Putri Seraphina

Putri Seraphina
CHAPTER 46


__ADS_3

Dan saat itulah Seraphina mengerti siapa yang dimaksud dalam mimpinya Aldi. Dia tahu betul bahwa para bintang sudah memberitahukan beberapa rahasianya, tapi Seraphina tidak melanjutkan pertanyaan lebih lanjut. Malahan ia berterima kasih kepada Aldi karena telah membawanya menuju ruangan terbaik. Terdapat empat lantai yang semuanya berisikan buku dengan susunan tersendiri. Kemudian Aldi memberikan sebuah kartu anggota perpustakaan, dengan nama Seraphina dan tingkat keanggotaan VIP.


Aldi menjelaskan lagi, “Bagaimana? Mungkin Phina sedikit kebingungan, kenapa kamu sudah menjadi tingkat VIP. Itu karena aku telah mendaftarkanmu lewat kartu manajer cabang Perusahaan Almart. Jadi semua buku yang ada di sini dapat dibaca sepuasnya, kapanpun.”


“Oh, begitu. Lalu bagaimana jika misalnya aku mendaftarkan sendiri tanpa bantuanmu?” tanya Seraphina.


“Ya, sebaliknya. Semua buku di sini tidak dapat diakses secara luas, hanya terbatas untuk umum saja. Mereka yang mendaftarkan diri dengan jabatan di bawah manajer akan diberikan pembatasan, tapi jika di atasnya, akan diberikan hak VIP. Dan satu lagi, ada tingkatan yang lebih tinggi, yaitu anggota militer tingkat atas seperti kepala polisi atau jenderal militer akan mendapatkan fitur khusus membaca buku yang bersifat rahasia negara,” Aldi menjelaskan.


Akhirnya, Seraphina mengerti peraturan di sana. Setelah Aldi selesai menjelaskan semuanya, ia bertanya lagi, “Baguslah kalau Phina sudah membaik, soalnya dari tadi kulihat wajahmu murung terus.”


Seraphina menundukkan kepalanya, “Maafkan aku, Aldi. Karena sifat egoisku, aku telah membuatmu khawatir.”


Sementara Seraphina masih menunduk, Aldi dengan perlahan mengusap kepalanya, “Sudahlah, memang aku yang salah di situ. Tanpa memikirkan perasaanmu, keisenganku malah membuat bumerang untukku sendiri.”

__ADS_1


Secara perlahan, suasana di antara mereka kembali normal. Di dalam suasana tersebut, Seraphina menggandeng Aldi menuju ke ruangan penuh buku novel. Sebentar memilih buku yang diinginkan, akhirnya ia menemukan buku favoritnya. Judul novel tersebut adalah “Putri Kerajaan”. Sebuah karya dari penulis lama yang tidak begitu banyak dikenal, namun bagi sebagian orang, termasuk Seraphina, novel itu merupakan hiburan di kala sepi atau hanya sebagai penambah motivasi.


Aldi pun turut membaca bersama dengan Seraphina, mereka berdua saling berbagi tempat duduk. Buku diletakkan di tengah antara mereka, kemudian bergantian membaca. Ketika Seraphina tengah membaca, tidak terasa sihir dalam dirinya keluar melalui ucapan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya masuk ke telinga Aldi, secara perlahan namun pasti Aldi merasa seluruh ruangan itu berubah. Berbagai rak buku di sekitar mereka menghilang, berubah menjadi ruangan yang amat luas dan dipenuhi oleh barang-barang antik. Dia juga mendapati ada prajurit berbaju besi membawa tombak dan pedang yang tengah patroli di ruangan itu.


Merasakan hal ini, Aldi hanya bisa merasa kebingungan. Hanya satu hal yang dapat dipikirkannya, bahwa sekarang keberadaannya ada di sebuah kerajaan. Namun kerajaan apa itu, dia tidak mengetahuinya. Pada saat itu, Aldi sedang duduk di kursi. Tangannya bersandar di meja. Kemudian ia mencoba berkeliling untuk memastikan kebenaran dari apa yang dilihatnya sekarang, secara perlahan memeriksa setiap tempat. Hasil pemeriksaannya sangat di luar ekspektasinya. Aroma, tekstur, dan kepadatan setiap benda terasa benar-benar nyata.


