Putri Seraphina

Putri Seraphina
CHAPTER 8


__ADS_3

Setelahnya, Safy bertanya lagi, "Tuan Putri, ada satu hal yang selalu ingin kutanyakan. Sejak datang ke dunia ini, mengapa bahasa dan tulisan dapat langsung dimengerti?"


Seraphina berjalan duduk di sofa, tangannya menepuk sofa yang ada di sebelahnya. Safy mengerti maksudnya, sehingga dia mendekat dan duduk di sofa. Seraphina membuat replika perpindahan ruang menggunakan sihir, "Dalam perpindahan ke dunia ini, kita semua berhasil sampai dengan selamat. Seharusnya, ruang perpindahan itu memiliki tekanan yang sangat kuat, benda apapun yang melalui perpindahan itu pasti akan mengalami kerusakan, termasuk tubuh makhluk hidup. Pada saat membuat ruang perpindahan, telah kutambahkan beberapa hal untuk mengantisipasi segala risiko. Semua keamanan telah terjamin, bahasa pertama kita akan mengikuti tempat di awal. Jadi, di awal kita mendarat di Indonesia, maka kita pun bisa berbahasa Indonesia."


Safy mengangguk setuju, dan Seraphina menambahkan, "Meskipun hanya satu bahasa yang kita ketahui, tapi itu bukan masalah. Selama ada sihir, semua hal akan menjadi mudah, termasuk dapat menguasai bahasa negara lain."


Setelah itu, mereka berbincang cukup lama, saling mengajukan pertanyaan dan menjawabnya. Hingga waktu berjalan satu jam, suara bel rumah berbunyi. Seraphina segera menuju ke pintu, ketika pintu terbuka, terlihat seorang pria tinggi sudah berada di depan. Pria itu mengenakan kemeja biru, celana panjang hitam, sepatu pantofel serta membawa tas dan koper. Pria itu menganggukkan kepalanya, “Selamat sore, Kak Seraphina. Saya adalah pengacara dari Refa Ardina, saya datang kemari sesuai dengan perjanjian."


Seraphina mempersilahkan pengacara itu masuk, mereka duduk di sofa sementara Safy pergi ke dapur untuk membuat sesuatu. Pengacara itu mengambil beberapa buku dan lembaran kertas, “Saya turut berduka atas kematian Refa sepuluh tahun yang lalu, dia merupakan anak yang baik dan pekerja keras. Sebelum kematiannya, dia telah menulis surat wasiat. Dalam wasiatnya, dia menyatakan bahwa semua asetnya akan diwariskan kepada seseorang yang dia kenal, namanya adalah Seraphina Aurora. Dia juga ingin semua hak miliknya diberikan kepada anda, semua itu dilakukannya secara terburu-buru. Awalnya saya tidak mengerti, orang yang akan mewarisi aset hanya berdasarkan gambaran saja. Lalu, surat wasiat itu tidak bisa kusetujui karena pemiliknya masih hidup dan dia masih memiliki saudara di kota lain. Namun, ketika mendengar kabar bahwa Refa telah tiada akibat racun, saya segera mengurus semua pesan terakhirnya itu dengan cepat," pengacara itu menghela napas panjang.


Seraphina mengambil kertas yang ada di meja, disitu tertulis tentang surat wasiat Refa. Seperti yang telah diketahui, semua asetnya akan diberikan kepadanya tanpa syarat apapun. Alasan utama dari semua itu adalah untuk mewujudkan mimpinya.

__ADS_1


"Disini tertulis alasan utamanya adalah untuk mewujudkan mimpi, lalu apa yang sebenarnya dikatakan oleh Refa?" jawab Seraphina.


Ketika pengacara itu akan menjawab, Safy datang membawa camilan dan teh. Perlahan cangkir dan teko diletakkan di meja, dengan penuh hati-hati teh yang ada di dalam teko dituang ke dalam gelas. Aroma menenangkan memenuhi seluruh ruangan, air teh itu tidak terlalu pekat namun aromanya begitu kuat. Pengacara itu mulai penasaran, lalu dia mengambil cangkir dan sedikit mencium aroma herbal itu. Saat mencoba untuk mencicipi, bibirnya bersentuhan dengan air teh, ternyata tidak terlalu panas. Tanpa ada keraguan, satu tegukan masuk ke dalam tenggorokannya. Seketika itu juga, beban yang ada di pikirannya langsung ringan. Tingkat fokusnya mulai terkontrol, serta tubuhnya menjadi lebih bertenaga. Pengacara itu menatap Safy, “Terima kasih atas seduhan teh yang nikmat ini. Jika boleh tahu, siapa nama kakak ini?”


