
"Tadi aku diketawain sama teman-teman, Kak." Anak perempuan berumur 5 tahun itu mengadu pada ke-2 Kakaknya. Ketiga anak itu sedang duduk diteras rumah, sepulang sekolah.
"Emangnya kenapa? Ada yang jailin kamu?" tanya sang Kakak kandung.
Anak perempuan itu membuka tas dan merogoh untuk mengambil sesuatu. Sebuah buku gambar warna coklat keluar. Dibukanya gambar matahari sederhana yang sudah diwarnai, lalu menunjukkan pada kedua Kakaknya. "Gara-gara aku nunjukin gambaranku ini didepan kelas." Tidak ada yang salah pada gambar itu. Hanya gambar matahari yang cukup besar dengan senyuman. Menurut ke-2 Kakaknya, gambar itu tampak cantik dan indah.
Randy mengelus kepala adiknya, "mereka ketawa soalnya mereka nggak bisa gambar kayak kamu. Gambar mataharinya bagus banget. Iya, kan, Jul?"
Ijul mengangguk, "bagus. Kak Ijul juga mau gambar itu. Yuk, gambar bareng-bareng."
Kedua anak laki-laki umur 7 tahun itu memang selalu menjadi pelindung untuk Amel. Apapun yang dilakukan Amel selalu didukung oleh mereka. Jika ada yang berani menyakiti Amel, kedua anak itu akan menjadi garda terdepan.
Dengan buku gambar dan pensil warna. Mereka pun menggambar matahari dengan versi mereka masing-masing. Ketiga anak itu memang dekat sejak kecil. Kemana-mana selalu bersama.
"Yeay!! Matahari Amel udah jadi," kata anak perempuan sambil menunjukkan gambarnya. Kedua anak laki-laki memberikan 2 jempolnya. "Mulai hari ini Amel suka matahari."
~•~
Dengan tablet milik Ijul, mereka berfoto didepan rumah Amel dan Randy. Berpose senyum, peace, dan banyak pose lainnya. Amel menarik tangan Ijul untuk memfotokannya dibawah sinar matahari. Dengan pose jari telunjuk yang ditempel pada pipinya. Ijul menunjukkan hasil foto itu.
"Bagus, Kak. Amel jadi makin suka sama matahari."
Semenjak mereka menggambar matahari, Amel selalu suka jika wajahnya terkena sinar matahari. Hingga anak itu menaiki kelas 3 sd. Saat terlambat sekolah bersama kedua Kakaknya, ia mendapat hukuman berdiri didepan tiang bendera. Bukannya capek dan memilih kabur. Amel malah senang dan sesekali berusaha melihat matahari. "Kenapa susah sekali buat lihat matahari?"
"Mataharinya malu dilihatin Amel," jawab Randy sambil membenarkan topi adiknya.
"Kenapa malu? Karena nggak pakai baju?" tanya Amel membuat kedua Kakaknya tertawa.
"Bukan. Mataharinya malu dilihatin sama Amel yang cahanya lebih indah dari cahaya matahari," jawab Ijul membuat Amel membuka mulut.
"Oh, ya? Amel bercahaya?" tanya Amel dan kedua Kakaknya mengangguk. Anak perempuan itu meloncat-loncat senang saat dibohongi jika dirinya bercahaya. Namun bagi Randy dan Ijul, wajah Amel memang selalu bercahaya.
__ADS_1
~•~
Ijul menuruni tangga dengan hati-hati. Sementara Randy dan Amel terus memegangi tangga. Ini adalah cara untuk meloloskan Ijul dari kamar. Cara yang sering mereka pakai jika Ijul dikurung dan tidak boleh keluar. Entah sudah berapa kali cara ini mereka pakai dan selalu berhasil.
Sesampainya Ijul dibawah. Segera ketiga anak itu berlari menuju rumah didepan rumah Ijul. Mereka tertawa saat Ningsih meneriaki, "IJUL!!! AMEL!!! RANDY!!!" Tidak menghiraukan teriakan itu, ketiga anak itu masuk menghampiri Nani yang sedang memasak. Melihat ketiga anak itu tertawa, Nani jadi mengerti apa yang telah ketiga anak itu lakukan. "Ijul nggak takut jatuh dari tangga?"
"Nggak bakal, Bu. Kalau jatuh pun Ijul bakal kuat. Kan, Ijul ini superhero," jawab Ijul membuat Nani tersenyum.
"Main sana dikamar Randy. Ibu masih masak. Kalau sudah matang Ibu panggil."
Langsung saja ketiga anak itu masuk ke dalam kamar Randy. Menyalakan televisi untuk menonton kartun kesukaan mereka. Shinchan. Sesekali mereka ikut bernyanyi lagu 'crayon shinchan' yang sangat mereka hapal. Ketiganya tertawa jika ada scene yang lucu.
Bosan menonton kartun itu, mereka memilih bermain abcd lima dasar. Permainan sudah berulang hingga puluhan kali namun mereka belum bosan. Hingga putaran ke-27, mereka tepar. Tidur dikarpet dengan posisi berantakan.
