Putri Seraphina

Putri Seraphina
CHAPTER 20


__ADS_3

Seraphina mencoba melerai mereka berdua, “Sudahlah kalian berdua, kenapa harus bertengkar dengan sesuatu yang sepele.”


Tiba-tiba mereka berhenti bertengkar, mata mereka tertuju pada Seraphina. Lalu, Dina maju ke depan dan menarik pipi Seraphina sebelah kiri secara perlahan, dilanjutkan Riko juga menarik pipi sebelah kanan.


“Tadi kamu bilang apa, Phina? Kami mempermasalahkan hal sepele?” ucap Dina sambil tersenyum.


Riko juga berkata, “Kamu ini sudah cantik tapi mulutnya sudah mulai nakal”


Mereka berdua terus menarik, namun lama-kelamaan mereka ketagihan menarik pipi Seraphina. Tekstur lembut dan halus, membuat tangan tidak berhenti mencubit pipi. Dina mulai terlena, tapi dia tersadar kembali, “Huh! Hampir saja, untung saja tidak kuteruskan, bisa-bisa selamanya akan mencubit pipi Phina.”


Disitu, Riko masih terus mencubit pelan pipi Seraphina yang lembut, dia sudah terlena dan tidak mau melepaskan tangannya. Kemudian, Dina mengambil buku di atas kasir. Buku itu digulung, setelah dirasa cukup, kepala Riko dipukul menggunakan gulungan buku itu. Pukulannya tidak terlalu keras, tapi itu efektif membuatnya tersadar.


Riko memegang kepalanya, “Din, lu kira ini samsak? Dari tadi kena hajar mulu perasaan.”


“Ya iyalah harus dipukul. Lihat tuh Phina, dari tadi juga dicubit terus.”


Seraphina hanya melihat mereka berdua dengan tatapan bingung, cubitan tadi tidak membuatnya merasa sakit tapi mereka mulai bertengkar lagi. Dia juga tahu jika itu hanya candaan saja, karena itulah Seraphina tidak memusingkannya. Para bintang yang melindunginya pun tidak merasa terganggu oleh keusilan mereka, sebaliknya para bintang senang Seraphina memiliki kenalan yang baik.


“Oh, iya Phin. Tau gak, kemarin malam langitnya keren. Lihat nih“


Dina memperlihatkan layar handphonenya, terlihat langit memancarkan cahaya aurora dengan warna beragam. Riko juga juga memperlihatkan rekaman video pada handphone, cahaya di langit bergerak menari-nari mengikuti irama. Seraphina mengetahui penyebab hal itu dapat terjadi, dia berpura-pura tidak tahu akan hal itu.


“Bagus sekali langitnya, sayang sekali aku masih tidur. Andai saja bisa melihatnya, pasti akan lebih menarik.”


Dina menjawab, “Benar, kan? Lain kali kita lihat sama-sama ya, Phina.”


Waktu terus berlanjut sampai pukul 4 sore, sekarang waktunya untuk berpindah shift. Seraphina bersiap-siap untuk pulang, Dina dan Riko mengajaknya pulang bersama menaiki motor. Namun, Seraphina menolak permintaan itu dengan alasan jika dia sudah ditunggu oleh pelayannya di kafe coffees. Mendengar alasan itu, mereka berdua mendahuluinya pulang. Dalam keadaan itu Seraphina berjalan menuju ke gang kecil di sebelah minimarket, disitu jalanan begitu sepi bahkan tidak ada satu orang pun lewat. Menggunakan kekuatannya, Seraphina merasakan makhluk hidup di sekitarnya dan hasilnya tidak ada siapapun.


Kemudian sebuah energi sihir dilepaskan ke sekitar tubuhnya, sihir itu adalah teleportasi. Seraphina merapalkan satu mantra, tapi ketika hendak mengucapkannya…


“Kak Seraphina?“


Seraphina langsung menoleh ke arah belakang, tanpa diduga seseorang yang memanggil itu adalah Arvin.

__ADS_1


“Eh, Arvin. Ada apa disini? “


Arvin berjalan menghampiri Serapina, “Aku mau ke warteg karena jalan pintasnya lewat sini, dan kak Serapina kenapa lewat sini?“


“Aku lewat sini juga untuk jalan pintas, hehe“


Keringat Seraphina menetes, dia khawatir jika sihirnya ketahuan.


“Bukannya lewat sini malah tambah jauh, arah rumah anda cuma mengikuti jalan trotoar di depan situ. Sedangkan gang ini harus memutar untuk bisa kerumah anda, bisa dibilang lebih lama 30 menit untuk sampai kesana.“ ucap Arvin.