Safy menundukkan badannya, “Saya adalah Safy Simenorpa, pelayan setia dari.. (menoleh ke arah Seraphina, dan dia berkedip sebagai bahasa isyarat) nona Seraphina. Saya juga berterima kasih atas pujian bapak.“ Segera Safy kembali ke dapur.


Pengacara itu kembali ke berkas-berkasnya, “Oke, seperti yang sudah dijelaskan di surat itu. Refa ingin mimpinya terwujud, untuk melakukan hal itu saya disewa untuk membantunya. Namun, ada satu hal yang tidak kumengerti, dikatakan dalam mimpinya itu Seraphina akan datang beberapa tahun setelah kematiannya. Pada tambahannya, dia mengatakan ketika waktunya sudah tiba, Seraphina sendiri yang akan menelponku, dan wow, setelah 10 tahun menunggu. Anda menelpon saya.” Wajah pengacara itu sontak tidak percaya apa yang sudah terjadi.


Seraphina tersenyum, “Baik, saya sudah cukup paham maksud dari mimpinya. Terima kasih atas semua bantuannya, tuan…”


Kecantikan yang terpancar pada wajah Seraphina saat tersenyum membuatnya sulit untuk fokus, rasa gugupnya lebih besar daripada yang dia kira. Sehingga dia mengalihkan perhatian dengan minum teh, saat pandangannya sudah teralihkan, Arvin segera mengambil sebuah berkas yang sudah bermaterai. Dia memberikan berkas itu pada Seraphina, “Tolong baca ini, kak. Jika tidak ada kekeliruan, silahkan ditandatangani tepat pada materai.”

__ADS_1


Isi dari berkas itu menyatakan bahwa Seraphina Aurora bersedia menerima semua aset yang telah diberikan kepadanya, dan berkas itu telah disahkan oleh lembaga yang bersangkutan. Seraphina mengambil pulpen yang telah disediakan, dia pun menandatangani berkas tersebut menggunakan huruf latin. Tulisannya itu sangat indah, tanda tangannya bagaikan kaligrafi sehingga dianggap sah. Arvin tidak menyangka ada orang bisa menulis kaligrafi secara mudah dan cepat. Setelah pengesahan itu sudah beres, Arvin memberikan sertifikat tanah, surat-surat kendaraan, rekening digital, password dan email yang digunakan untuk bisnis, dan semua keperluan dalam rumah itu.


Arvin mengulurkan tangannya, Seraphina melihat sejenak. Kemudian dia tahu yang harus dilakukannya, dengan senyumnya dia meraih tangan Arvin dan mereka berjabat tangan.


“Kak Seraphina, terima kasih atas waktu yang sudah diluangkan. Semoga apa yang sudah diberikan oleh Refa dapat memberikan peluang bagus bagi rumah ini dan kalian berdua,” ucap Arvin sembari berjabat tangan.


Seraphina tersenyum sambil menatap mata Arvin, “Saya juga berterimakasih atas segala bantuannya, Arvin.”


Arvin disitu langsung merinding, seluruh badannya terasa seperti sengatan listrik mengalir ke setiap bagian tubuhnya. Mata Seraphina yang berkilauan menatap langsung ke arahnya, rasa gugupnya kembali menyelimuti. Arvin segera berpamitan dan segera pergi, sambil berjalan dia bergumam pelan, “Ah… kenapa dia begitu cantik! Harus cepat pergi dari sini sebelum aku benar-benar menyukainya.”


Safy keluar dari dapur menuju ke arah ruang tamu, sibuk membereskan cangkir, teko, serta camilan. Seraphina melihat kembali semua surat penting itu, perhatiannya tertuju pada sisa saldo di rekening digital. Disitu terlihat sisa saldo senilai 200 juta, sedangkan histori awal mencapai 4 miliar. Seperti yang tertera dalam surat wasiat, sebagian dari tabungan telah digunakan untuk mengurus dokumen.

__ADS_1


Kemudian, Seraphina memerintahkan Safy untuk menyimpan semua surat penting tersebut di dalam koper ajaib. Safy pun bertanya dengan antusias, "Tuan Putri, apa yang akan kita lakukan selanjutnya dengan semua harta ini?"


Dengan tegas jawab Seraphina, "Safy, aku tidak bisa menggunakan semua harta yang diberikan secara cuma-cuma. Meskipun jumlahnya banyak, kita harus mencari cara agar semua harta yang diberikan oleh Refa tidak terbuang sia-sia. Maka dari itu, aku harus mencari pekerjaan terlebih dahulu."


__ADS_2