
“Baik, Nona Phina. Tapi bagaimana Anda akan mencari pekerjaan? Di sini tidak ada serikat petualang atau serikat pedagang,” tanya Safy.
“Tidak perlu sampai sejauh itu, sebelumnya kita berbelanja di minimarket, kan. Akan kucoba untuk mengajukan pekerjaan di sana, barangkali mereka akan menerimaku,” jawab Seraphina sambil meneguk cokelat panasnya. Safy juga menikmati teh herbalnya. Kemudian mereka melanjutkan mengobrol hingga waktu berjalan 45 menit, teh dan cokelat telah habis sehingga mereka pun memutuskan untuk pulang.
Jalanan pada saat itu cukup ramai, banyak orang berjalan di trotoar, dan kendaraan roda dua dan empat juga memadati jalan raya. Safy melihat peta GPS-nya, saran aplikasi menunjukkan jalan tercepat dan tidak ramai bagi pejalan kaki. Dengan berjalan kaki, mereka mengikuti arah GPS, namun tiba-tiba...
“Brukk…!”
Seraphina terjatuh, di depannya juga terjatuh seorang pria berpakaian rapi, dan map yang dibawa pria itu berserakan di trotoar. Seraphina segera memungut semua berkas milik pria itu, dan Safy juga ikut membantu mengambil kertas-kertas yang berterbangan terkena angin. Pria itu bangkit dan mengambil map di depannya, ketika dia menyentuh map, Seraphina juga mengambil map tersebut. Seketika, tangan mereka bersentuhan, dan wajah mereka saling memandang satu sama lain. Tatapan Seraphina mengarah pada wajah pria di depannya, rupa tampan yang belum pernah dilihat sebelumnya ketika di kerajaannya. Sedangkan pria tersebut juga terpaku melihat wajah Seraphina, wajahnya yang cantik bagaikan boneka membuat mata pria itu tak berkedip. Tangan mereka masih bersentuhan, kemudian Safy datang, “Nona Phina, apakah Anda baik-baik saja?”
Sontak, keduanya terkejut, Seraphina mengumpulkan berkas-berkas yang berserakan dan menyerahkannya pada pria itu.
“Maaf, Kak.. apakah kamu tidak apa-apa? Apakah ada yang sakit?” tanya pria itu.
__ADS_1
Seraphina berdiri, “Tidak.. tidak ada. Maafkan saya karena sudah ceroboh!” ucapnya sambil menundukkan kepalanya pada pria tersebut.
“Syukurlah, Anda tidak apa-apa. Oh iya, perkenalkan, nama saya Aldi,” kata pria itu.
“Saya Seraphina, dan gadis di sebelahku ini adalah Safy,”
Aldi tersenyum ramah kepada mereka, “Salam kenal, Kak. Dan maaf atas kesalahanku sebelumnya,” sambil melihat jam yang ada di tangannya. Kemudian, Aldi langsung berpamitan, “Duh.. waktuku sudah mepet, semoga kita dapat bertemu lagi. Sampai jumpa, Kak Seraphina! Kak Safy!” Setelah itu, Aldi berlari kencang meninggalkan mereka.
Seraphina menjawab, “Aku sungguh baik-baik saja, Safy. Ayo kita lanjutkan perjalanan pulang.”
Sesampainya di rumah, Safy segera menyiapkan teh dan camilan di dapur. Seraphina duduk di sofa sambil bergumam, “Wajah pria itu benar-benar tampan, lebih tampan daripada penduduk di kerajaan. Tadi jantungku berdebar kencang, apakah itu hanya perasaanku saja atau memang ada sesuatu? Ah, lupakan saja.” Setelah duduk sebentar, menggunakan sihirnya, Seraphina mengaktifkan teleportasi untuk memindahkannya ke tempat tidur. Dalam satu detik, Seraphina telah berpindah ke tempat tidur. Kemudian, tangannya menunjuk ke rak buku, dan salah satu buku komik bergerak keluar dari sela-sela rak. Buku itu terbang di udara, Seraphina segera menumpuk bantal serta guling untuk dibuat sandaran. Posisi berbaringnya sudah sempurna, kepalanya telah bersandar pada tumpukan bantal. Saat buku komik tersebut sudah sampai di dekatnya, bintang-bintang kecil bermunculan dalam cahaya. Para bintang itu bekerja sama mengangkat buku, sementara yang lainnya membuka setiap lembar halaman. Seraphina membaca komik dengan antusias, dan para bintang-bintang itu juga memijat kaki, menata ruangan, mempersiapkan buku lainnya, serta memberikan pelayanan sesuai perintahnya. Beberapa saat kemudian, Safy mengetuk pintu, “Tuan Putri, saya membawa camilan dan teh.”
