
“Bukan apa-apa sih, cara minum seperti tadi hanya untuk kepuasan tersendiri. Sensasi rasa kopi masuk ke tenggorokan membuat kenikmatan unik, dan untuk mengutarakan rasanya reflek itu muncul“
jelas Arvin panjang lebar, meskipun Seraphina masih kesulitan memahaminya. Oleh karena itu, Arvin menjelaskan dengan lebih rinci, dan penjelasan itu berlangsung selama 30 menit, di mana banyak kata-kata keluar dari mulut Arvin.
“Begitulah kira-kira alasan mengapa kebiasaan itu terjadi, intinya hanya reflek pribadi saja.“
Seraphina membalas “Saya sudah mengerti, Arvin. Maaf merepotkan, dari tadi tanya melulu.”
“Tidak, kok“ kata Arvin sambil tertawa ringan. Dia mengulurkan tangannya untuk mengambil cangkir kopi, namun pulpen yang ada di meja tersenggol oleh sikunya dan jatuh ke lantai. Arvin dengan cepat mengambil pulpen itu, dan Seraphina juga ikut membantunya. Saat tangan mereka bersentuhan secara tidak sengaja, Arvin memandang wajah Seraphina dengan perasaan yang aneh. Baru kali ini dia menyadari seberapa luar biasa kecantikan Seraphina, hingga membuat keringatnya menetes. Mata indahnya dan tatapan matanya membuatnya merasa gemetar. Jantungnya berdetak kencang, dan pikirannya mulai kacau.
Seraphina juga terperangah, tak menyangka situasi akan seperti ini. Saat menatap wajah Arvin, dia secara refleks membandingkannya dengan wajah Aldi. Dalam hatinya, keduanya sama-sama tampan. Tidak ada lelaki lain di kerajaan Seraphinova yang setampan mereka, dan para bangsawan di sana mungkin kaya dan memiliki status tinggi, tetapi tak ada yang sesuai dengan standar Seraphina. Namun, Seraphina sadar bahwa harapannya terlalu tinggi dan hanya bagaikan tokoh dalam kisah novel.
Mereka berdua masih tetap memandang satu sama lain, hingga berlalu beberapa menit. Pemilik warteg melihat keduanya sedang berada di bawah meja, karena penasaran pemilik warteg itu mencoba untuk mendekat.
“Vin, sedang apa dibawah meja?“
Arvin segera bangkit sambil mengambil pulpen yang jatuh, “Sepatuku sudah mulai rusak kayaknya. Temanku bantu beri lem jadinya harus berada dibawah meja.”
Arvin melihat si pemilik warteg itu, raut wajahnya menunjukkan keraguan akan alasan yang dia ucapkan. “Aduh! kurang kuat kah alasanku tadi? “ guman Arvin dalam pikirannya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat mengamati, si pemilik warteg itu percaya, “Owalah, Vin. Ya, cepat beli lagi dong. Kasian temenmu itu yang kasih lem, mana dia cewek lagi.“ Kemudian kembali ke dapur.
Seraphina hanya terdiam, lagi-lagi dia melakukan hal yang sama seperti pertemuannya dengan Aldi. Meskipun begitu, perasaannya tidak pernah salah menilai seseorang. Mereka baik Aldi dan Arvin memiliki hati yang baik, dan dapat dipercaya.
Di dalam warteg itu, banyak orang mengira bahwa mereka sedang pacaran, ada pula yang menganggap mereka sudah menikah. Arvin sudah merasa kurang nyaman, maka dia langsung mengemasi barang-barangnya. Makanan keduanya juga telah ia bayar, dengan bergegas Seraphina diajak pergi dari situ. Mereka berjalan melalui gang menuju ke arah jalan raya,
Seraphina bertanya, “Arvin, kenapa kamu terburu-buru?“
“Orang-orang disana akan menyebalkan. Mereka akan berbicara aneh kepadamu, jadi sebelum itu terjadi kita harus pergi duluan.” Arvin berusaha menjelaskan.
Kemudian, Seraphina menawarkan uang kepada Arvin untuk mengganti biaya makan tadi, namun Arvin menolak. Baginya, ia bertanggung jawab atas ketidaknyamanan mereka di warteg, dan oleh karena itu, semua biaya harus ditanggungnya sendiri. Meskipun Seraphina merasa tidak nyaman karena telah membayar semua makanannya, Arvin tetap menerima uang itu.
