
Arvin langsung mengalah, dia tidak memaksa ego-nya untuk memberi tumpangan kepada Seraphina. Maka dengan mundur satu langkah, dia mengisyaratkan agar Aldi lebih dulu, "Silahkan, Pak Aldi, sebagai manajernya antar saja dulu."
Mendengar itu, Aldi juga sungkan, "Pak Arvin, sebagai pengacara mungkin lebih baik dia bersama Anda."
Sebenarnya, keduanya ingin mengantar Seraphina pulang, namun karena malu mengatakannya, mereka hanya saling melemparkan kata-kata. Akhirnya Aldi dan Arvin berjalan ke arah belakang toko, Di sana, Aldi mengusulkan solusi yang menghibur: permainan batu-gunting-kertas. Mereka sepakat untuk menetapkan aturan sebelum bermain. Hanya satu putaran permainan yang akan dilakukan, dan pemenang akan memiliki kehormatan mengantar Seraphina pulang. Pihak yang kalah akan mendukung pemenang. Namun, jika hasilnya seri, mereka berdua akan mengantar Seraphina pulang. Dengan syarat hanya satu mobil dan kedua pihak berada di dalam mobil bersama Seraphina.
Setelah sepakat, mereka melakukan permainan. Aldi mengandalkan keberuntungan dari keahliannya bermain batu-gunting-kertas sewaktu kecil, sedangkan Arvin menerapkan perhitungan peluang. Dengan percaya diri, mereka memilih tangan masing-masing, dan hasilnya seri. Baik Aldi maupun Arvin memilih batu. Mereka tidak bisa membantah lagi, kesepakatan tetap harus dijalankan. Mobil Aldi dipilih sebagai kendaraan untuk mengantar Seraphina.
Sesudah melakukan suit, mereka berdua menuju ke depan. Aldi langsung masuk ke mobilnya, sedangkan Arvin meminta Seraphina agar menaiki mobil yang sudah disiapkan. Akhirnya mereka bertiga sudah berada di dalam, dan mobil pun berjalan.
Selama perjalanan, Aldi menawarkan air mineral botol untuk menghilangkan rasa haus, dan dari kursi belakang, Arvin menawarkan cokelat sebagai camilan ringan. Mereka terlihat bersaing dalam memberikan layanan terbaik, tidak terasa Seraphina telah mengumpulkan empat botol air dan beberapa cokelat.
“Stop! Stop! Kalian ini sedang apa sebenarnya? Coba lihat minuman dan makanan sudah sebanyak ini.“ Seraphina berseru dengan nada tegas, melihat banyaknya makanan dan minuman.
Arvin dengan cepat menjawab, "Tidak apa-apa. Makan dan minum itu penting, terutama karena Phina belum makan sejak siang. Bukankah begitu, Pak Aldi?"
__ADS_1
"Benar sekali. Sejak tiba di kantor pusat, Phina belum makan atau minum apa pun. Dan makanan serta minuman ini bisa sebagai pengganjal perut, bisa dimakan di sini atau di rumah. Begitu kan Pak Arvin?“
“Iya, jawaban yang tepat sekali.“
Seraphina melihat mereka berdua kelihatan aneh, tapi dia tidak mempermasalahkan lebih jauh. Maka untuk menghargai sikap keduanya, Seraphina makan camilan cokelat itu lalu minum air mineral.
Tak lama kemudian, mereka sampai di tempat tujuan. Ketika Seraphina keluar dari mobil, Aldi dan Arvin bersiap untuk berpamitan. Namun, mereka diundang untuk makan malam di rumah. Tanpa banyak pertimbangan, semua orang langsung setuju.
Safy keluar dari dalam rumah, melihat Seraphina dan kedua rekannya di luar gerbang. Dia mendekati mereka dan memberi salam, "Selamat datang kembali, Nona Phina."
