Putri Seraphina

Putri Seraphina
CHAPTER 13


__ADS_3

Safy melihat keadaan lewat jendela rumah, cuaca mendung gelap dan langit tampak begitu gelap. Angin bertiup kencang, menyebabkan air hujan bergerak mengikuti arah angin. Suara guntur terdengar keras dalam beberapa menit sekali, hawa udara menjadi semakin dingin seiring berjalannya waktu. Safy tidak dapat membersihkan halaman depan, akhirnya dia melanjutkan pekerjaan lain yang belum dikerjakan. Seraphina telah bangun dari tidurnya, suara hujan deras terdengar jelas dari kamarnya. Segera dia bangkit dan berlari ke lantai bawah, melihat pada jendela kondisi cuaca.


“Sial, kenapa harus sekarang turun hujannya. Niatnya ingin melamar pekerjaan, tapi cuaca sedang tidak bersahabat,” Seraphina merasa kebingungan mencari cara untuk dapat melamar pekerjaannya, namun secara spontan niatnya berubah.


“Oh, iya kenapa tidak terpikirkan dari tadi. Cuaca sedang tidak bersahabat itu artinya langit masih memberiku kesempatan untuk menyelesaikan novel yang belum tamat. Terimakasih langit atas bantuanmu, aku berjanji hari ini akan ku tamatkan banyak novel.”


Kemudian Seraphina berjalan kembali ke kamarnya, sesampainya di kamar dia mengambil semua buku novel yang masih belum tamat. Memanggil para bintang, tempat tidurnya di buat seperti biasanya. Para bintang bergotong royong untuk membantu kenyamanan tuan putri hingga sempurna, selagi membaca hujan masih turun lebih deras dari sebelumnya. Safy masih mengerjakan tugasnya, dia memeriksa bahan makanan, membuat camilan dan mencuci. Setelah dua jam berlalu, akhirnya pekerjaan Safy telah selesai. Dia memeriksa keadaan cuaca, langit masih terlihat mendung malah semakin gelap. Merasa sudah tidak ada pekerjaan lain, Safy duduk di sofa pada ruang keluarga. Dengan bersandar pada sofa, iPad yang menghubungkan TV digunakannya untuk melihat tayangan memasak.


Safy sangat suka tayangan memasak di channel favoritnya, setiap hari di saat waktu luang resep baru ditulisnya dalam sebuah catatan. Semua informasi yang dia dapatkan dari acara itu digunakannya untuk menambah pengetahuannya, agar kelak saat kembali ke istana, pengetahuannya itu dapat berguna. Sementara Safy masih asyik menonton, para bintang datang menawarkan pelayanan pijat. Semua orang di dalam begitu menikmati cuaca hujan itu, di sisi lain Seraphina teringat sesuatu yaitu pria bernama Aldy. Dia masih terbayang dengan ketampanan pria itu, ingatannya saat bertabrakan selalu muncul dalam benaknya. Namun dia mulai membandingkan antara Aldy dan Arvin, keduanya memiliki paras tampan. Para bintang melihat Seraphina sedang berpikir, mereka memberitahu menggunakan bahasa magis, “Tuan Putri, daripada menunggu esok hari untuk mendapatkan pekerjaan, lebih baik jika melakukannya secara online, kan. Selain itu, kami dapat membantu anda supaya pekerjaan dapat lebih mudah.”


“Sebelum itu, aku ingin bertanya pada kalian. Bagaimana menurut kalian, kedua pria bernama Aldi dan Arvin itu?” Seraphina bertanya.


Para bintang berkumpul di tempat tidur, mereka saling bertanya satu sama lain, setelah menemukan jawaban semuanya menjawab, “Mereka pria biasa tanpa kekuatan sihir apapun, tapi keduanya memiliki kapasitas fisik kuat, tingkat aset sama, pekerjaan mapan.”


“Jadi, apa kesimpulan kalian?”


Para bintang menjawab bersamaan, “Mereka tidak layak untuk mempersunting Tuan Putri! Derajat mereka tidak lebih tinggi atau setara dengan anda! Ketampanan hanyalah rupa, kekayaan hanyalah sementara dan sifat hanyalah kepalsuan, tapi derajat pemegang kontrak adalah yang tertinggi.”


Kemudian guntur menggelegar sangat keras hingga kaca jendela bergetar, Seraphina menutup bukunya dan memegang salah satu dari para bintang, “Aku hanya penasaran dengan paras mereka berdua, tanpa ada rasa cinta apapun. Jawaban kalian membuatku kecewa.” Salah satu itu dilemparkan dari tangannya, lalu Seraphina bangkit dari tempat tidur, “Aku akan pergi, jangan ikuti aku atau kalian akan menyesal selamanya.” Dengan menggunakan sihirnya, teleportasi membawanya pergi.

__ADS_1


Para bintang panik, mereka berhamburan di dalam ruangan sambil berteriak, “Apakah kita sudah salah bicara? Apakah kita membuat Tuan Putri marah? Ini salah kita!” Teriakan itu diulang berkali-kali menggunakan bahasa magis.


Merasa Seraphina semakin jauh, para bintang menuju ke ruang tamu menemui Safy. Pada saat itu, Safy masih asyik menonton acara memasak, tiba-tiba saja para bintang menerpanya, “Aaaa… para bintang ada apa! Kenapa kalian menyerangku!” teriak Safy.