Nani masuk membangunkan ketiga anak yang baru saja tidur 20 menit. Namun mereka tak kunjung bangun. Membiarkan ketiga anak itu tidur, Nani memilih untuk keluar. Ketiga anak itu akan mencari makan jika perut mereka lapar.
1 jam kemudian, pintu kamar terbuka. Nani tersenyum dan menyuruh mereka untuk ke kamar mandi terlebih dahulu. Sesudah itu mereka pun melahap makanan yang dibuat oleh Nani. Kebetulan hari ini adalah hari ulang tahun Amel. Jadi Nani sengaja memasakan berbagai macam makanan.
Lilin dengan angka 9 itu menyala. Keluarganya menyanyikan lagu tiup lilin. Setelah mengucapkan doa, Amel meniup lilinnya. Anak perempuan itu memeluk sang Bapak. "Makasih kuenya, Bapak."
"Sama-sama. Selamat ulang tahun putri Bapak," ucap Heri lalu mencium kening putrinya.
Saat Nani memotong kue, pintu rumah tiba-tiba diketuk. Amel berlari karena berpikir jika itu adalah Ijul. Namun saat dibuka, bukannya Ijul dengan kado ditangan. Tapi beberapa polisi sedang di depan rumahnya. Amel ketakutan dan memanggil sang Bapak.
Saat sang Bapak berbicara dengan Bapak polisi, Amel dan Randy memeluk sang Ibu.
"Ibu, Bapak polisi ngapain ke sini?" tanya Randy yang hanya dijawab gelengan oleh Nani. Karena ingin tahu apa yang terjadi antara suaminya dengan polisi, Nani menghampiri sang suami dan menyuruh kedua anaknya tetap didalam rumah.
Randy memeluk adiknya dan mengintip apa yang tengah terjadi. Lalu tiba-tiba saja polisi memborgol tangan bapaknya dan membawa bapaknya pergi. Randy berlari menghampiri bapaknya, namun dihalangai oleh polisi.
"Ibu, Bapak polisi itu mau bawa bapak ke mana?" tanya Amel. Nani tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh putri kecilnya. Dirangkulnya sang putri dengan sangat erat. Dia juga tidak ingin menangis padahal air mata mencoba menerobos matanya.
__ADS_1
Sementara Randy sedang menangis sambil memukuli Polisi yang menangkap Bapaknya. "Pak Polisi, lepaskan Bapak Randy." Tapi tetap saja usahanya itu sia-sia. Kini ia hanya bisa melihat Bapaknya di dalam mobil polisi. Anak laki-laki itu memukul-mukul kaca jendela itu sambil terus memanggil, "Bapak!"
Nani langsung memeluk putranya dan membiarkan mobil polisi itu melaju meninggalkan area rumah. Sementara Heri yang sedang di dalam mobil polisi, hanya bisa menatap keluarganya dengan sedih sambil mengucapkan kata maaf yang pasti tidak dapat didengar dari luar.
"Ibu, mobil polisi itu bawa Bapak ke mana?" tanya Amel yang masih melihati mobil polisi yang telah melaju kencang.
"Mobil polisi itu mau bawa Bapak ke kantor polisi," jawab Nani.
"Kenapa? Bapak mau dipenjara?"
"Enggak, Bapak sekarang kerja di sana. Bapak jadi Polisi," jawab Nani berbohong. Dengan polosnya, kedua anak itu mempercayai perkataan sang Ibu.
~•~
"Kalian kenapa tiba-tiba pindah?" tanya Nani pada Ningsih saat akan berpamitan.
"Budi ditugaskan ke Jakarta, Na. Maaf banget nggak bisa nemenin kamu saat suamimu pergi," kata Ningsih sambil menepuk pundak Nani. "Aku pergi dulu, yah. Ayo Ijul!"
"Sebentar, Ma. Ijul mau bicara sama Amel juga Randy." Ningsih mengangguk dan berjalan menuju mobil.
"Maafin aku kalau punya salah. Tapi kita bakal tetap jadi teman, kan?" tanya Ijul dengan wajah sedih.
"Pasti," jawab Randy.
Ijul memberikan beberapa foto yang pernah mereka ambil dengan tabletnya pada Amel. "Ini foto kita bertiga. Aku juga simpen foto itu. Jadi kalian simpan juga, yah."
Randy dan Amel mengangguk. Lalu ketiga teman kecil itu berpelukan dan berharap jika ini bukan untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu Ijul mencium tangan Nani. "Jadi anak yang baik, yah," pesan Nani sambil mengelus puncak kepala Ijul.
Ijul berjalan menuju mobilnya. Saat didalam mobil, anak itu membuka kaca jendela dan memunculkan wajahnya. "Nanti Ijul bakal balik. Kita bakal main bertiga lagi," kata Ijul sambil melambaikan tangannya yang dibalas lambaian tangan oleh Randy dan Amel.
~•~
__ADS_1