Putri Seraphina

Putri Seraphina
CHAPTER 30


__ADS_3

Keduanya melangkah keluar dari gedung kantor pusat, menuju ke tempat parkir di basement. Aldi menempati kursi pengemudi, sementara Seraphina duduk di kursi depan. Mesin mobil dinyalakan, dan dengan pelan mereka keluar dari area kantor. Sore itu sudah menjelang, sekitar pukul 4 sore. Perjalanan pulang akan memakan waktu hampir 2 jam. Setelah mereka keluar dari gedung, percakapan antara mereka seakan menghilang. Sekilas Aldi melirik ke arah Seraphina, wajahnya seperti sedang memikir sesuatu tapi tidak tahu apa yang dia pikirkan. Untuk mencairkan suasana Aldi mencoba berbicara,


“Bagaimana menurutmu tentang rapat hari ini, menarik atau buruk. Mungkin ada pengalaman buruknya, hal itu tidak bisa dipungkiri.“


"Rapat hari ini memiliki sisi menarik dan juga kurang menyenangkan. Berbicara tentang ide-ide untuk mengembangkan toko sangat menarik, karena pekerjaan ini membuatku merasa bahagia. Namun di sisi lain, ada hal yang kurang menyenangkan seperti bertemu dengan seorang bajingan." jawab Seraphina dengan nada kesal.


Aldi terkejut dengan cara Seraphina mengutarakan hal itu, tetapi ia berusaha mengingat wajah orang yang mungkin dimaksud olehnya. Dalam banyak orang di kantor, Aldi tahu hanya ada satu orang yang sering dikaitkan dengan rumor negatif dan mempunyai rekam jejak yang buruk di cabang B. Wajah Aldi berubah menjadi serius, "Seraphina, katakan dengan jujur. Apakah orang yang kamu maksud memiliki postur tubuh tinggi, menjabat sebagai asisten manajer, dan pernah mengancammu?"


Seraphina mengangguk, "Iya."


Tiba-tiba…


“Brukk!“


Aldi dengan kuat memukul setir mobil hingga terdengar suara benturan yang teramat jelas. Kaca depan mobil bergetar akibat pukulan tersebut. Seraphina segera menahan Aldi yang hendak memukul lagi, "Pak Manager, cukup! Jangan dilanjutkan. Anda bisa terluka. Lagi pula, pria itu belum melakukan tindakan kekerasan."


Aldi menepikan mobilnya dan kedua tangannya memegang pundak Seraphina. Sambil bernafas berat, ia berkata, "Baiklah, terima kasih, Phina. Tidak akan ada manajer yang bijak mengatakan 'santai' dalam situasi seperti ini. Terlebih lagi, ini menyangkut pegawai yang paling kucintai."


Kemudian Aldi melepaskan pundak Seraphina, lalu menyandarkan badannya di kursi. Dan saat dia mulai berpikir, telepon miliknya berdering. Saat diangkat, ternyata Riko yang menelpon. Dari percakapan Riko, dia melaporkan kejadian di toko saat ini.

__ADS_1


Dari laporan Riko, Aldi mengetahui bahwa ada seorang pria masuk ke toko mereka. Pria tersebut tidak membeli apapun, namun ia bertanya tentang Seraphina. Yang lebih penting, pria itu telah memberikan ancaman serius kepada seluruh karyawan. Ancaman ini berujung pada pengaduan kepada otoritas perlindungan konsumen, yang bisa mengakibatkan pemecatan dan penutupan toko, serta masalah hukum. Setelah mendengarkan laporan ini, Aldi segera mengatakan bahwa dia akan datang ke toko dengan segera.


Tanpa banyak kata, Aldi segera melaju dengan cepat menuju toko. Sepanjang perjalanan, ia memastikan bahwa Sabuk pengaman Seraphina terpasang dan mempercepat kecepatan mobil. Dalam waktu singkat, mereka tiba di depan toko. Aldi keluar dari mobilnya dan langsung masuk ke dalam, terlihat Riko duduk bersama Dina yang sedang menangis.


"Ada apa dengan Dina? Apakah pria itu melakukan sesuatu padanya? Katakan padaku apa yang terjadi dengan jujur."


“Bukan, Bos. Dina menangis karena dia takut terjerat masalah. Seperti yang saya sampaikan di telepon tadi“ Riko sambil menenangkan Dina.


