
Safy mengantarkan mereka sampai ke halaman dan mengarahkan mobil ke jalan raya. Mereka berdua berangkat dengan cepat, dan Safy kembali ke dalam rumah. Setelah suasana kembali seperti biasa, Seraphina kembali ke kamarnya. Sementara Safy membersihkan peralatan makan, Ariel memberi bisikan padanya.
“Safy, apakah kamu menyadari bahwa sikap Seraphina berbeda malam ini? Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikannya, mungkin ada masalah yang dia hadapi.”
Safy menghentikan pekerjaannya. “Anda benar, Putri Ariel. Setiap kali ada masalah, Tuan Putri tidak banyak bicara, tapi saya tidak berani bertanya lebih lanjut. Takutnya malah membuatnya semakin marah, atau bahkan membuatnya kehilangan kendali.”
Gelas berisi air yang dipegang oleh Ariel tiba-tiba mulai mendidih, dan gelas itu perlahan meleleh seperti es yang mencair. “Siapapun yang berani mengganggu sahabatku, dia harus siap menerima konsekuensi berat dari penguasa api,” kata Ariel, lalu dia menghilangkan sisa lelehan gelas dari tangan dengan sihirnya. “Aku akan menemui Seraphina!”
Sebelum pergi, Safy memegang tangan Ariel. “Putri Ariel, tolong jangan berlebihan dalam menghadapi Tuan Putri.”
“Tenang saja, aku hanya ingin bertanya,”
Kemudian Ariel pergi ke lantai atas dan mengetuk pintu kamar Seraphina. Namun, tidak ada jawaban. Dia mencoba lagi, tetapi masih tidak ada respons. Maka, Ariel menggunakan sihir ruang untuk menembus pintu dengan mudah. Ketika dia masuk ke dalam kamar, dia melihat bahwa lampu tidak dinyalakan, dan ruangan itu gelap.
Ariel menyalakan lampu, dan dia melihat Seraphina tidur sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Ariel mencoba menarik bantal itu, tetapi tangan Seraphina mencengkram erat bantal tersebut.
“Seraphina, aku ingin bicara. Bisakah kamu melepaskan bantal itu? Aku tahu kamu belum tidur. Jangan berbohong padaku!” Ariel terus mencoba menarik bantal itu.
Seraphina semakin erat mencengkram bantal di wajahnya, “ Tidak mau, tinggalkan aku sendiri. “
“Bodoh, apa yang sedang kamu pikirkan sampai-sampai kamu tidak mau bicara denganku. Cepat lepaskan!”
“Tidak mau, pergilah sana!“
__ADS_1
Emosi Ariel semakin memuncak, “Oh, begitu. Jadi memang benar ada sesuatu sehingga membuatmu manja begini, baiklah kalau itu maumu.“
Ariel mengarahkan jari telunjuknya ke arah bantal, dan dengan sedikit sihir api, bantal itu lenyap seketika. Seraphina terkejut dan langsung mengambil guling yang ada di sampingnya.
“Buukk!“
Suara keras guling dipukul ke arah Ariel, namun hal itu malah membuatnya tertawa, “Putri Seraphina sedang marah besar, oh tidak aku akan tumbang.“
Karena Seraphina sudah muak, dia meletakkan guling itu kembali di sampingnya. "Kamu sangat sangat menyebalkan hari ini, putri api yang menyebalkan. Katakan saja apa yang ingin kamu katakan sekarang."
Ariel duduk di sampingnya, dan tangannya menggenggam tangan Seraphina. Lalu dengan nada pelan, dia berkata, “Kamu tahu, kita telah bersama sejak aliansi kerajaan terbentuk, antara Seraphinova dan kerajaan api. Waktu itu, kita masih anak-anak yang hanya ingin bermain, tapi entah kenapa, saat pertama kali bertemu, kita sudah begitu akrab. Dan kita terus bersama saat di akademi sihir, dari tahun pertama hingga tahun keenam. Setelah lulus pada usia 16 tahun, kita tetap bersama, selalu seperti itu. Ingat? Kita bahkan pernah meminjam peralatan ayahku untuk mengejar eksperimen anehmu, meskipun akhirnya kita dimarahi oleh kedua orang tua kita. Dan ketika kita berusia 18 tahun, kita masih bersama hingga hari ini."
