
"AMEL!!"
Cara mendongakkan kepalanya. "Kak Ijul," ucapnya. Dengan segera Zul masuk ke dalam kamar mandi dan memeluk Cara.
Dibalasnya pelukan Zul itu dengan erat, sambil terus menangis. "Udah, jangan nangis lagi."
Cara melepaskan pelukannya dan menatap Zul. "Aku nangis kenapa ya, Kak?" tanya Cara sambil menghapus air mata yang terus mengalir menyusuri pipinya.
Zul mengerutkan keningnya. "Lah, mana gue tahu lo nangis kenapa. Gue cuma lewat dan denger lo nangis. Emangnya barusan terjadi apa sama lo?"
"Aku mau ke kelas dulu, Kak," kata Cara setelah mendengar bel berbunyi.
"Tapi, lo belum jawab pertanyaan gue." Cara tak menjawab, gadis itu berdiri. Memberikan senyuman lalu berjalan keluar meninggalkan Zul yang masih berjongkok bingung akan tingkah Cara.
~·~
Raca mendekati Cara yang sedang berdiri tidak jauh dari pagar Sekolah. Semenjak kejadian istirahat tadi, Cara tak mengajaknya berbicara di kelas. Saat waktunya pulang Sekolah, gadis itu juga terlihat buru-buru sekali.
"Ra."
"Apa?" tanya Cara tanpa menoleh. Ia tahu yang memanggilnya adalah Raca.
"Lo, pulang dijemput Kak Randy?" tanya Raca dan Cara hanya mengangguk. Setelah itu, keduanya sama-sama diam.
"Motor lo mana?"
Raca menoleh, "di parkiran."
"Kenapa gak pulang?"
"Nungguin lo, habis ini kan mau hujan."
"Kenapa mau nungguin gue? Kemarin aja ninggalin gue sendirian."
"Kemarin gue ada janji."
"Penting ya janjinya?"
"Lo masih marah?"
Cara menoleh menatap Raca. Tidak ada senyuman diwajah gadis itu. Ekpresi wajahnya begitu datar, hingga Raca yakin jika Cara masih marah kepadanya. "Buat apa gue marah sama lo?"
"Lo gak marah?"
"Lo mau gue marah?" tanya Cara balik dan Raca menggeleng.
"Gue minta maaf kalau gue ada salah." Cara hanya mengangguk, lalu kembali menatap jalanan.
Ingin sekali Cara menanyakan sesuatu kepada Raca. Seseorang di depan toko buku itu membuatnya sangat penasaran. 3 ciri-ciri yang ia lihat dari belakang itu sama dengan Raca. "Ca, kemarin malam sekitar jam 8, lo ada di mana?"
"Kenapa emang?" tanya Raca yang penasaran apa maksud dari pertanyaan Cara.
"Gapapa, soalnya waktu gue ke toko buku di Mall deket rumah gue. Ada orang yang mirip kayak lo, dari belakang," jawab Cara sambil menatap Raca.
"Bukan gue itu," kata Raca dan Cara hanya manggut-manggut.
"Cara, ayo pulang!" Cara dan Raca sontak menoleh.
"Gue pulang dulu, makasih mau nungguin gue. Bentar lagi hujan, lo cepetan pulang dan jangan nongkrong. Ini buat lo," kata Cara sambil memberikan permen ke genggaman tangan Raca. Lalu, gadis itu berjalan mendekati Randy dan naik ke atas motor.
"Raca, gue duluan," kata Randy lalu menjalankan motornya setelah Raca mengangguk.
Raca membuka genggaman tangannya. Sebuah permen dengan secarik kertas kecil tertempel di sana. Kedua sudut bibir Raca terangkat setelah membaca goresan pena yang indah milik Cara.
Kalau lo lihat rokok, lo inget sama permen ini. Memang gak manis kayak gue, tapi bisa bikin mulut lo adem.
~·~
Cara telah sampai di rumahnya. Ia turun dari motor sang Kakak, lalu berjalan mendekati sang adik yang sedang bermain di teras rumah. "Hafidz, mainnya kok di luar. Ayo ke dalem!"
"Kata Ibu di suruh main di luar dulu. Soalnya ada temen Ibu di dalem," ucap Hafidz. Bocah berumur 5 tahun itu melanjutkan bermain mobil-mobilannya. Sementara sang Kakak masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," ucap Cara dan gadis itu terkejut saat melihat seorang wanita sedang berbincang dengan Ibunya.
"Waalaikumsalam," jawab Nani dan Ningsih bersamaan.
Dengan segera Cara memeluk wanita yang sangat ia rindukan. Ningsih membalas pelukan Cara. "Mama kangen sama kamu," ucap Ningsih sambil mengelus puncak kepala Cara.
Cara melepas pelukannya. Kemudian ia duduk di samping Ningsih. "Ma, Amel kangen banget sama Mama. Mama ke mana aja sih?"
__ADS_1
"Kamu udah besar sekarang," ucap Ningsih dengan mata penuh akan kasih sayang, "kamu gak perlu tahu Mama ke mana, yang penting sekarang Mama sudah kembali."