Seraphina mulai bingung mencari alasan, para bintang memberikan bisikan untuk beralasan. Namun, Seraphina mendahului rencana para bintang itu.


“Oh, iya. Aku baru ingat kata teman di pekerjaan ada toko yang menjual makanan, mungkin aku bisa makan disana.“


Gumam Seraphina pada para bintang, “Aku terlalu panik, maafkan aku.“


  Arvin mempercayai kata-kata dari Seraphina,


“Ya sudah, kalau begitu kita kesana bersama-sama saja. Bagaimana?“


Di dalam gang itu, mereka berjalan bersama menuju ke warteg. Jarak menuju kesana sekitar 500 meter, di sela-sela waktu Arvin mengobrol tentang pekerjaannya setelah menyelesaikan perkara Refa. Dia sekarang masih menjadi pengacara, dan sekarang kantornya telah dipindahkan di dekat taman. Banyak kasus yang harus diselesaikan di jakarta pusat, tapi Arvin juga senang kantornya dekat rumah Seraphina. Beberapa menit berjalan mereka telah sampai di warteg, tempatnya di pojok gang itu. Meskipun letak warteg berada di dalam permukiman, banyak orang membeli disitu.


“Kak Seraphina mau pesan apa? Menunya ada di dinding, jika sudah beritahu saya, ya.”


Arvin mempersiapkan kursi-kursi plastik, tempat duduk Seraphina berada tepat di sebelahnya. Kemudian, menu telah dipilih.


Seraphina tidak dapat memilih menu yang pernah dimakan sebelumnya, jadi dia meminta supaya menunya sama dengan Arvin.


“Bu! Pesan opor ayam dua, kopinya satu dan air putih satu.“


Arvin memesan sesuai dengan menu favoritnya, tapi dia memesan air putih karena permintaan dari Seraphina. Tidak menunggu lama, makanan pun tiba.


“Walah Arvin toh, tau begitu sudah ku dahulukan aja tadi.“ ucap pemilik warteg.

__ADS_1


Setelah meletakkan pesanan, si pemilik warteg melihat opor ayam satunya diberikan ke Seraphina,


“Vin, mau pamer jangan disini lah.“


“Pamer, gimana Bu?“


Pemilik warteg itu tertawa dengan keras, “Lah itu siapa? Cantik kayak boneka begini dibilang bukan pamer? Parah.“


Arvin langsung tersedak akibat terkejut mendengar itu.


“Walah, Bu. Dia ini yang menempati rumahnya Refa sekarang, kebetulan tadi ketemu di ujung gang sana. Malah dibilang pamer, ada-ada aja.“ Namun dalam gumam pelannya Arvin berkata, “Kalo mau pamer, pasti ke temen dan keluarga bukan sama emak-emak.“


Pemilik warteg itu mendengar ucapan pelan Arvin itu, “Tadi bilang apa, vin?“


“Kagak ada, cuma kering aja bibirku tadi.“


Kemudian, Arvin melanjutkan makan. Sementara Seraphina masih mencoba makanan itu, saat kuahnya masuk ke dalam mulut, rasa manis dan gurih bercampur menjadi satu. Warna kuning dari kuahnya tampak seperti tidak meyakinkan tapi rasa enaknya membuat nafsu makan bertambah. Meskipun dirumah Safy sudah menghidangkan banyak makanan, tapi tidak pernah sekalipun memasak sesuatu yang seperti ini. Dengan lahapnya Seraphina menghabiskan semangkuk opor, setelah itu dia meminum satu gelas air putih.


Arvin baru saja selesai makan, dia menuangkan kopi dari cangkir ke piring kecil. Karena masih dalam keadaan panas, ditiupnya kopi yang ada di cangkir. Kemudian,


“Sruup, Ahh“


Dia mengulangi lagi meminum kopinya, dan sama seperti sebelumnya. Dituangnya kopi ke piring kecil, lalu ditiupnya. Kemudian,


“Sruup, Ahh“


Seraphina melihat cara Arvin meminum secangkir kopi, antara bingung dan tidak tahu, ia tetap memperhatikan. Tapi saat Seraphina melihat di sekelilingnya, banyak orang juga melakukan hal yang sama.


“Kenapa, kak Seraphina?“ tanya Arvin.


Seraphina berhenti melihat sekitar, “Tidak apa-apa, hanya penasaran dengan cara minum kopi tadi.“


Arvin melihat kopinya sesaat.

__ADS_1


“Owalah, jadi memperhatikanku itu penasaran sama aku minum?“


Seraphina menganggukan kepalanya.


__ADS_2