
Aldi tidak terlalu memperdulikan mereka yang dengan serius memandanginya; bahkan semua mata pengunjung di toko itu tertuju padanya. Tentu saja, situasi seperti itu membuat Aldi merasa canggung, dan ia berusaha mempercepat langkahnya untuk mengikuti pegawai wanita yang telah mendahuluinya.
Setelah pegawai wanita berhenti, suasana toko berubah dari sebelumnya. Di sini, terdapat banyak produk pakaian yang tidak umum di pasaran, namun dijual secara khusus terutama bagi pelanggan istimewa. Dengan mengambil meteran pita berwarna biru, wanita tersebut mengukur tubuh Seraphina dengan teliti. Mulai dari bahu hingga pinggang diukur dengan rinci, dan setelah mendapatkan hasilnya, ia mencatatnya di selembar kertas, lalu mengulang proses pengukuran.
“Kak, tadi saya sudah mendapatkan hasil dari pengukuran sementara. Sekarang, akan saya buat ukuran dari pakaian formal yang sudah disarankan oleh Pak Aldi,” kata wanita itu.
Seraphina mendengarkan, lalu menjawab. “Aku mengikuti rekomendasi saja, dan kalau boleh tahu, namanya siapa ya?“
Wanita tersebut menghentikan pengukuran sejenak, “Oh iya, maafkan saya. Nama saya Intan Widya. Salam kenal, Kak.”
Lalu Intan mengambil tablet sebagai media sketsa baju, “Kalau kakak sendiri, namanya siapa? Yang saya tahu, Pak Aldi sering membicarakan nama ‘Seraphina’. Apakah itu nama kakak?”
“Benar, namaku Seraphina. Sekarang masih status pegawai di bawah pengawasan Pak manajer Aldi.“
Intan menjawabnya sambil melanjutkan mengukur, “Bagus dong kalau seperti itu. Pak Aldi itu orangnya juga baik, saya sering ditraktir olehnya makan nasi padang, atau martabak manis. Pokoknya idaman para cewek lah, ganteng banget soalnya.“
Kemudian Intan mengambil laptop yang ada di lemari kaca, juga mengambil drawing pad. Setelah kembali, Intan memasukkan nomor ukuran ke dalam tabletnya. Dia melanjutkan dengan membuat sketsa kasar di laptop, menggunakan drawing pad untuk membuat sketsa secara cepat. Dalam kurang dari 10 menit, gambaran awal dari pakaian sudah jadi.
__ADS_1
Disitu Seraphina hanya bisa melihat Intan mengerjakan tugasnya, dia kagum dengan kemampuannya membuat ilustrasi begitu cepat. Hingga kurang dari 20 menit, gambaran lengkap dari pakaian sudah jadi.
“Mengagumkan, memang secepat ini membuatnya?” ujar Seraphina kagum.
Intan menunjukkan hasilnya, “Terima kasih, Kak Seraphina. Sebagai pegawai, kita harus cepat melayani pelanggan istimewa seperti ini, itulah mengapa wanita sebelumnya memberikan tepuk tangan sebagai bentuk penghormatan. Model pakaian yang saya rekomendasikan adalah blazer, mengapa begitu?”
Intan mengambil tabletnya, menunjukkan detail ukuran tubuh Seraphina, “Karena kulit Kak Seraphina sensitif dengan bahan kaku, bahkan sedikit gesekan dengan kain kasar bisa menyebabkan kemerahan. Ini pengalaman saya melihat banyak pelanggan. Kak Seraphina selalu menggunakan pakaian yang nyaman, lembut, dan tidak kaku. Maka saya memilih model blazer, karena bahannya lembut, tidak kaku, dan cocok digunakan dalam acara semi formal maupun formal.”
“Kamu benar-benar memahami semuanya. Ucapanmu benar adanya. Pakaian yang aku kenakan harus menggunakan bahan yang lembut karena kulitku sensitif terhadap kain kasar. Sekarang, apa yang harus aku lakukan selanjutnya?” sahut Seraphina.
Intan memberi isyarat untuk menunggu, dan tidak lama kemudian sebuah robot membawa kotak hitam ke dalam ruangan. Kemudian robot itu memberikan kotak tersebut kepada Intan, setelah itu pergi keluar.
