
Ratu Sera mendapati putrinya sudah sadar memanggilnya, sehingga dia segera bangkit dari kesedihannya. Lalu menjawab, “Putriku tersayang. Kamu sudah bangun?”
Seraphina masih belum sepenuhnya sadar. Dengan terbata-bata, ia berkata lagi, “I-ibu, jangan salahkan Aldi karena kejadian ini.“
“Putriku, kenapa kamu tetap bersikeras ingin menerima perasaannya?” jawab Ratu Sera khawatir.
Sebelum Seraphina bisa menjawab, ia kembali tertidur. Ratu Sera tersenyum melihat putrinya telah membaik. Lalu para prajurit yang ada disitu diperintahkan untuk mencari buah-buahan. Tanpa bertanya, mereka bergegas kembali ke Kerajaan Seraphinova. Ratu Sera tetap menemani Seraphina sambil sesekali membersihkan keringat menggunakan tisu.
Di sisi lain, suasana gelap menghiasi seluruh tempat. Namun, perlahan secercah cahaya mulai muncul. Semakin lama, cahaya tersebut semakin dekat. Hingga ketika seluruh kegelapan menjadi terang, mata Ariel terbuka. Keluar dari fase koma, Ariel mencoba melihat sekitarnya. Dia melirik ke kanan dan ke kiri, dan menyadari posisinya sudah berada di kamarnya sendiri. Ariel melihat Safy berada di sampingnya, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa Safy sudah bangun.
Di dalam keadaanya sekarang, Ariel sadar dirinya telah mengalami luka fatal. Sebelumnya tubuhnya terasa seperti mati rasa karena menahan rasa sakit yang sangat hebat. Namun, sekarang rasa itu telah tiada. Kedua tangannya dapat digerakkan kembali, kemudian Ariel mencoba untuk bangkit duduk.
Tiba-tiba, seorang prajurit menahannya untuk melakukan hal tersebut, “Putri Ariel, tolong anda tetap berbaring. Kata Yang Mulia Ratu, anda belum pulih sepenuhnya.“
“Oh, jadi aku telah ditolong oleh Ratu Sera.“ gumam Ariel di dalam hati.
Dia mengikuti saran dari prajurit yang berjaga, dan mengurungkan niatnya untuk bergerak lebih banyak. Ariel melihat prajurit masih berjaga di ruangan tersebut, “Tunggu, mereka kan prajurit elit dari Kerajaan Seraphinova? Lalu apa yang terjadi dengan Seraphina?“ gumamnya terkejut.
__ADS_1
Ariel merasa khawatir dengan keadaan Seraphina setelah pertempuran tadi. Hal yang paling ditakutinya adalah Ratu Sera memberi hukuman berat terhadap putrinya yang tidak patuh pada perintah Raja. Karena itu, Ariel memanggil kedua prajurit itu. Namun, ketika ingin mengeluarkan suara, hal yang tidak terduga terjadi.
“A..a…a.“ ucap Ariel. Dia bahkan tidak bisa berbicara normal, seakan-akan ada yang menahan suaranya sehingga tidak bisa digunakan. Para prajurit mencoba memahami ucapan Ariel, namun sulit. Kemudian salah satu dari dua prajurit itu berkata, “Hei, panggil Yang Mulia Ratu kemari. Bilang saja bahwa Putri Ariel sudah sadar, sementara aku akan mengurus sisanya.“
Setelah prajurit memberi instruksi pada rekannya, keduanya bergerak sesuai tugas masing-masing. Ratu Sera diberitahu mengenai keadaan Ariel, dari mulai terbangun hingga ucapannya yang tidak jelas. Ratu Sera merespons baik, dan segera menuju ke kamar sebelah. Benar saja, Ariel sudah sadar dari fase koma.