Kemudian Ariel mengambil kursi, lalu duduk di depan Seraphina sambil melanjutkan pembicaraan, "Karena kita telah melewati begitu banyak bersama, aku tahu dirimu lebih dalam daripada siapapun. Hari ini, aku melihat sikapmu yang berubah, dan aku sangat khawatir dengan keadaanmu sekarang. Tolong, ceritakan apa yang terjadi."
Waktu terus berjalan, dan pukul 10 malam sudah tiba. Seraphina telah menceritakan semua yang terjadi. Dia juga menambahkan bahwa dia tidak bisa melawan kata-kata pria itu karena peraturan hukum di negara itu yang berbeda, dan semua teman baiknya terkena imbasnya. Hal itulah yang menyebabkan dia tidak bisa bertindak sembarangan. Sebenarnya, Seraphina memiliki kekuatan untuk melawan, tapi itu bisa menimbulkan masalah lebih besar bagi orang lain.
Maka, Ariel memberikan komentarnya, "Aku memahami situasimu sekarang, tapi sebelumnya, kamu harus tahu bahwa masalah ini belum pernah terjadi di Seraphinova. Itulah mengapa kamu tidak bisa langsung melawan kata-katanya. Namun, mengapa harus menyimpan masalah ini sendirian? Di sini, kamu tidak sendirian. Ada Safy, ada aku, kita semua adalah keluarga."
Ariel memeluk Seraphina, dan tangannya lembut mengelus kepala sahabatnya. "Aku berjanji, sebelum masalah semakin rumit, aku akan membantumu dengan semua kekuatanku."
Seraphina mengusap air matanya, "Jangan memaksakan dirimu, Ariel."
"Tidak!" katanya secara tegas. Lalu Ariel melepaskan pelukannya, "Yang seharusnya tidak memaksakan diri adalah kamu, Seraphina. Kamu pasti tahu sendiri, kan? Puluhan juta orang telah kulepaskan nyawanya. Aku juga seorang algojo di dalam aliansi kita, tidak peduli berapapun umur mereka selama hukuman dijatuhkan pasti akan ku lenyapkan. Tetapi kamu berbeda. Satu kali saja tidak pernah menyentuh nyawa manusia, tanganmu tidak boleh kotor hanya karena pria brengsek itu. Serahkan masalah ini padaku, satu helai rambutpun tidak akan kulepaskan."
__ADS_1
Seraphina mengusap air matanya, “Kamu curang, Ariel. Kata-kata itu seharusnya diucapkan oleh seorang pria idaman, bukan dari sahabatku sendiri yang sejatinya adalah wanita. Mana mungkin aku menikahimu, Ah bikin galau saja.“
Ariel tidak dapat menahan lagi, dia tertawa keras di tengah percakapan itu. Lalu, dia menggunakan sihirnya untuk mengeluarkan sebuah ramuan berwarna ungu. Dengan percaya diri, dia berkata, "Jangan galau, jangan risau. Hanya perlu minum sedikit ramuan ini, dan perubahan akan terjadi. Mau melihat aku menjadi pria idamanmu?"
Tiba-tiba, para bintang muncul dan langsung meminum ramuan tersebut sampai habis.
“Daripada anda yang minum, lebih baik kami yang mencicipinya. Rasanya enak, dan kandungan sihirnya sangat kuat,” kata para bintang secara bersamaan.
“Hei, itu milikku!“
Pipi Ariel dicubit oleh Seraphina dengan pelan, "Sebelum berbuat, pertimbangkan dengan baik. Akan terlihat sangat aneh jika tiba-tiba berubah menjadi seorang pria."
"Seraphina sendiri yang menginginkan seorang pria idaman, bukan? Dan aku adalah seorang wanita. Jadi, mengapa tidak mengubahnya saja?" Ariel menjawab dengan santai.
Kemudian Seraphina mengangkat tangan kanannya ke atas,
“Tuk!“
"Aduh! Iya, iya, maaf. Tadi itu hanya bercanda,"
“bohong!“
Sesaat akan diulangi lagi, Ariel dengan cepat menahan tangan Seraphina. "Kubilang hentikan! Kenapa kamu tidak percaya padaku? Tidak mungkin kulakukan tanpa perhitungan. Sebenarnya, ramuan itu tidak akan membuatku berubah secara permanen, hanya sesaat saja. Kebiasaan burukmu adalah tidak mau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu." Ariel kemudian mengusap kepalanya sendiri.
__ADS_1
"Salahmu sendiri sudah membuat salah paham," sahut Seraphina. Lalu, dia memeluk Ariel, "Tapi terima kasih atas dukunganmu, Ariel."