Cara tersenyum dan kembali memeluk Ningsih. Sudah 6 tahun ia tidak berjumpa dengan sosok Ibu ke-2 dihidupnya.
"Cara, kamu ke kamar, mandi setelah itu makan!" perintah Nani dengan nada seperti biasanya.
Cara mengangguk lalu pamit kepada Ningsih. Gadis itu pun melangkahkan kaki menuju kamarnya.
Ningsih mengintip ke pintu, tapi yang ia lihat hanya Hafidz yang asyik bermain mobil-mobilan. "Randy mana?"
"Anak itu habis nganterin adiknya pulang, langsung ke tempat kerja," ucap Nani.
Ningsih terkejut lalu tersenyum, "anak kamu mandiri banget. Kalau anakku cuma bisa ngerepotin aku aja."
Nani tertawa kecil untuk pertama kalinya setelah 6 bulan. "Anak kamu udah besar, sama kayak Randy ya? Sekolah di mana sekarang?"
"Di SMA BANGSA 2."
"Cara juga Sekolah di situ."
"Bagus kalau gitu. Mereka bisa deket kayak dulu lagi," ucap Ningsih, "oh ya, Na, nanti malam ke rumahku ya. Kita makan malam bersama, sekalian ngumpul kayak dulu. Ajak semua anggota keluargamu."
"Insha Allah aku sekeluarga bisa datang."
Ningsih berdiri, "kalau gitu, aku pamit pulang."
Nani pun ikut berdiri dan mengantarkan Ningsih sampai di teras. "Aku pulang dulu, jangan lupa nanti malam ya, Na."
"Aku gak bakal lupa."
Ningsih tersenyum kepada Hafidz yang sedang berdiri memeluk kaki Nani. "Hafidz, Tante pulang dulu. Nanti malam ke rumah Tante ya, kita makan malam bareng."
Hafidz hanya diam. Dia begitu takut dengan orang yang belum ia kenal. "Hafidz, cium tangan Tante Ningsih!" Hafidz menurut dan mencium tangan Ningsih. Setelah mengusap kepala Hafidz, Ningsih berpamitan pulang.
"Mainannya diberesin, trus mandi!"
"Iya, Bu," ucap Hafidz sambil memunguti mobil-mobilannya lalu masuk ke dalam rumah.
"Loh, Mama ke mana, Bu?" tanya Cara yang tiba-tiba muncul diambang pintu, membuat Nani sedikit terkejut.
"Udah pulang," jawab Nani ketus, "lain kali kamu jangan manggil Mama, panggil Tante Ningsih!"
"Emangnya kenapa, Bu?" tanya Cara penasaran. Pasalnya, sejak dulu, ia memanggil Ningsih Mama, karena ikut-ikutan Zul.
~·~
"Bu, Bapak belum pulang kerja?" tanya Cara kepada Nani yang sedang mengancingkan baju Hafidz.
"Bapak gak ikut makan malam, katanya sibuk," jawab Nani ketus, "ayo, Tante Ningsih pasti udah nungguin kita."
Ketiga orang itu pun berjalan keluar rumah. Nani mengunci pintu dan pagar. Lalu mereka masuk ke dalam pekarangan rumah Ningsih. Cara mengetuk pintu rumah itu.
"Assalamualaikum."
Tak lama pintu terbuka. Terlihat Zul yang membukakan pintunya. "Waalaikumsalam," balas Zul. Kemudian cowok itu mencium tangan Nani. Lalu mengajak ketiga tamunya itu masuk ke dalam rumah.
"Loh, Na, suami kamu sama Randy mana?" tanya Ningsih saat melihat hanya ada Nani, Cara, dan Hafidz.
"Maaf, Ni. Suamiku lagi sibuk kerja, Randy pulang kerjanya malam banget," jawab Nani. Ningsih tersenyum lalu menyuruh ketiga tamunya duduk di meja makan.
Makan malam pun dimulai. Banyak yang mereka bahas. Tentang masa lalu dan cerita yang lain. Cara tersenyum melihati Ibunya. Sudah lama ia tak melihat Ibunya itu tertawa, tersenyum saja tidak. Tapi, berkat Mama, Ibunya bisa tertawa.
"Suami kamu ke mana, Ni?"
"Sibuk kerja, padahal udah aku paksa. Tapi gak mau," jawab Ningsih.
"Ma, aku sama Cara ke ruang tamu dulu," ucap Zul dan Ningsih hanya mengangguk. Zul pun menarik Cara menuju ruang tamu.
"Ngapain sih, Kak?"
"Besok, mulai ya?"
"Mulai apa?"
"Yang tadi gue bilang di lapangan, lupa?"
"Gak, iya. Besok pagi aku ke rumah Kakak."
Zul tersenyum. Lalu ia mengintip ke jendela saat mendengar suara mobil Papanya. "Om Budi udah pulang," ucap Cara saat melihat Budi keluar dari mobil. Lalu sebuah motor matic berhenti di depan rumah Cara, dia adalah Heri.