Lalu Intan mencoba memakaikannya pada Seraphina, dan hasilnya benar-benar pas. Bentuk tubuh yang langsing, lengan panjang sesuai ukuran, dan tentunya bahan kainnya sangat lembut. Seraphina langsung menyukai pakaian barunya itu, meski tidak sebaik pakaiannya di istana, namun kelembutannya tetap luar biasa. Dengan begitu, sesi memilih pakaian pun selesai. Kemudian, Intan memanggil Aldi untuk masuk ke dalam ruangan.
Setelah Aldi memasuki ruangan, matanya langsung tertuju pada penampilan baru Seraphina. "Ternyata tidak salah aku memilih tempat ini, hasilnya sudah sebagus ini. Sekarang penampilanmu sangat cantik, Phina,"
Aldi memuji dengan jujur, namun dalam hatinya dia merenung, “Sial! Kenapa bisa secantik ini sih? Padahal ekspetasiku berkata cantiknya normal, dan sekarang cantiknya kebangetan.“
__ADS_1
Terima kasih, Aldi. Pakaian ini akan kusimpan selalu sebagai bentuk penghargaan atas kebaikanmu padaku," ujar Seraphina sambil tersenyum bahagia.
"Baguslah kalau kamu senang. Tapi meskipun bagus, harus tetap dipakai. Jangan sampai karena itu bagus, jadinya hanya disimpan supaya tidak kotor. Kalau nanti rusak, pasti akan kubelikan lagi. Mau satu set atau satu lemari? Langsung hajar saja," jawab Aldi spontan.
Setelah mengatakan hal itu, Aldi merasa sangat malu. Ucapannya mengikuti kata hatinya bukan dari pikiran. Maka, ia semakin salah tingkah menanggapi situasi tersebut. Sementara Intan hanya memalingkan wajahnya, dia sebenarnya ingin memberikan respon atas ucapan Aldi. Namun, karena itu pasti tidak sopan, Intan hanya dapat menahan keinginannya untuk bersuara.
Seraphina juga menahan tawanya atas ucapan Aldi, namun dia juga senang dengan respons Aldi yang lebih bertanggung jawab. Dengan begitu, sesi memilih pakaian pun berakhir. Aldi telah membeli pakaian untuk Seraphina dengan sangat sempurna, dan mereka berdua berpamitan pada Intan untuk melanjutkan ke tempat lain.
Lalu, dari kejauhan tampak penjual es krim tengah menjual produknya di sebuah toko khusus es krim. Dengan semangat, Seraphina berjalan ke sana, "Aku akan ke sana dahulu. Akan kutunjukkan es krim yang pernah kubeli saat pulang kerja."
"Oh tentu, aku akan menunggu di sini," jawab Aldi sambil duduk di dekat taman mesin minuman.
Kemudian Seraphina menuju ke sana, tapi sempat antri dalam membeli. Saat menunggu giliran, dia melihat menu yang tersedia pada papan informasi. Banyak sekali jenis es krim dalam toko itu, mulai dari rasa original hingga rasa buah-buahan. Dan akhirnya, tiba giliran Seraphina maju ke depan. Saat ditanya oleh penjual, Seraphina memilih rasa cokelat dengan tambahan marshmallow. Itu adalah es krim dengan varian terbaru pada produk toko tersebut, yang sangat populer di kalangan remaja sampai dewasa. Beberapa saat kemudian, Seraphina telah membeli es krim favoritnya. Dia keluar dari toko, sementara Aldi menyusulnya.
Namun, tiba-tiba…
“Brukk!“
__ADS_1
Seseorang berlari terburu-buru dan tidak sengaja mendorong Seraphina dari belakang. Hal itu membuatnya terdorong ke belakang dan kakinya tergelincir, tidak mampu mengatasi keseimbangan. Melihat hal tersebut, Aldi sigap berlari untuk menyelamatkannya. Diluar dugaan, posisi mereka kini saling berhadapan. Aldi berada di sampingnya, tangan kirinya menyangga punggung Seraphina, sementara tangan kanan memegang lengan sebelah kiri. Kedua mata mereka saling menatap, jantung Aldi berdetak sangat kencang, dan secara spontan dia tidak bisa nemalingkan wajahnya. Sementara Seraphina juga memiliki perasaan yang sama, jantungnya berdebar begitu keras, pikirannya sudah kacau akibat terjatuh tadi.