Bintang-bintang membentuk tulisan, “Tolong kami, karena kesalahan kami Tuan Putri pergi dari rumah. Dia telah melarang kami untuk mengikutinya, dan sekarang hanya anda yang dapat mencarinya.”


“Hah? Hari ini kan masih turun hujan, Bagaimana bi… ah sudahlah!” Safy cukup panik. Dia langsung bergegas mengambil payung yang ada di dekat pintu depan, tanpa mengganti pakaiannya dia segera keluar rumah. Safy berlari di tengah hujan deras, payung yang dibawanya tidak mampu menahan air dari arah depan sehingga baju pelayannya basah. Namun hal itu tidak dipikirkannya, akhirnya Safy telah sampai di minimarket. Dia mengamati dari luar, ternyata Seraphina tidak ada disana. Setelah itu Safy melanjutkan mencari ke tempat lain, sekarang tempat yang diamati adalah cafe coffees. Kaca bening memperlihatkan keadaan di dalam cafe, ternyata disana tidak ada juga. Kemudian, Safy mencari ke tempat lain, karena tempat yang pernah dikunjungi terbatas maka Safy istirahat sebentar di halte bus.


Dia duduk di kursi sambil memeras bajunya yang sudah basah kuyup. "Tuan Putri, kemana anda pergi? Saya tidak tahu daerah ini, terus saya harus bagaimana? Jika terus begini saya akan menjadi pelayan yang tidak berguna…" Kemudian Safy menangis di halte itu. Hujan pada saat itu masih deras, tapi rasa khawatirnya membuat hatinya tidak tenang, maka dia kembali berjalan di tengah hujan mencari Seraphina. Pada saat itu air cukup tinggi sampai mengalir ke trotoar, hingga sebagian dari jalan tidak terlihat. Tiba-tiba saja kakinya tersandung oleh batu yang terendam dalam air, tubuhnya terjatuh keras di trotoar. Lututnya terbentur tekstur kasar trotoar sehingga darah keluar cukup banyak, rasa sakit membuat kakinya sulit digerakkan.


“Batu sialan! Kenapa tersandungnya harus sekarang, kenapa sih!" Safy merasa jengkel akibat lututnya sakit.


Sekarang perjalanannya sudah jauh dari rumah, kini lokasi Safy berada di tempat tidak diketahuinya. Tapi dia tetap meneruskan jalannya di tengah hujan, saat sampai di dekat taman, tiba-tiba perasaannya terasa aneh. Langkah kakinya terhenti, Safy melihat ada tempat penuh pepohonan hijau di seberang jalan, “Tuan Putri, apakah anda disini?”


Dengan hati berdebar, Safy masuk ke dalam taman. Pemandangan di sana begitu indah. Dari kejauhan, terlihat seseorang duduk sendirian di dekat kolam. Safy fokus memandang dan akhirnya dia menyadari bahwa itu adalah Seraphina.


“Tuan putri!” serunya sambil berlari mendekat.


Seraphina menoleh, terkejut melihat Safy di sana. “Safy? Bagaimana bisa kamu di sini?”

__ADS_1


Saat sedang berlari, kaki Safy yang sakit terasa kram, membuatnya terjatuh di rumput dekat kolam. Namun pandangan lega terpancar dari wajahnya, “Tuan Putri! Akhirnya saya menemukan Anda, hehe.” Safy tersenyum, walau kakinya masih bergetar dan sulit untuk berjalan. Dia kemudian menggenggam rumput dan menangis, “Syukurlah! Saya menemukan Tuan Putri di sini. Jika tidak menemukan, sungguh saya akan merasa tidak berguna.”


Seraphina berlari menghampiri dan memeluk Safy dengan erat, menghadapi derasnya hujan dan menggunakan sihirnya untuk melindungi mereka dari air hujan. Ketika memeluk Safy, Seraphina melihat lukanya yang masih terbuka.


“Safy, kamu terluka? Mengapa kamu memaksakan diri seperti ini? Tidak perlu mencariku, pasti aku bisa pulang sendiri ke rumah,” ucap Seraphina dengan perasaan bersalah.


Safy menjawab dengan tegas, “Para bintang memberitahu jika Anda marah dan melarang mereka mengikuti. Hal itu membuat saya khawatir, terutama jika ada yang terjadi pada Anda.”


“Maafkan aku, Safy. Apakah kamu merasa sakit? Tunggu sebentar ya, biar aku menyembuhkan lukanya.”


“Tidak perlu, Tuan Putri. Biarkan saja seperti ini. Luka seperti ini adalah suatu kehormatan bagi kami para pelayan, agar dapat selalu berguna bagi Anda,” jawab Safy.


Namun Seraphina bersikeras, “Tidak boleh! Tidak boleh ada yang terluka karena kesalahanku. Jangan berpikiran yang tidak masuk akal. Sekarang aku akan bertanggung jawab atas semua ini.”


“Tapi..”


“Tidak ada tapi! Kamu adalah pelayan setiaku, meski hal ini tidak sepadan, setidaknya biarkan aku bertanggung jawab.” ucap Seraphina dengan tegas.


Safy mengangguk penuh pengertian, “Dimengerti, Tuan Putri.”

__ADS_1


Seraphina menggunakan sihirnya untuk menyembuhkan luka pada lutut Safy. Rasa hangat menyelimuti lukanya, darah berhenti mengalir, dan luka tersebut sembuh dengan cepat.


__ADS_2