“Masuklah!” Seraphina menjawab, dan para bintang membuka pintu. Safy melihat seluruh ruangan dipenuhi oleh sekumpulan cahaya bintang, dia berjalan perlahan meletakkan nampan berisi kue dan teh pada lemari kecil dekat tempat tidur. Setelah meletakkan makanan, Safy pamit untuk beristirahat di kamarnya. Kamar Safy berada di sebelah kamar Seraphina, memiliki fitur dan perabotan yang sama, hanya berbeda pada segi warna. Sesaat setelah Safy pergi, Seraphina sudah selesai membaca komiknya. Kemudian, para bintang membawa buku novel lalu membuka halaman pertama. Para bintang yang lain membawa camilan dan menuangkan teh ke dalam cangkir, setiap kue diberikan langsung ke mulut Seraphina tanpa harus menyentuh. Untuk teh, Seraphina tetap harus meminumnya sendiri. Keadaan sudah sangat sempurna untuk memanjakan rasa malasnya, karena kenyamanan maksimal itu Seraphina mulai mengantuk. Matanya perlahan tertutup, dia mencoba bertahan untuk tetap membaca novel, namun rasa kantuknya lebih kuat sehingga dia tertidur lelap.
__ADS_1
Semua orang di dalam rumah telah tertidur, para bintang menyebar ke seluruh rumah. Mereka semua mengerjakan tugas rumah yang sulit dikerjakan oleh Safy, seperti membersihkan sela-sela sempit, membersihkan atap, dan merapikan apapun. Semuanya itu dilakukan menggunakan sihir, setiap debu dihilangkan, kerak lantai pada kamar mandi pun juga dihilangkan. Ketika Safy telah terbangun, dia turun ke lantai satu untuk memeriksa hal yang perlu di dibersihkan, namun semuanya telah sempurna. Setiap ruangan dipenuhi oleh para bintang, Safy berkata pada mereka, “Terima kasih, bintang-bintang kecil, sudah membantu tugasku.”
Para bintang itu membentuk tulisan, “Sama-sama.”
Safy duduk di sofa dengan meluruskan kakinya, para bintang itu menghampirinya dan memberikan pelayanan pijat. Karena mereka terbuat dari sihir, pijatan pada tubuh membuat efek negatif hilang secara cepat. Safy merasakan tubuhnya sudah lebih baik dari sebelumnya,
“Bintang-bintang kecil, apakah kalian tidak menguras banyak energi sihir Tuan Putri? Sebab, kalian adalah makhluk magis pastinya menguras banyak energi sihir untuk dapat bergerak sebebas ini.”
Para bintang itu membentuk tulisan, “Memang benar kami membutuhkan sihir untuk dapat bergerak, namun kami telah menjalin kontrak dengan Tuan Putri sehingga penggunaan sihir hanya sekali untuk seumur hidup yaitu pada awal ikatan kontrak saja. “
“Menakjubkan, sihir Tuan Putri memang tidak ada duanya,” ujarnya. Para bintang itu terus berkumpul pada tubuh Safy, mereka memakan semua efek negatif pada tubuh, termasuk memakan penyakit. Sejak di istana, Safy telah memiliki penyakit asam lambung dan vertigo, ketika dia bekerja melebihi kapasitasnya, lambungnya akan merasakan sakit disertai pusing hingga pingsan. Para bintang menghisap seluruh inti penyakitnya hingga tak bersisa, dan kini Safy sudah tidak merasakan penyakitnya lagi. Bintang-bintang itu beranjak kembali ke kamar Seraphina, mereka semua meninggalkan lantai bawah secepat kilat. Merasakan dirinya sudah sangat sehat, Safy langsung memasak untuk makan malam.
Hari sudah larut, sinar matahari sudah digantikan dengan sinar bulan. Suara kendaraan masih terdengar namun tidak terlalu keras karena rumah tersebut sudah dilapisi dengan peredam suara. Safy sudah lancar menggunakan barang-barang dapur, meski hanya beberapa hari dirumah itu, tapi kemampuannya untuk memahami sangat tinggi sehingga sekali atau dua kali berlatih langsung mengerti.
__ADS_1