Putri Seraphina

Putri Seraphina
CHAPTER 10


__ADS_3

Bu Indah menepuk lembut pundak Safy, "Sudahlah, pujianmu terlalu bagus, aduh. Ngomong-ngomong, nama adek ini siapa?" tanya Bu Indah.


Safy segera membungkuk sopan, "Saya Safy Simenorpa, maafkan saya atas keterlambatan dalam memperkenalkan diri sebelumnya."


Bu Indah tersenyum lembut, "Dek Safy, kamu ini terlalu sopan. Bicara denganku saja biasa-biasa saja, tidak perlu terlalu formal. Jika kamu ingin datang ke rumahku, tinggal ke utara, tepat di sebelah penjual bakso. Sampai jumpa lagi, Dek Safy."


Kemudian, Bu Indah melanjutkan perjalanannya ke rumah, sementara Safy kembali pada pekerjaannya. Dia membersihkan halaman depan dengan tekun. Ketika Seraphina datang menemuinya, dia bertanya, "Safy, apakah di sini ada penjual makanan atau toko buku?"


"Saya juga tidak tahu. Tapi apakah Tuan Putri membawa uang? Anda pernah menyuruh saya untuk tidak menggunakan harta dari Refa, bukan?"


Seraphina meyakinkan Safy, "Tenang saja, uang sudah kusiapkan. Berkat kue kering yang kamu buat, banyak orang menyukainya. Jadi, aku menjual lima bungkus kue dan semuanya langsung terjual habis. Tentu saja, aku tidak terjun langsung untuk melakukannya, hanya dengan menciptakan wujud seseorang saja sudah cukup."


Meski Safy berpengalaman dalam perdagangan, mendengar cerita Seraphina membuatnya merasa ragu, "Lalu, berapa harga untuk satu bungkus kue?"


Dengan penuh percaya diri, Seraphina menjawab lantang, "500 ribu rupiah per bungkus."

__ADS_1


Safy hampir menangis mendengar harganya, "Astaga, Tuan Putri, itu terlalu mahal. Saya melihat di toko online, harga tertinggi untuk roti kering hanya sekitar 120 ribu, meski jumlahnya juga banyak. Menjual satu bungkus kue seharga 500 ribu yang isinya hanya delapan biji sungguh keterlaluan."


Meskipun harga kue tinggi, Seraphina telah mengumpulkan setidaknya 2,5 juta dari hasil penjualan. Rencananya kali ini adalah untuk mencoba keluar rumah. Sejak tiba di rumah itu, mereka tidak pernah keluar selain di sekitaran rumah. Dengan hasil penjualan yang asal-asalan itu, Seraphina ingin mengetahui suasana luar dan berharap menemukan toko buku.


Safy segera mengganti pakaiannya dengan kaos lengan pendek, rok sebatas betis, memakai sepatu warna putih, dan kacamata netral. Sementara Seraphina mengenakan pakaian favoritnya, kaos putih lengan pendek, celana sebatas lutut, sandal slop bergambar beruang, dan topi hitam. Mereka tidak bisa memakai pakaian dari istana, seperti pakaian Seraphina yang sangat halus.


Mereka siap berangkat dan Safy mengunci pintu menggunakan kode pin. Kemudian, mereka berjalan keluar rumah, dan gerbang otomatis terkunci setelah kamera pengawas mendeteksi pemilik keluar rumah. Mereka berjalan di trotoar, dan pada saat itu tidak terlihat banyak orang berjalan kaki, hanya jalanan yang dipenuhi oleh kendaraan. Seraphina melihat peta gps di handphonenya dan menemukan minimarket dan penjual bakso di sekitar mereka. Pertama, mereka menuju minimarket bernama Almart.


Tempat parkirnya penuh dengan kendaraan, dan bangunan luas dengan cahaya lampu terang yang menerangi di dalamnya. Orang-orang berlalu lalang di dalam minimarket itu saat Seraphina dan Safy berjalan menuju pintu kaca. Saat hampir sampai, pintu kaca terbuka otomatis. Suhu di dalam cukup dingin, tetapi tidak se-dingin musim salju. Mereka berdua terkesan dengan suasana dan tampilan semua barang yang tertata rapi sesuai dengan fungsinya. Berbagai jenis kulkas berjejer rapi, mesin minuman juga terpajang lengkap. Televisi besar memutar iklan produk yang dijual. Mereka menuju ke area makanan dan melihat banyak rak yang penuh dengan berbagai makanan. Safy tertarik dengan wafer cokelat dan segera mengambilnya dari rak camilan ringan. Sementara Seraphina memilih keripik kentang. Dia mengambil sepuluh bungkus sekaligus, dengan kedua tangannya memeluk semua produk yang disukainya.


