Putri Seraphina

Putri Seraphina
CHAPTER 38


__ADS_3

Seraphina tidak mengerti situasi yang terjadi saat dia pingsan, tapi tampaknya keadaan sudah membaik. Aldi masih tetap memeluk sambil berkata tentang kesalahannya, maka Seraphina pun memeluk Aldi dengan lembut,


"Anda tidak bersalah, semua yang terjadi di sini hanya sebuah musibah. Sebaliknya, saya sangat berterima kasih atas segala kerja keras yang telah Anda lakukan untuk saya," ucap Seraphina.


Aldi melepaskan pelukannya, dia memegang kedua pipi Seraphina seraya berkata, "Kamu sangat berharga bagi saya, bagi rekan kita, bagi semuanya. Jadi semua ini akan menjadi pelajaran untukku sebagai manajermu dan sebagai sahabatmu, aku berjanji!"


Senyuman bahagia muncul di wajah Seraphina mendengar kata-kata tersebut, meskipun hatinya terasa penuh sukacita, ia tetap merasa malu dan tak mampu mengungkapkan perasaannya lebih jauh. Setelah melihatnya tersenyum, Aldi melepaskan tangannya dan duduk sedikit menjauh. Semua itu dilakukannya secara spontan, dari perasaan menuntunnya menjadi perbuatan. Tentu saja, hal itu membuat Aldi malu melihat kelakuannya sendiri, sama halnya dengan Seraphina yang juga malu mengungkapkan perasaanya.


Namun, dari kejauhan, Jacob berhasil berdiri meskipun tangan dan kakinya sudah hampir tidak berfungsi. Tangan kirinya adalah satu-satunya bagian tubuhnya yang masih bisa digerakkan dengan normal. Ia masih belum menyerah meskipun terluka parah dalam pertarungan dengan Safy. Pistol rakitan yang sebelumnya tidak digunakan diambilnya kembali.


Safy segera melemparkan jarum ke lengan kiri Jacob, dan kemudian...


"Dor!"


Pelatuk terlanjur ditekan, dan peluru logam meluncur ke arah Seraphina. Aldi dengan cepat menahan peluru tersebut menggunakan telapak tangannya, yang pada akhirnya terluka. Sementara itu, Jacob terjatuh akibat serangan Safy.


Seraphina sangat terkejut melihat Aldi terluka parah, dan matanya terfokus pada tangan yang terluka. Ariel, yang berada di sampingnya, segera memberikan perawatan pertama pada tangan Aldi dengan menggunting sebagian kainnya untuk membuat perban. Seraphina dengan cemas mencari obat di tas salah satu pengawal Jacob.


Dengan hati-hati, Seraphina menuangkan obat cair ke perban, memastikan bahwa cairan tersebut meresap masuk ke dalam luka. Meskipun Aldi masih merasa sakit yang luar biasa pada telapak tangannya, perawatan pertama ini dapat membantu mengurangi rasa sakitnya.

__ADS_1


Namun, masalah belum selesai. Jacob masih memiliki tekad untuk membalas dendam. Meskipun tangan kirinya sudah mati rasa, dia masih berusaha keras untuk mendapatkan senjatanya, pistol rakitan yang tergeletak di sebelahnya. Setelah berhasil meraihnya, dia segera mengarahkannya ke arah Seraphina.


Aldi tidak sengaja melihat ke samping, melihat senjata sudah tertuju ke Seraphina dia berteriak, “Awas!“


“Dor!“


Seraphina secara spontan mengeluarkan sihir perlindungan untuk melindungi dirinya dan semua orang di dalam mobil. Dengan tangan terulur, dia menciptakan lapisan bening dengan sinar terang mengelilingi sisi mobil. Peluru yang ditembakkan dengan kecepatan tinggi tidak mampu menembus lapisan sihir perlindungan ini, sehingga peluru itu hancur lebur menjadi debu. Aldi melihat proses kemunculan sihir tersebut, dia tidak habis pikir akan melihat hal yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Dan Ariel juga tidak menyangka bahwa Seraphina akan menggunakan sihirnya secara terang-terangan di depan Aldi.


