Putri Seraphina

Putri Seraphina
CHAPTER 39


__ADS_3

Ariel tampak ragu saat akan menjawab pertanyaan sulit tersebut, tetapi dia mencoba menjelaskan, "Seraphina, aku tidak bermaksud menyembunyikan sesuatu darimu. Tapi jika kamu ingin penjelasan, akan kuceritakan saat kita berada di rumah nanti."


Setelah mendengar jawaban Ariel, Seraphina meredam amarahnya. Lalu, dia menyentuh kening Safy dengan jari telunjuknya. Aliran sihir perlahan memancar ke dalam pikiran, menuju alam bawah sadar Safy. Proses ini memakan waktu cukup lama, hingga sifat asli Safy kembali muncul. Melihat Seraphina berdiri di depannya, dengan masih mengenakan baju perang, Safy langsung sujud.


"Tuan Putri, maafkan saya. Saya akan menanggung semua kesalahan itu karena 22 orang telah dieksekusi, dan pelakunya adalah saya sendiri." Kemudian Safy meletakkan pedangnya di depan kaki Seraphina. "Atas nama Raja Zorg dan Ratu Sera, saya siap dihukum mati," ujarnya sambil tetap bersujud.


Saat Safy masih bersujud, Seraphina berlutut di depannya. Beberapa tetes air dari atas jatuh ke bilah pedang yang terletak tepat di depan kepalanya. Ketika Safy mencoba melihatnya, ternyata Seraphina menangis dengan penuh kesedihan yang terpancar di wajahnya, air mata mengalir deras membasahi pipinya. Dengan lembut, Safy mendorong pedang itu ke depan, tetapi tindakan ini malah membuatnya semakin sedih.


"Mustahil! Menghukummu saja tidak pernah, mana mungkin aku bisa melakukan hukuman mati terhadap pelayan setiaku sendiri."


Safy tidak tega melihat Seraphina begitu sedih, maka ia bangkit dan memeluknya. Rasa bersalah mencabik-cabik hati Safy, ini pertama kali dalam hidupnya ia membuat Seraphina menangis sedemikian.


Tangisan Seraphina mengundang para roh dari berbagai penjuru berkumpul mengelilingi mereka berdua, awan di langit ikut berkumpul sampai seluruh pulau tempat tinggal mereka dipenuhi oleh awan mendung. Tiba-tiba, dari arah belakang Seraphina, Aldi memakaikan jasnya padanya dan mengusap air mata Seraphina menggunakan tisu.


"Phina, ayo kita pulang? Awan mendung sudah begitu gelap, mungkin sebentar lagi akan turun hujan," ujar Aldi sambil menutupi Seraphina dengan jasnya.

__ADS_1


Akhirnya Seraphina mulai tenang, tangisannya berhenti. Kemudian dia menoleh ke arah Aldi. Matanya masih berkaca-kaca dan wajahnya memerah akibat menangis cukup lama.


"Hmm?" jawab Seraphina, masih dalam suasana hati yang berat untuk berbicara.


Aldi tersenyum melihat reaksinya, lalu ia berlutut di depan Seraphina sambil menjulurkan jari kelingkingnya. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, semua masalah ini sudah berakhir. Dan aku juga tidak akan menyebarluaskan apapun mengenai kejadian hari ini, tentang bagaimana kamu melindungiku dan menyembuhkan tanganku. Aku bersumpah."


Seraphina mulai berpikir sejenak, mempertimbangkan semua risiko yang akan timbul jika kejadian tersebut tersebar ke publik. Namun, tangannya bergerak dengan sendirinya. Perasaan dari dalam hati menggerakkan tubuh untuk memberikan jawaban atas sumpah tersebut, dan mereka berdua saling memegang janji kelingking itu. Tentu saja, hal itu membuat Seraphina merasa aneh, karena tidak merasakan kejanggalan apa pun. Hanya ketulusan hati yang ia rasakan tanpa cela.


Dengan begitu, mereka semua bersama-sama pulang menuju ke rumah. Sementara Jacob sudah ditangkap dalam keadaan tidak berdaya dan dibawa ke rumah sakit, kemudian diadili dalam sebuah persidangan.