Tak lama kemudian, Arvin berpamitan untuk kembali ke kantornya yang terletak dekat dengan taman.
“Kak Seraphina, ayo masuk. Saya akan mengantar anda ke rumah dengan cepat, sebelum hujan turun kembali.” kata Arvin dari dalam mobil.
Seraphina naik ke dalam mobil, dan duduk di kursi yang sangat nyaman. Saat pintu mobil tertutup, suasana di dalamnya berubah menjadi sejuk. Aroma harum lavender menambah kenyamanan. Arvin pun memulai perjalanannya, sambil terus berbicara, "Apakah kak Seraphina sekarang bekerja di minimarket Almart?"
“Ehmm Arvin, bisakah kamu memanggilku dengan nama biasa saja? Mungkin aku terlihat lebih muda darimu, jadi dipanggil 'Kak' terasa agak tidak nyaman. Panggil saja aku dengan nama Phina,"
__ADS_1
Arvin menjawab, “Oh, maaf Phina. Maksudku memanggilmu ‘kak’ itu karena kita juga baru kenal, belum terlalu akrab juga. Karena itulah memanggil ‘kak’ akan lebih sopan, tapi justru malah kebalikannya. Maaf, ya Phina.“
Seraphina hanya tersenyum, dan meskipun hanya senyum, itu sudah cukup bagi Arvin. Jantungnya berdegup lebih cepat, karena perasaannya semakin tak terbendung. Arvin pun akhirnya memberanikan diri bertanya,
“Phina? “
“Iya, ada apa Arvin?“
Arvin merasa semakin gugup, dan perlahan mengatur nafasnya.
“Jika kita bertemu lagi, maukah kamu makan denganku? Yah, kalau tidak mau juga tak masalah. Bukan kewajiban kok. Sekalian aku mau membahas tentang Refa“
Seraphina bertanya pada para bintang yang mengawalnya, mereka memperbolehkan untuk menerima permintaan itu.
“Boleh, lain kali jika bertemu lagi.“
Arvin langsung menjadi senang, “Terima kasih, Phina.“ Raut mukanya berusaha untuk tetap tenang, tapi saat memalingkan wajahnya, kejujuran tampak sangat jelas. Disitu, Arvin sengaja mencari jalan memutar untuk mengobrol lebih lama, sampai akhirnya tiba di tempat tujuan. Mobilnya berhenti di pinggir jalan, kemudian Seraphina turun. Sebelum pergi, Arvin memberikan nomor kontaknya, setelah berhasil dia pun pergi.
Safy sudah menunggu Seraphina di depan pintu rumah. Setelah masuk, Safy langsung menanyakan tentang peristiwa sore tadi. Safy bertanya mengapa Seraphina pulang lebih lambat dari biasanya, dari pukul 4 sore menjadi setengah tujuh. Dalam sekejap, banyak pertanyaan muncul, dan Seraphina menjelaskan semua dengan rinci. Dia menceritakan tentang pertemuan dengan Arvin, cara untuk menyembunyikan sihirnya, makan di warteg, dan diantar pulang dengan mobil. Semuanya dijelaskan sesuai urutan kejadian, dan para bintang juga turut membantu memberikan penjelasan dengan cahaya yang dituliskan.
__ADS_1
Safy mengangguk mengerti setelah mendengar penjelasan Seraphina, dan Safy juga menjelaskan alasan dia bertanya dengan keras. Semua tindakan itu dilakukan untuk melindungi Seraphina dari bahaya yang mungkin mengancamnya. Sebagai pelayan istana, tugasnya tidak hanya sebatas tugas pelayan biasa, tapi juga melibatkan pencarian informasi dan perlindungan. Di sela-sela pembicaraan serius, tiba-tiba suasana kembali seperti malam sebelumnya. Kekuatan yang bergerak di dimensi lain telah memasuki dunia mereka.
Menggunakan sihirnya, mata Seraphina dilapisi oleh aura naga. Sehingga dia dapat melihat keseluruhan sihir di langit, tidak disangka lingkaran sihir teleportasi telah muncul di langit dimensi mereka berada. Lingkaran itu telah terbentuk hampir sempurna, kobaran api menampakan wujud pembakaran maksimal. Suara magis terdengar seperti rintihan, namun sebenarnya itu adalah suara pergeseran api dengan sihir.