
Perjalanan menuju tempat kerja selalu berlangsung selama 20 menit, menjadi rutinitas yang tak terhindarkan bagi Seraphina. Dia melewati trotoar dengan langkah santai, menyapa tetangga yang berjalan di sekitar dan berbincang sebentar dengan Bu Indah. Akhirnya, ia tiba di dekat minimarket, mengira tempat itu masih sepi, tapi kenyataannya sebuah mobil hitam telah terparkir di depan. Pintu toko sudah terbuka, Seraphina mencoba melihat ke dalam. Namun, suasana masih sama, Dina dan Riko pun belum tiba. Ketika sedang memeriksa kasir, tiba-tiba Aldi muncul dari ruang pegawai.
“Phina? Kamu sudah datang,” sapa Aldi dengan senyuman.
Seraphina menoleh ke arahnya, “Pak manager, selamat pagi.”
Di depan ruang pegawai, mereka saling diam sejenak. Aldi tampak terpana pada penampilan Seraphina. Matanya tidak berkedip beberapa saat, dan tanpa sadar bibirnya melengkung membentuk senyuman.
“Ada apa, Pak manager? Apakah penampilan saya hari ini terlihat aneh atau ada yang kurang sesuai?” Seraphina bertanya setelah melihat reaksinya.
Aldi tersadar dari tatapannya, “Oh, tidak ada apa-apa. Aku hanya terkesan dengan penampilanmu sekarang. Berbeda dari saat bekerja. Pakaianmu sangat cocok, dan rambut kepang membuat wajahmu lebih terlihat.”
Namun, tanpa disadari, Aldi mengucapkan kata-kata yang sejalan dengan isi hatinya. Ia tidak berani menatap Seraphina lebih lama karena malu. Tapi bagi Seraphina, pujian dari Aldi membuatnya merasa bahagia.
Lalu jam tangan Aldi berbunyi, menandakan pukul 7 tepat. Dia berangkat menuju kantor pusat, dan Seraphina ikut naik mobil yang ada di depan toko. Mobil itu mewah dan dilengkapi dengan berbagai fitur canggih. Begitu Seraphina duduk di kursi, AC otomatis menyala. Ketika Aldi masuk sebagai pengemudi, sistem identifikasi otomatis berfungsi. Scanner memeriksa pemilik mobil dalam hitungan detik, dan semua fitur terbuka.
Aldi menyalakan mesin mobil, menarik tuas rem tangan, dan memasukkan persneling. Mobil bergerak dengan mulus, dan Seraphina merasakan kenyamanan yang tak terduga dari dalam mobil itu. Ternyata, mobil milik Aldi lebih fokus pada fitur dan kenyamanan, berbeda dari mobil Arvin yang lebih menonjolkan penampilan dan performa. Namun, kedua mobil itu tetap sama-sama mewah dan elegan.
__ADS_1
Seraphina melirik Aldi, yang sedang konsentrasi mengemudi. Lama-lama, perhatiannya teralihkan oleh penampilan Aldi.
“Dia memang tampan, Pak Manager ini. Aku jadi ingin tahu apakah dia masih lajang atau sudah menikah. Tapi agak aneh kalau dia masih lajang, dia terlalu tampan dan kaya untuk tetap sendiri,” pikir Seraphina dalam hatinya.
Kemudian, ia mulai membandingkan Aldi dengan Arvin, mengingat saat mereka makan bersama di warteg. Seraphina memejamkan matanya, di dalam pikirannya dia menciptakan gambaran visual dari ingatannya menggunakan sihir. Gambar itu menunjukkan dua pria, Aldi dan Arvin, ditempatkan bersebelahan untuk memudahkan perbandingan. Dia memperhatikan dengan cermat setiap detail wajah mereka. Dan akhirnya, Seraphina menyimpulkan bahwa keduanya sama-sama tampan. Aldi memiliki wajah yang tampak seperti artis, postur tinggi, dan selalu menarik perhatian. Arvin, di sisi lain, memiliki penampilan kasar, tetapi ia memiliki sisi lembut yang tak terduga. Kedua pria ini memiliki postur tinggi, dan yang lebih penting, keduanya memiliki sifat yang baik.
Kembali ke kenyataan, perjalanan terus berlanjut. Aldi tetap fokus pada mengemudi, dan Seraphina masih membiarkan pikirannya melayang dalam perbandingan antara Aldi dan Arvin.