__ADS_1
Kedua orang itu, bukannya saling sapa dan berpelukan untuk menebus kerinduaan, karena lama tak jumpa. Tapi, keduanya malah saling tatap. Lalu masuk ke dalam rumah masing-masing.
"Om Budi sama Bapak kok gak saling sapa?"
~·~
Cara sudah berdiri di depan pagar rumah Zul. Dibawanya gelang karet pemberian teman kecilnya itu. Gelang karet yang selalu mengikat rambutnya sejak 6 bulan ini.
Tak lama, Zul keluar dari rumah. Mendekati Cara dan mulai mengepang rambut sepinggang itu. Rambut yang Cara biarkan panjang sejak pertemuannya dengan Zul 6 bulan lalu.
"Dah, yuk berangkat," ucap Zul lalu menggandeng tangan kecil Cara menuju Sekolah. Hal ini sama yang seperti yang mereka lakukan selama 5 tahun.
"Aku jadi inget dulu, Kak," ucap Cara sambil mengayun-ayunkan kedua tangan yang saling menggenggam.
"Lo masih suka foto di bawah sinar matahari?"
Cara mengangguk, "masih dong, Kak. Kenapa, Kakak mau fotoin aku lagi?"
"Gak, buat apa?" tanya Zul balik.
"Ditempel di kamar Kakak. Lupa?"
"Bukan lupa, tapi, kamar gue udah banyak foto lo."
Sontak, Cara memberhentikan langkahnya membuat Zul juga ikut berhenti. Cara melepas tangannya dan langsung saja berteriak kegirangan. "Kakak masih nempel foto aku di kamar?"
Zul mengangguk, "gak usah kayak tante-tante girang, jikik gue lihatnya."
Cara manyun lalu tersenyum kembali. "Aku kira, Kakak udah lupa sama aku. Kakak cuma sekedar nganggep aku sebagai teman kecil Kakak."
"Gue gak mungkin lupa sama lo dan sampai kapan pun lo itu teman kecil gue. Gue sayang sama lo," ucap Zul dan dibalas senyuman manis Cara.
"Aku juga sayang sama Kakak. Janji jangan pergi lagi, ya?" tanya Cara sambil mengangkat jari kelingkingnya. Zul melingkarkan jari kelingkingnya di jari kecil Cara.
"Udah janji, gak boleh diingkari." Zul mengangguk dan kembali menggandeng Cara menuju Sekolah.
"Makasih, udah nganterin aku sampai di depan kelas. Nanti aku tunggu di kantin ya, Kak," kata Cara dan Zul mengangguk. Kemudian cowok itu berjalan pergi menuju kelasnya.
"Cie...cie... ada yang lagi kasmaran sama Kakak kelas," sindir Haidan saat Cara masuk ke dalam kelas. Cara yang tahu sindiran itu ditujukan kepadanya, hanya diam. Gadis itu berjalan dan duduk di sebelah Raca setelah memberikan senyuman manisnya khusus untuk cowok itu.
"Ca, jangan dibales senyumannya Cara. Ntar lo kena masalah sama Kak Zul," ucap Haidan saat melihat Raca membalas senyuman Cara.
"Gak takut gue!"
"Iya yah, kenapa harus takut. Kalau lo takut, bakal susah ngedapetinnya lagi," ucap Haidan yang mendapat jitakan dikepalanya. Haidan meringis. Semua yang dilakukan sohibnya kepada kepalanya itu sama sekali tidak sakit.
Cara bingung maksud dari perkataan Haidan. "Gue gak lagi kasmaran, sok tahu lo, Hai."
"Terserah dah. Gue mau gombalin yayang Gia dulu ya," kata Haidan lalu merangkul Gia yang sedari tadi asyik berkutat dengan handphonenya.
Gia langsung saja melepaskan tangan Haidan. "Jangan sentuh gue! Ntar Kakaknya Cara gak mau lagi sama gue!"
"Duh, jangan galak-galak yayang Giaku," ucap Haidan manja.
"Gue gak mau sama Simpanse." Sontak semburat tawa keluar dari mulut Raca dan Cara. Haidan memayunkan bibirnya.
"Hai, Gia cuma lagi malu-malu kucing. Gak bakal ada yang marah kalau lo deketin dia."
"Beneran, Ra?" tanya Haidan terlihat kembali wajah cerianya. Cara mengangguk membuat Haidan kembali ingin memeluk Gia. Gadis berambut panjang bergelombang itu terus-terus berteriak dan mencoba untuk menghindar.
"Ra."
Cara menoleh dan menaikkan alisnya. "Lo berangkat bareng cowok itu?"
"Iya."
"Kenapa harus bareng dia?"
"Emang kenapa?"
"Gue tanya sama lo?"
"Gue juga tanya sama lo?"
"Dih, gak asyik nih orang."
"Dih, gak asyik nih Acar."
Raca menghela napas. Kesal mendengar ucapan dari Cara. Dia bertanya dengan serius, tapi, malah disambut dengan bercanda.
__ADS_1
Cara tersenyum tipis, "ada kalanya raga kita dekat dengan orang lain. Tapi, jiwa dan hati kita gak bakalan pindah ke yang lain."
~·~