
Sejak di tempat pemotretan, mood Cara sudah tidak baik. Jika biasanya gadis itu akan berpose dengan santainya. Sementara tadi, untuk senyum pun sangat dipaksakan. Karena itu, Cara sedikit bercek-cok dengan para crew disana. Hingga seorang teman sepermodelan mengatakan jika jadwal pemotretan Cara diganti hari saja. Setelah semua mengiyakan. Cara pun segera melepas pakaiannya dan bergegas pulang.
Tidak tahu mengapa tiba-tiba mood Cara jadi berubah. Padahal kemarin dia masih bisa tertawa terbahak-bahak karena candaan para crew pemotretan.
Cara menginjak-nginjakan kedua kakinya di aspal dengan bergantian. Sebuah insta story yang tadi ia lihat di instagram membuatnya makin kesal. Ingin sekali Cara melampiaskan kekesalannya pada orang yang bersangkutan. Tapi sudah telat. Cowok itu sudah pergi ke Amerika entah untuk apa.
"Ke Amerika bisa. Masa ke Surabaya yang masih satu pulau aja enggak bisa."
Mungkin seperti itulah pemikiran Cara sekarang. Kesal akan cowok yang memilih memperjauh jarak daripada mendekatkan jarak padanya. Tidak tahu jika rindu gadis itu sudah hampir tak bisa dibendung.
Pagar yang sudah berubah berkali-kali namun dengan gaya yang masih sama menjadi pelampiasan kekesalan Cara. Jika Bapaknya melihat itu, mungkin dia akan dimarahi. Untungnya, yang melihat hanya tersenyum hingga menunjukkan giginya yang putih. Melihat seorang gadis yang akhirnya bisa ia temui sedang mengamuk dengan sebuah pagar kayu membuatnya gemas. Pasti gadis itu sudah tertipu akan prank yang ia buat. Masalah prank, mengapa kini Raca menyukainya?
"Kalau pagarnya bisa ngomong. Mungkin lo udah kena umpatan."
Suara yang sudah 2 tahun tidak ia dengar secara langsung kini terdengar oleh indra pendengar Cara. Suara yang lebih dari 5 bulan ini tidak menemaninya untuk tidur atau sekedar bicara tidak jelas. Rasa penasaran membuat wajah yang sedari tadi tertunduk kini menjadi terangkat. Seorang dengan celana bahan dan kemeja coklat sedang berdiri menghadapnya sambil tersenyum dengan gigi putihnya yang nampak. Melihat orang yang hari ini membuatnya kesal sekarang berada 7 langkah darinya membuat Cara masih tidak percaya apa ini nyata. Dan ternyata, dia memang nyata. Dia Raca yang sangat ia rindukan.
Bukannya melampiaskan kekesalannya, Cara malah berlari kecil untuk memperpendek jarak mereka. Seseorang yang ia kira masih dalam perjalanan ke Amerika, ternyata sekarang berdiri di depannya. Jarak mereka bukan beribu-ribu kilometer. Melainkan kurang dari 1 meter.
__ADS_1
Meskipun merasa senang, bahagia, dan campur aduk pokoknya. Cara masih merasa canggung setelah sekian lama mereka tidak bertatap muka langsung. Untuk mengucapkan 'apa kabar' saja, lidah Cara seolah mati rasa. Tubuh yang tadi berlari kecil untuk memperpendek jarak, kini menjadi diam seperti patung saat jarak mereka sudah sangat dekat.
"Kena prank lagi," ucap Raca sambil tersenyum senang karena pranknya berhasil.
Cara tidak tahu harus berekpresi seperti apa. Melihat wajah Raca membuatnya terdiam. Sementara dalam dirinya ia ingin memeluk tubuh Raca atau sekedar mengucapkan 'hai'. Tapi ternyata yang bisa Cara lakukan hanya meneteskan air mata. Terlihat menyedihkan sekali. Namun mau bagaimana lagi. Air matanya tidak bisa disembunyikan.
Satu tetes air mata turun dari mata Cara. Perkiraan Raca jika dia akan mendapati amukan ternyata salah. Gadis itu malah menangis membuatnya merasa bersalah.
Dihapusnya air mata yang turun menelusuri pipi yang makin chubby. Detik kemudian sebuah protes terdengar cukup keras. Namun sang pelaku hanya tertawa seolah dia senang sudah berhasil mengusili.
Raca tersenyum dan menarik Cara dalam dekapannya. Hal yang membuat tubuh Cara menjadi tegang. Namun detik selanjutnya tangan Cara beralih melingkar dileher Raca. Pelukan kedua sejoli itu pun makin erat.
"Gue senang kita masih bisa pelukan lagi," ucap Raca sambil mengelus rambut Cara yang sudah panjang dan makin bergaya.
Sementara Cara hanya diam menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Raca. Tidak ada yang ingin dia katakan. Tidak ada pun amarah yang ingin ia lampiaskan. Dia hanya ingin memeluk Raca saat ini.
Hampir setengah jam kedua sejoli itu hanya diam berpelukan. Meskipun tidak ada pun satu pembicaraan yang mereka bicarakan. Keduanya tetap merasa senang karena rindu yang sudah 2 tahun hanya bisa dibendung, kini bisa terbalaskan.
__ADS_1
"Lo inget, kan? Dulu gue pernah bilang kalau 'nanti kita pacaran sampai lama, pokok jangan ada yang putusin hati yang sudah terikat. Terus nanti kita ldr buat kejar cita-cita masing-masing. Lalu gue dateng bawa cincin dan lamar lo di depan rumah lo' ingat nggak?"
Setelah mengingat-ngingat. Akhirnya Cara ingat juga akan ucapan Raca kala cowok itu membahasa tentang couple goals. Yang sedang Cara pertanyakan adalah, apakah hari ini Raca akan melamarnya?
Pelukan yang cukup lama itu terlepas karena Cara. Gadis itu menatap Raca seolah ingin penjelasan akan maksud Raca mengingatkannya akan ucapan 3 tahun lalu. Sementara Raca yang ditatap seperti itu pun menjadi mengerti apa yang diinginkan Cara.
Diambilnya sebuah cincin yang sedari tadi ia simpan di saku kemejanya. Sebuah cincin polos itu kini berada tepat didepan mata Cara. Gadis itu tidak menyangka jika ini adalah harinya. "Gue enggak tahu cara biar bisa kasih momen romantis ke lo. Tapi gue harap lo enggak bakal lupain momen ini."
Bibir Cara terlipat. Telapak tangannya mulai mengeluarkan keringat. Dia benar-benar tidak siap mendengar kalimat;
"Cara, apa lo mau jalani sisa hidup lo dengan gue?"
Dan ternyata kalimat itu sudah keluar dari mulut Raca. Jika seperti ini, siap tidak siap pun jawaban Cara akan tetap sama.
"Iya, gue mau, Ka."
~•~
__ADS_1