“Phina, gadis itu begitu sopan, bahkan sampai berlutut hanya untuk menuangkan teh saja. Tidak masalah, bukan?” kata Aldi
“Jangan khawatir, Pak Manajer. Dia sangat profesional dalam pekerjaannya. Biasanya reaksi orang saat pertama kali datang ke sini seperti itu.”
Kemudian Arvin mencicipi teh herbal itu, seketika badannya langsung ringan. Rasa jenuh, beban pikiran semuanya menghilang, terheran-heranlah Arvin dengan teh itu meski sebelumnya pernah mencobanya sekali saat mengurus rumah Refa. Aldi pun juga turut mencoba, sebelum diminum aroma herbal masuk ke dalam hidungnya. Badannya berubah menjadi rileks, sampai rasa kantuk akibat kelelahan menghilang begitu saja. Dan setelah teh masuk ke dalam tenggorokan, tubuhnya merasakan efek kuat yang menyembuhkan. Rasa letih di punggung bagian bawah dan di bahu menjadi lebih ringan, “Apa-apaan dengan teh ini, khasiatnya sungguh di luar nalar.“
__ADS_1
Seraphina hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Tapi dalam perbincangan itu, Ariel berjalan santai dari ruang makan menuju lantai atas. Mengenakan tanktop hitam yang pas di tubuhnya dan celana pendek di atas lutut, tidak membuatnya mundur. Aldi dan Arvin melihat Ariel berjalan sambil makan roti, mereka melihat satu sama lain kemudian memalingkan wajah. Setelah Ariel sudah berada di atas, Arvin tanya pada Seraphina, “ Phina, gadis yang berjalan tadi itu siapa? “
"Oh, dia adalah sahabatku, Ariel. Di sini, kami seperti keluarga, baik sebagai sahabat maupun pelayan."
Aldi menyahut, “ Baru tahu, ternyata Phina memiliki pelayan, rumahnya mewah dan tadi juga sempat lihat ada garasi mobil. Mungkin ini pertanyaan kurang pantas, boleh dijawab, kalau tidak berkenan tidak perlu dijawab. Kenapa Phina bekerja di minimarket yang seharusnya gajinya tidak besar, bisa dibilang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kan, dari rumah serta kendaraan pasti akan ditarik pajak, dan biayanya pun tidak kecil. “
“Benar, pekerjaan di toko itu untuk sampingan, pekerjaan utama saya adalah menjual kue. Biasanya pelayan saya yang membuatnya, kemudian penjualannya saya yang mengatur. Dan untuk pertanyaan pajak, silahkan bertanya pada Arvin. Dia merupakan penolongku ketika pindah ke rumah ini.“
Arvin menepuk pundak Aldi sambil memberikan jempol kepadanya, “Semua beres kok. Tidak perlu khawatir“
Dari dapur Safy datang menghampiri mereka semua di ruang tamu, “Nona Phina, dan tuan-tuan, silahkan menuju ke ruang makan. Saya sudah siapkan menu malam ini.“
Lalu Safy menuju ke lantai atas menemui Ariel, di sana dia juga mengajaknya makan malam bersama. Setelah itu Safy kembali ke ruang makan menyiapkan semua yang dibutuhkan. Aldi dan Arvin berjalan cepat menuju ke ruang makan, saat Seraphina duduk, keduanya langsung mencari tempat di samping Seraphina.
Tidak lama, Ariel tiba di ruang makan. Namun, ketika ia duduk, sontak saja melihat jiwa Seraphina sedang tidak baik-baik saja. Rasa khawatir bercampur sedih meliputi dirinya, tapi dia menahan diri untuk bertanya sampai momennya tepat. Akhirnya waktu telah tiba, Safy menghidangkan semua makanan di atas meja. Menu malam itu adalah menu favorit dari Ariel dan Seraphina, dan mereka semua makan dengan lahap.
__ADS_1
Ariel cukup menahan kebiasaan makan di depan rekan Seraphina, dia makan dengan tatacara istana kerajaan api. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam 8 malam, lalu Aldi dan Arvin berpamitan pulang kepada mereka.