Safy pun juga terkejut melihat kejadian barusan, dimana Seraphina mengeluarkan sihirnya di depan orang lain. Safy memiliki keinginan kuat untuk segera ikut campur tangan, tetapi dilema antara berdiam diri dan menyerang membuatnya merasa bingung. Jika memilih untuk tetap berdiam diri akan membuatnya merasa bersalah karena akan terlihat jelas dia telah melalaikan tugasnya secara sengaja. Namun, jika ia menyerang sekarang, Aldi pasti akan mengetahui lebih banyak tentang rahasianya. Kedua pilihan tersebut memiliki risiko besar, tetapi karena perjanjian sebelumnya menyebutkan bahwa "Safy akan menjadi umpan jika keadaan menjadi berbahaya," maka dia bertekad untuk menanggung semuanya.


Sebelum memulai tindakan, Safy melepaskan penutup wajahnya dan menggantinya dengan sebuah topeng untuk menyembunyikan identitasnya. Kemudian, ia mengambil tombak guntur yang tersimpan di belakang punggungnya. Sekarang, persiapannya sudah selesai, dan saatnya untuk eksekusi.


Ariel merasakan hawa membunuh yang kuat di sekitar mereka dan menyadari bahwa itu berasal dari Safy. Dengan cepat, Ariel menggunakan sihirnya pada Aldi untuk membuatnya tertidur, meskipun Seraphina hampir saja menghentikan sihir tersebut. Namun, saat dia juga merasakan hawa membunuh yang kuat dari Safy, dia membiarkan Aldi tertidur.


Tidak disangka, serangan itu mengakibatkan tanah sekitarnya hancur seperti terkena bom. Tapi keberuntungan masih berada di pihak Jacob yang hanya terpental cukup jauh dari pusat kehancuran tanah.


Safy melihat Jacob berusaha menggulingkan badanya untuk pergi jauh, kemudian melemparkan tombaknya, dan sekali lagi menyebabkan ledakan lainnya.  Jacob terpental lagi, dan saat itu tenaganya sudah hampir habis.


"Keberuntunganmu banyak juga, tapi apakah kali ini keberuntungan itu berpihak padamu atau akan meninggalkanmu," kata Safy sembari mengambil tombaknya lagi.

__ADS_1


Sebelum Safy dapat melanjutkan serangannya, Seraphina mendekapnya dari belakang. "Safy! Sudah, jangan dilanjutkan lagi. Aku baik-baik saja."


"Demi keselamatan Tuan Putri, pria itu harus dimusnahkan. Jadi, mohon, lepaskan saya, sehingga masalah ini segera selesai,"


Ketika hendak pergi, Seraphina menghalanginya dari depan, “Kamu salah, semua ini tidak akan menyelesaikan apapun. Tolonglah berhenti, Safy!“


“Anda tetaplah disini. Saya tidak akan lama, hanya beberapa menit saja, semuanya selesai.“ jawab Safy sambil terus berjalan


Namun, karena Safy tetap tidak mengindahkan permintaan Seraphina, dia menggunakan sihirnya untuk menarik Safy kembali. Kemudian mengunci tubuh Safy dengan sihir pengekang, sehingga kekuatan obat sihir para bintang berhenti bekerja.


"Safy! Dengarkan aku!" Seraphina berteriak.


"Tentu saja, Tuan Putri. Perintah Anda adalah hukum bagi saya," jawab Safy dengan tatapan tajam.


Seraphina membelai kepala Safy dengan lembut, tetapi dia juga penuh kebingungan dan kesedihan melihat pelayannya yang telah berubah menjadi pembunuh berdarah dingin. Kemudian Ariel datang menghampiri, “Seraphina, dia melakukannya demi kamu, seharusnya kamu…“


"Diam!" Seraphina memotongnya dengan tegas. "Meskipun demi diriku, tidak boleh seperti ini. Safy yang sekarang bukanlah Safy yang ku kenal. Apa yang harus kulakukan sekarang? Senang? Bangga? Tidak!"


Ariel terdiam tidak dapat membalas kata apapun, para bintang juga hendak mendekat, “Tuan Putri? Kami bisa jelaskan.“

__ADS_1


“Kalian juga diam!“ untuk kedua kalinya Seraphina membentak. Lalu ia melanjutkan, “Apakah ini sistem keamanan terbaru kerajaan yang digadang-gadang dapat melawan musuh terkuat?“


Seraphina melirik tajam ke arah Ariel dan para bintang, "Jawab pertanyaanku. Apa yang terjadi pada Safy ketika dia diterima bekerja di istana?"


__ADS_2