Awalnya, ia mengira semuanya itu hanyalah mimpi, namun perkiraannya salah. Semua di dalam ruangan itu adalah kenyataan, sungguh tidak masuk akal. Yang lebih aneh, badannya tidak dapat dilihat oleh orang di sekitarnya. Sejak tadi, prajurit-prajurit sibuk berpatroli, namun tidak satupun dari mereka menyadari keberadaannya. Karena sudah menunggu lama namun masih tidak ada perubahan, Aldi memutuskan untuk berjalan lebih jauh.


“Hah? Apa ini mimpi atau nyata? Tapi jika mimpi, kenapa terasa begitu nyata, dan sekarang ada begitu banyak pelayan seperti Safy di depanku. Aduh, masa sih aku jadi manusia halu?” ucap Aldi, penuh pertanyaan di kepalanya.


Namun, ketika ia hendak meninggalkan aula, seorang pelayan wanita menyebut kata ‘Seraphina’. Maka Aldi langsung menghentikan niatnya untuk meninggalkan aula. Sehingga dia mengikuti arah pelayan tersebut pergi. Perjalanan cukup jauh, melewati tangga dan lorong yang panjang. Akhirnya, pelayan itu membawanya ke suatu ruangan dan membukanya. Aldi mengikutinya dengan harapan menemukan jalan keluar.


Namun, bukan jalan keluar yang dia temui, melainkan sebuah ruangan mewah yang dipenuhi dengan benda-benda masa depan. Aldi juga menemukan beberapa rak buku, yang paling mencengangkan adalah lukisan Seraphina mengenakan gaun indah. Seketika Aldi tidak bisa berkata-kata apapun, dia tidak mengerti ingin berbicara apa lagi. Pikirannya sudah bingung, tidak percaya, sehingga dia melanjutkan melihat sekitar.

__ADS_1


Lalu pelayan itu keluar dari ruangan tersebut, dan Aldi tetap mengikutinya. Seperti sebelumnya, perjalanan cukup panjang melewati lorong. Akhirnya, ia sampai di sebuah aula, namun berbeda dari sebelumnya. Aula tersebut hanya memiliki empat pilar, dan di dinding terdapat tirai merah besar menutupi sebuah benda. Kemudian masuklah Banyak pelayan dan prajurit berbadan besar memasuki aula, diikuti oleh 15 orang berpakaian seperti raja. Setelah itu, Mereka berdiri di depan kain merah besar tersebut. Begitu sudah semuanya berkumpul, salah satu prajurit menarik tirai tersebut dan sebuah patung raksasa muncul. Patung itu sama persis dengan Seraphina, tepat di belakang patung itu terdapat foto besar Seraphina.


Maka semua orang yang berkumpul di aula langsung berlutut ketika tirai itu dibuka. Tentu, hal itu membuat Aldi merasa lebih terkejut.


Mereka semua berkata, “Avveil q arte wisdon tra is neir Seraphina. Rav immer amvlie!, immer amvlie!“


Bahasa yang benar-benar tidak dikenalinya, tetapi satu hal yang dia ketahui adalah nama Seraphina di dalam baris kata tersebut. Aldi berasumsi bahwa Seraphina adalah ratu atau pemimpin tertinggi di tempat itu.


Saat Aldi ingin melihat patung lebih dekat, tiba-tiba suasana kembali ke perpustakaan. Dia menoleh ke kiri dan melihat banyak rak buku dan orang berjalan. Lalu, ia menoleh ke kanan dan melihat Seraphina masih membaca buku novel tersebut. Aldi mencoba menyentuh meja, dan teksturnya nyata. Dan untuk memastikan, dia mencubit pipi Seraphina.


“Aduh,” Seraphina teriak. Lalu bertanya, “Ada apa, Aldi? Jangan bilang ini iseng lagi.”


“Nggak, cuma penasaran aja. Pipimu begitu lembut seperti kue mochi,” ucap Aldi, masih kebingungan tapi lega karena telah menemukan jawaban pasti.

__ADS_1


__ADS_2