Hampir seperempat jam berlalu saat Seraphina terpejamkan matanya. Tentu saja, hal ini membuat Aldi merasa khawatir dan akhirnya bertanya, "Ehm, Phina, apakah semuanya baik-baik saja? Aku melihat kamu sedang tertidur, apakah kamu kurang tidur atau ada sesuatu yang mengganggu?"
Seraphina segera membuka matanya, "Tidak, tidak ada masalah. Aku hanya merasa sangat nyaman duduk di kursi ini. Nyaman sekali sampai-sampai membuatku merasa mengantuk." Seraphina segera mencari alasan untuk menjelaskan mengapa matanya terpejam begitu lama. Tidak disangka, waktu berlalu dengan cepat saat sedang bermain dalam dunianya sendiri.
"Kenapa kita berhenti?"
"Apakah kamu melihat palang pintu di depan kita? Ya, itu menunjukkan bahwa kereta api akan segera lewat. Tidak mungkin kamu belum pernah melihat kereta api sebelumnya, bukan?"
Sekarang Seraphina kembali merasa bingung untuk mencari alasan, selama hidupnya belum pernah sekalipun dia melihat kereta api. Dengan cepat ia berpikir keras mencari cara agar tidak dicurigai, langsung saja para bintang memberikan arahan melalui bahasa magis. Karena keadaannya panik, Seraphina langsung menggunakan arahan itu.
__ADS_1
"Sebenarnya, aku memang belum pernah melihat kereta api secara langsung. Hanya melalui buku-buku dan media saja. Tempat asalku juga bukan dari daerah sini. Jarak rel kereta api dari tempatku sekitar 20 kilometer, dan keluargaku bukanlah keluarga mampu,"
Aldi dengan lembut menepuk bahu Seraphina, "Aku mengerti. Kalau kamu ingin tahu lebih banyak, jangan ragu untuk bertanya padaku."
"Terima kasih, Pak manager," jawab Seraphina dengan senyuman. Namun, di dalam hatinya, dia merenungkan, "Maafkan aku, Aldi, karena aku harus berbohong. Aku tak punya pilihan, ini demi kelangsungan hidupku."
Para bintang turut memberikan komentar, "Kami tidak pernah menyebutkan soal keluarga yang tidak mampu, tapi Tuan Putri malah menambahkannya sendiri. Oh tidak."
“Ssstt, kalian diam saja! Keadaan sekarang begitu mendesak, ditambah Aldi tidak sesederhana itu.“
Tidak lama kemudian, suara klakson kereta api terdengar dengan keras dari sisi kanan. Bentuk kereta api mulai terlihat dari kejauhan dan semakin mendekat. Lokomotif melaju perlahan melewati rel, diikuti oleh gerbong-gerbong penumpang. Terlihat juga para penumpang di dalam gerbong terlihat duduk santai. Setelah gerbong terakhir melewati, palang pintu kereta api pun terbuka, dan perjalanan mereka pun kembali berlanjut.
Seraphina takjub akan teknologi canggih dari dunia tempatnya tinggal, berbeda dari dunia lamanya yang masih menggunakan kereta kuda untuk dapat menuju ke tempat jauh.
Dalam perjalanan, Seraphina melihat berbagai jenis truk. Namun, ia tertarik pada satu truk khusus, yaitu truk molen. Saat berhenti di lampu merah, mobil Aldi berada di sebelah kanan truk molen. Ini semakin memancing rasa penasarannya. Baginya, truk ini memiliki keunikan karena membawa tabung besar yang berputar di belakangnya. Di bagian belakangnya, ada alat lain yang terlihat aneh baginya.
Aldi melirik Seraphina yang tampak asyik melihat truk molen, "Itu adalah truk molen. Aku selalu melihatnya ketika aku masih kecil. Bentuknya memang sangat menarik, dan tabung di belakangnya bisa berputar."
__ADS_1
"Menurutku truk ini unik, terutama dengan tabung besar di belakangnya bisa berputar seperti itu. Tapi, apa fungsi sebenarnya dari tabung tersebut?"
“Fungsi tabung besar dibelakang itu untuk mengangkut campuran beton dan agar tidak cepat kering, dan itulah kenapa tabung besar itu terus berputar berlawanan arah jarum jam.“