Seraphina melihat ekspresi sedih Dina dan menghampirinya, memeluknya dengan penuh perhatian. Dalam upaya menghapus rasa sedihnya, Seraphina mengalirkan sedikit energi sihirnya secara perlahan. Dengan cepat Dina sudah merasa lebih baik, dia pun bisa berkata, “Begini, Pak manager. Sebelum pria itu pergi, kami ditolong seseorang. Kata dari orang yang menolong kami itu membuatnya pergi sehingga tidak sampai ada kekerasan. Tapi begitu tidak adil, masa sih dipenjara padahal kan tidak ada kesalahan.“


Aldi bertanya lagi, "Apakah kalian tahu siapa orang yang membantu kalian?"


Mobil hitam mewah berhenti di depan toko mereka, ketika pintu mobil terbuka orang yang dimaksud keluar, dialah Arvin. Berjalan menuju ke dalam, tapi pandangannya langsung tertuju pada Seraphina, “Phina? Kamu disini, saya mencarimu kemana-mana.“


Aldi melihat mereka berdua, dia tidak menyangka mereka sudah saling kenal.


“Kalian sudah saling kenal?“


Arvin menoleh ke arah Aldi, kemudian tangan kanannya di ulurkan, “Perkenalkan, namaku adalah Arvin, seorang pengacara. Lebih tepatnya pengacara khusus dari Seraphina.“

__ADS_1


Aldi meraih tangan Arvin, mereka berjabat tangan, "Salam kenal, Arvin. Nama saya Aldi, manajer cabang pusat. Jika masalah ini bisa diselesaikan, saya siap membayar segala biayanya."


"Pak Aldi, kasus ini sudah menyangkut Seraphina. Walaupun tidak ada pembayaran, aku akan tetap menanganinya. Aku berjanji pria itu tidak akan pernah kulepaskan.“


(Arvin dan Refa telah memiliki perjanjian kerja sama yang berlaku selama 10 tahun dalam kontrak pengacara. Namun, karena pembayaran yang sudah terjadi telah melebihi jangka waktu tersebut, Arvin setuju untuk memberikan bantuan kepada Seraphina sesuai dengan perjanjian yang tidak tertulis antara mereka. Ini juga sebagai bagian dari perlindungan Seraphina yang telah direncanakan oleh Refa sebelum ia pergi.)


Toko kemudian ditutup untuk menghindari gangguan dari pihak luar. Mereka semua berkumpul dan membagikan informasi secara rinci tentang masalah ini. Arvin meminta Seraphina untuk menceritakan seluruh kronologi peristiwa, mulai dari awal hingga masalah mencapai puncaknya. Maka, dengan jujur Seraphina menceritakan saat dirinya terpisah dari manajer, kemudian di pertigaan lorong ia tidak sengaja menabrak Jacob.


Karena kejadian itu, Jacob menjadi emosi sehingga meluapkan kekesalan padanya. Sampai Seraphina menyadari bahwa pandangan Jacob mengacu pada dirinya, mulai dari kepala sampai kaki. Disitulah awal mula masalah terjadi, pengancaman hendak mempersuntingnya membuat semuanya menjadi rumit hingga menjalar ke beberapa pihak. Lalu, dilanjutkan Riko bercerita mengenai Jacob berada di toko. Dalam satu jam dia hanya mengucapkan kata-kata kasar, penghinaan dan pengancaman. Ditambah laporan palsu darinya telah diserahkan kepada pihak berwajib, dengan menggunakan saksi palsu dan korban palsu.


Dari semua kejadian itu, Arvin dapat menyimpulkan bahwa pria bernama Jacob ini memiliki obsesi pada Seraphina karena kecantikannya. Ia menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Aldi ikut berkomentar mengenai rumor bahwa Jacob memiliki 5 istri, yang mungkin berasal dari ancaman.


Arvin membenarkan hal tersebut, mengatakan bahwa dari banyak kasus yang menunggu penanganan, beberapa diantaranya berkaitan dengan rumor tersebut. Namun, tidak ada bukti yang cukup kuat untuk membukanya sebagai kasus. Meskipun begitu, Arvin menyatakan bahwa dia akan tetap memegang semua laporan tersebut sampai bukti yang memadai ditemukan.


Saat mereka sedang dalam pembahasan, waktu berjalan cepat. Hari sudah petang dan jam sudah hampir menunjukkan pukul 7. Aldi ingat janjinya sebelumnya untuk mengantar Seraphina pulang. Namun, Arvin juga tidak ingin membiarkan Seraphina berjalan sendirian di waktu gelap. Keduanya sama-sama menawarkan untuk mengantarnya pulang.


“Phina, ku antar pulang yuk.“ Kata Aldi


Lalu secara bersamaan Aldi turut berkata, “Phina, aku antar sekarang.“

__ADS_1


Aldi dan Arvin melihat satu sama lain dengan tatapan serius, hingga suasana sejenak terasa sunyi dan tegang.


__ADS_2