
Dina menjawab, “Siap! Bos“
Semua pegawai berpencar sesuai pekerjaan masing-masing. Sementara itu, Aldi memberi salam ramah kepada pelanggan yang baru tiba. Satu pelanggan tetap masih berada di dalam toko, dan Aldi memulai percakapan dengan santai,
"Selamat datang. Silahkan menjelajahi produk-produk kami. Kami juga memiliki produk baru dengan berbagai promo menarik hari ini."
Pelanggan itu tersenyum kepadanya, kemudian melanjutkan berkeliling. Disisi lain, Seraphina diberi tugas untuk mengganti produk lama dengan yang baru. Dia mengambil kotak minuman dari gudang dan membawanya ke area kulkas minuman. Namun, di depan kulkas, banyak minuman dengan jenis yang berbeda-beda. Seraphina bingung membedakan mana produk lama dan mana produk baru. Dina melihatnya tengah kesulitan dan segera mendekat, “ Phina, bagaimana? Perlu bantuan kah? “
"Iya, saya ditugaskan untuk mengganti minuman lama dengan yang baru. Tapi saya bingung bagaimana cara membedakan produk lama." Jawab Seraphina dengan sopan.
Dina mengambil salah satu minuman dari kulkas, "Begini, untuk mengenali minuman lama, lihat stok yang paling sedikit. Periksa juga tanggal kedaluwarsanya. Jika tanggalnya sudah mendekati batas akhir, meskipun masih ada stok banyak, sebaiknya diganti. Sudah paham?"
Seraphina mengangguk, "Saya memahaminya sekarang. Terima kasih atas penjelasannya, Dina."
Dina kembali ke pekerjaannya membersihkan lantai di dekat area kasir. Seraphina mengerti tugasnya dan dengan cekatan mengganti semua produk yang perlu diganti. Bukan hanya di kulkas, tapi juga produk makanan lainnya. Dari kejauhan, Aldi memantau para pegawainya dan mencatat hasil kerja mereka. Namun, perhatiannya lebih sering tertuju pada Seraphina. Wajahnya masih terpikat oleh kesan pertama mereka. Ketika siang tiba, Aldy mendekati Seraphina, "Phina, sekarang waktunya makan siang. Di ruang pegawai, sudah ada nasi kotak untukmu. Nikmati makananmu dan kembali bekerja setelah 15 menit."
Seraphina mengikuti petunjuk Aldy dan pergi bersama rekan-rekannya untuk makan siang. Seraphina mengambil dua kotak, satu untuknya dan satu untuk Dina.
"Terima kasih, Phina," ucap Dina.
__ADS_1
Mereka berdua makan sambil berbincang santai. Kemudian, Riko masuk ke ruang pegawai. Ia terlihat lelah dengan keringat yang menetes dari rambutnya. Dina langsung bersuara, “Lu kenapa? Habis mandi lu?“
Riko mengambil nasi kotaknya sambil menjawab, “ Mandi apanya, tadi habis bongkar muatan. Satu truk isinya beras, dan yang laki cuma gue doang, kocak!” Dengan cepat Riko langsung melahap nasi kotak, lalu dia pun tersedak.
“Uhuk.. Uhukk..“
Seraphina membuka botol air mineral dan diberikan kepadanya, “Ya ampun Riko, cepatlah minum.“
Dina pun juga berkomentar, “Nih orang juga kocak, makan langsung ditelan aja.“
Riko meminum air mineral dengan cepat, hingga air tumpah-tumpah karena terlalu terburu-buru. Seraphina hanya bisa menggelengkan kepala, dia memang belum pernah bertemu dengan seseorang sepertinya. Melihat Riko masih haus, dia mengambil satu botol lagi dan memberikannya. Setelah itu mereka melanjutkan makan dan Seraphina memberi nasihat, "Kamu harus lebih hati-hati, makanan ini tidak ada kuahnya. Jadi kalau makan terlalu cepat, bisa tersedak, terutama jika tenggorokan masih kering."
Dina membantah dengan tegas, "Iya, tapi hati-hati, dia ini cuma modus aja."
“Yaelah, galak bener.“ ucap Riko.
"Sudahlah, jangan bercanda terlalu berlebihan. Waktunya sudah hampir habis, mari kita lanjutkan bekerja setelah ini." Seraphina berkata kepada mereka semua.