Seraphina menerima keranjang tersebut dengan penuh terima kasih, "Terima kasih atas bantuannya, nona. Semuanya di sini begitu berbeda."


Dia berusaha untuk terlihat membaur meskipun sebenarnya Seraphina benar-benar tidak tahu bagaimana cara berbelanja di minimarket.


Pegawai itu menjawab, “Sama-sama, Kak. Kemajuan teknologi telah merubah semuanya, sekarang kasir sudah diatur oleh robot pintar. Karena kakak ini adalah pengunjung baru disini, kami wajib memberitahu untuk kemudahan belanja.”

__ADS_1


Safy mengambil beberapa wafer dari rak lalu dimasukkan ke dalam keranjang, setelah itu mereka berkeliling untuk mencari yang mereka butuhkan. Saat semua barang sudah terkumpul di keranjang, mereka menuju ke kasir. Keranjang belanjaan itu ditaruh di atas, dan robot itu langsung menghitung semuanya. Pada layar tertera 480 ribu untuk total biaya semua barang-barang itu, kemudian robot kedua memasukkan semua barang ke kantong plastik dan diletakkan di depannya. Seraphina mengambilnya, lalu mereka keluar dari minimarket itu. Ketika mereka sudah berjalan cukup jauh, Seraphina menggunakan sihirnya untuk menyimpan semua barang bawaannya. Namun, dia mengambil satu bungkus keripik kentang dan memakannya.


"Wah, keripik kentang ini enak sekali, rasanya ingin makan selamanya," ucapnya sambil menikmati camilan tersebut.


“Nona Phina, sekarang kita akan ke mana lagi?” tanya Safy.


Seraphina melihat peta pada handphonenya, banyak sekali tempat yang layak dikunjungi. Namun sepertinya hari sudah semakin siang, sinar matahari mulai menunjukkan panasnya. Safy menyarankan untuk pergi ke kedai atau tempat makan sekalian beristirahat, akhirnya mereka mencari tempat terdekat hingga menemukan sebuah cafe. Bangunan cafe itu bertingkat dua, dan cukup ramai dengan pengunjung. Seraphina menarik tangan Safy ikut dengannya, seperti saat belanja tadi, pintu terbuka otomatis saat sudah dekat. Seorang pelayan menyambut mereka berdua, “Selamat datang kak di cafe coffees. Mari saya antar ke meja anda.”


Seraphina dan Safy diantar sampai meja nomor 27, tempatnya agak diujung belakang. “Silahkan duduk, kak. Setelah ini saya akan tinggal, kakak tinggal memilih menunya saja, dan setelah selesai tinggal ketuk 'selesai'.” Pelayan itu menekan-nekan meja, dan seketika menu hologram muncul. Kemudian pelayan tersebut meninggalkan mereka berdua. Seraphina melihat menu yang ada di hologram, banyak minuman dan makanan yang tidak mereka ketahui. Safy memilih teh herbal, sementara Seraphina memilih cokelat panas.


“Nona Phina, apa rencana selanjutnya? Kita sudah beberapa hari menetap di sini, pengetahuan dasar juga sudah dipelajari meski belum semuanya. Sebaiknya Anda segera mengambil keputusan untuk melanjutkan hidup. Tidak mungkin setiap hari roti kering yang kubuat selalu terjual,” ujar Safy mencoba memberi dorongan.


Lalu, pelayan cafe itu datang ke meja nomor 27. Pesanan teh herbal dan cokelat panas dibawa menggunakan nampan, secara perlahan pelayan itu meletakkan pesanan pada meja, “Selamat dinikmati, Kak.” kemudian pelayan itu pergi.


Seraphina mencoba sedikit cokelat panas, sehabis merasakan betapa enaknya cokelat, dia menjawab pertanyaan Safy, “Tenanglah, untuk rencana selanjutnya, kita akan membagi tugas. Tugasku adalah mencari jalan untuk kita hidup di sini tanpa menghabiskan harta warisan, jadi aku akan mencari pekerjaan terlebih dahulu. Sementara tugasmu adalah mengurus pekerjaan rumah seperti saat di istana.”

__ADS_1


__ADS_2