Ketika Jacob diberikan kesempatan untuk pembelaan, dia berdalih bahwa dia tidak melakukan apa yang telah dituduhkan padanya. Jacob juga menunjukkan surat perjanjiannya dengan Seraphina, beserta tanda tangan mereka. Namun, hakim tidak percaya begitu saja, dan kertas perjanjian itu langsung dirobek menjadi potongan kecil. Kemudian hakim meminta pendapat Arvin untuk menentukan hukuman yang pantas.


Arvin, dengan semua bukti yang telah ia kumpulkan dengan susah payah, menyarankan agar hukuman yang diberikan adalah hukuman mati. Akhirnya, dalam persidangan itu, Jacob dijatuhi hukuman mati.


Perjalanan pulang menggunakan mobil milik Aldi, di mana mereka semua, termasuk Ariel dan Safy, berbagi satu mobil. Banyak percakapan yang berlangsung selama perjalanan, hingga akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.

__ADS_1


Aldi dengan cekatan memarkirkan mobilnya di halaman rumah Seraphina, sementara yang lain memasuki rumah terlebih dahulu. Safy dengan sigap mengatur sofa di ruang tamu, menciptakan suasana yang nyaman. Setelah semua telah berkumpul, Aldi mengembalikan tas Seraphina dan kemudian memutuskan untuk pulang.


Di dalam rumah, ketiga dari mereka duduk bersama tanpa banyak bicara. Hampir 2 jam berlalu dalam keheningan, sebelum akhirnya Seraphina memutuskan untuk memulai pembicaraan.


"Jelaskan padaku, Ariel. Kamu tadi sudah berjanji akan memberikan penjelasan ketika kita sampai di rumah. Sekarang, berikan penjelasanmu," pinta Seraphina dengan tegas.


"Baik," jawab Ariel, dan dia pun mulai menjelaskan.


(Ariel menceritakan awal dari segalanya, yang bermula sebelum pemerintahan Raja Zorg. Pemimpin kerajaan saat itu adalah Raja Vinn, seorang yang memiliki kekuatan dan strategi perang yang dihormati dan dianggap mampu menghadapi puluhan serangan dari beberapa kerajaan yang bersekutu. Kekuatan dan kebijaksanaan perang Raja Vinn bukanlah mitos belaka; dia bahkan rela mengorbankan hati nuraninya sendiri demi melindungi rakyatnya dari penderitaan. Raja Vinn mengambil langkah-langkah tegas dan tidak masuk akal, memaksa setiap prajurit dalam kerajaannya untuk melatih mental dan fisik mereka sampai batas maksimal.


Setelah semua latihan keras ini terbukti berhasil dan kerajaannya hampir seluruhnya terlindungi dari serangan musuh, Raja Vinn mulai mengeluarkan berbagai perintah baru, terutama yang bersifat rahasia di dalam istana.


Selama 60 tahun masa pemerintahan Raja Vinn berlangsung, akhirnya dia digantikan oleh Raja Zorg. Pemerintahan Raja Zorg berbeda, tidak menggunakan strategi kejam terhadap pasukannya. Ini membuat pertahanan kerajaan menjadi lebih lemah, dan ketika perang meletus, kerajaannya mulai terancam. Dengan aliansi musuh yang berjumlah lebih dari 500 ribu, sementara Raja Zorg hanya memiliki 50 ribu pasukan, kerajaannya hampir runtuh. Puluh ribu orang tewas dalam serangan dari berbagai arah, tetapi peraturan rahasia dari masa pemerintahan Raja Vinn masih tetap berlaku, dan ini menghalangi musuh dari mencapai tujuannya. Bahkan, jenderal perang dari empat aliansi musuh tewas dalam serangan mendadak dari para pelayan istana, sehingga musuh-musuh itu terpaksa mundur.


Raja Zorg kemudian mencari tahu tentang peraturan rahasia ini. Dalam gulungan kertas tertulis bahwa semua pegawai istana, termasuk pelayan, diwajibkan untuk menjalani pelatihan sebagai pasukan khusus. Pelatihan tersebut sangat ekstrem, melibatkan pengembangan mental dan fisik mereka.

__ADS_1


Terdapat dua aspek pelatihan mental yang harus dikuasai oleh para pelayan. Pertama, mereka harus tahan terhadap kata-kata kasar dan perlakuan kasar dari kepala pelayan, dan yang kedua, mereka harus dapat menghadapi tekanan yang sangat keras serta tetap teguh tanpa terpengaruh oleh pengaruh apa pun.


__ADS_2