Dina dan Riko kembali fokus pada makanan mereka. Setelah selesai makan, semua kembali ke pekerjaan masing-masing. Waktu berjalan hingga jam menunjukkan pukul 4 sore. Aldi memanggil Seraphina, "Phina, kamu boleh pulang sekarang. Pegawai lainnya akan melanjutkan shift."
__ADS_1
Seraphina mengangguk sopan, "Terima kasih, Pak Manajer."
Ketika Seraphina keluar dari toko, Dina dan Riko sudah menunggu di luar. Mereka mendekatinya, Dina mengajaknya pulang bersama menaiki motor kebetulan rumahnya tidak jauh dari minimarket. sementara rumah Riko jaraknya cukup jauh. Dia juga menggunakan motor untuk bisa sampai di minimarket. Seraphina menceritakan bahwa rumahnya juga tidak terlalu jauh. Dina meminta nomor kontak Seraphina, dan Riko juga ikut serta meminta nomornya. Dengan begitu, mereka bertiga bisa tetap terhubung. Perbincangan hangat antara mereka bertiga berlangsung lama. Ketika Riko akan menyalakan motornya, dia menawarkan tumpangan kepada Seraphina. Dina juga menawarkan tumpangan menggunakan motornya.
Mereka berdua saling bersaing memberikan tawaran tumpangan, namun Seraphina memilih Dina sebagai pengantar sampai ke rumahnya. Dengan senang hati, Dina mengiyakan permintaan itu. Riko pun mengikuti dari belakang, dan mereka bertiga bersama-sama pergi sesuai petunjuk Seraphina.
"Saya tinggal di rumah dengan pagar putih," Seraphina memberikan petunjuk singkat.
Tiba di depan rumah yang memiliki pagar putih, Dina berhenti mengendarai motornya. Seraphina turun dengan seraya berkata, "Terima kasih atas tumpangannya. Apakah kalian ingin mampir sebentar?"
Dina menjawab dengan penuh antusias, “Ah, terima kasih untuk tawarannya. Kapan-kapan kami main ke rumahmu, ya kan? “ Sambil memandang Riko dengan mengedipkan mata berkali-kali.
Riko segera menjawab, "Tentu, kita pasti akan mampir saat liburan."
Mereka saling berpamitan dan berpisah menuju rumah masing-masing. Di depan rumah, Safy keluar dari dalam untuk menyambut kepulangan Seraphina, "Selamat datang, Tuan Putri. Saya telah menyiapkan air hangat untuk Anda."
"Terima kasih, Safy. Aku benar-benar lelah, dan setelah mandi, membaca novel pasti akan menyenangkan," kata Seraphina sambil masuk ke dalam rumah.
Safy langsung mempersiapkan hidangan untuk makan malam, dengan bahan utama ikan salmon. Dengan menggunakan sihir penyimpanan, dia mengambil ikan salmon utuh. Memakai pisau sihir yang biasa digunakan di istana, Safy dengan terampil memotong kepala ikan dan membagi tubuhnya menjadi dua. Setelah tubuh ikan terbagi menjadi dua, masih ada banyak duri di dalam daging. Tentu, hal itu bukanlah masalah baginya. Pisau sihir dengan batu sihir terpasang pada pisau memungkinkan Safy untuk dengan mudah menghilangkan semua duri hanya dengan sedikit gerakan. Pisau ini memiliki kesadaran sendiri, dan ketika berada dekat dengan sesuatu yang akan dipotong, tingkat ketajamannya meningkat. Namun, saat tidak digunakan, pisau itu tumpul tapi saat pisau meyentuh permukaan daging, daging sudah terpotong. Safy memisahkan daging salmon tanpa merusak kulit ikan. Sihir di dalam pisau menyerap darah ikan, menjadikan daging itu kering sempurna. Lalu, dia menaburkan garam dan merica pada daging. Merica khusus istana berwarna cerah dan memiliki aroma yang tidak terlalu kuat, namun rasa yang kuat, digunakan untuk memberi rasa pada daging. Saat merica bersentuhan dengan daging, rasa dan aroma meresap dengan sempurna. Dan ketika semuanya telah pas, Safy memanaskan wajan teflon di atas kompor. Menambahkan sedikit minyak, dan setelah wajan cukup panas, Ikan salmon itu digoreng. Melihat kulitnya renyah, Safy membaliknya dan melapisi dengan mentega. Beberapa menit kemudian, daging salmon matang dengan sempurna. Safy meletakkannya di atas piring, dengan saus yang dihidangkan dalam wadah kecil di sampingnya.
__ADS_1