Ratu Sera mendekat ke arah tempat tidur, memegang tangan Ariel, “Bagaimana keadaanmu, Ariel?“
“B-b..ba..“
“Sudah, jangan dipaksakan,” kata Ratu Sera dengan nada lembut nan pelan. “Mungkin sekarang masih sulit untuk berbicara, tapi besok pasti kalian akan sembuh.“
“Iya, aku mengerti. Memang sejak Seraphina meninggalkan kerajaan, dia sudah dipantau dari jarak jauh. Mana mungkin kubiarkan seorang anak pergi sendiri ke tempat yang keadaannya belum pasti.“ Lalu Ratu Sera melanjutkan, “Sementara kamu, Ariel. Jangan membuat Ayahmu khawatir dengan pergi tanpa pamitan. Lain kali jangan diulangi lagi, ya anakku?“
Ariel mengangguk tanda mengerti, dan akhirnya Ratu Sera memberikan sihir tidur kepadanya. Salah satu prajurit di belakang bertanya, “Minta izin bertanya, Yang Mulia. Kenapa Safy masih belum sadarkan diri?“
Ratu Sera memberikan jawaban, “Safy tidak sadarkan diri karena dia masih dalam keadaan ‘setengah mati’. Dalam keadaan ini, mustahil untuk bangun dengan cepat. Mungkin saja, dia bisa bangun besok pagi atau lusa.“
__ADS_1
Prajurit tersebut bertanya lagi, “Maaf, Yang Mulia. Izin untuk bertanya lagi. Dari jejak pertempuran, Safy hanya terkena imbas bukan serangan langsung. Tapi mengapa bisa sampai sedemikian parah?“
“Kuberitahu satu hal padamu, bahwa dimanapun dunia berada sihir itu mematikan. Seperti sihir api yang akan membakar, sihir air yang akan menenggelamkan, sihir tanah yang akan menghancurkan, dan sihir cahaya yang akan melenyapkan. Tapi itu hanya berlaku bagi yang terkena serangan langsung, dan para pengguna sihir pasti memiliki respon perlindungan sehingga tidak akan terlalu terpengaruh jika hanya kena imbas saja.“ jawab Ratu Sera dengan serius.
Kedua prajurit tersebut saling menatap satu sama lain, lalu Ratu Sera melanjutkan penjelasannya, “Lalu apabila seseorang tanpa sihir atau tidak dikaruniai aliran sihir terkena imbas dari serangan sihir, apa yang terjadi? Efeknya tidak jauh berbeda dengan serangan langsung. Dalam kasus Safy, dia terkena imbas ledakan energi dari sihir cahaya milik Seraphina. Seharusnya aliran sihir dari korban akan terkunci, namun karena Safy tidak memiliki sihir, yang terkunci adalah sumber kehidupannya.“
“Bukankah itu lebih berbahaya?“
“Betul sekali. Sumber kehidupan adalah nyawa terakhir dari setiap makhluk, dan jika itu terkunci, pasti makhluk itu perlahan akan mati.“
“Apakah Safy bisa sembuh?” kata salah satu prajurit.
“Bisa.“ jawab Ratu Sera sambil memberikan sihir penyembuhan pada Safy. “Gadis ini bukanlah gadis biasa. Selama 6 bulan, dia diberikan ujian paling berat, dan selama 2 tahun juga ia telah mengalami berbagai hal paling tidak menyenangkan. Kalau bukan karena ketangguhannya dalam menahan rasa sakit, pastinya gadis ini sudah mati dari dulu.“
Saat mereka semua masih dalam keadaan tidak sadar, handphone Seraphina berbunyi keras. Prajurit wanita datang mendekati Ratu Sera sambil membawa handphone tersebut. Pada layar tertulis ‘panggilan masuk dari Arvin’, pada saat itu tidak ada orang satupun yang bisa menerima panggilan sebab bahasa dari handphone itu berbeda. Kemudian suara handphone berhenti, tapi sekali lagi berbunyi dengan tulisan di layar ‘pesan masuk dari Arvin’. Ratu Sera mengambil pengetahuan dari Seraphina, sehingga ia dapat mengetahui cara membuka pesan masuk. Dengan sedikit kaku, Ratu Sera mencoba melihat apa yang dikirim Arvin.
Mengetahui bahasa yang digunakan tidak sepenuhnya sama, Ratu Sera mengambil pengetahuan tentang bahasa dari seluruh kota itu. Sekarang pesan dari Arvin dapat dibaca, disana tertulis “Halo, Phina. Bagaimana kabarmu sekarang? Semoga baik-baik saja. Ngomong-ngomong, kamu punya hari libur, tidak? Aku punya dua tiket bioskop untuk film kartun favoritmu si kucing dan si tikus. Jika mau, sebelum minggu depan, jawab saja pesan ini, oke.“
__ADS_1
Ratu Sera penasaran dengan pria bernama Arvin, “Siapa lagi ini. Tertulis namanya Arvin, pasti dia seorang pria.“
Pengawal wanita yang memberikan handphone tersebut berkata, “Apakah pria bernama Arvin ini juga memiliki hubungan dengan Tuan Putri?“