Racara

Racara
Bagian 26


__ADS_3

Setelah melewati waktu yang panjang. Akhirnya hari persidangan tiba. Om Setyo dan tangan kanan Om Budi menjadi bukti. Cara terus-terusan mengucapkan doa agar bukti itu benar-benar membuat Om Budi masuk ke penjara. Sudah cukup Bapaknya menjadi pembicaraan ibu-ibu kompleks.


Butuh waktu hampir 3 jam dan akhirnya sidang ini selesai. Pengacara Om Budi sudah tidak bisa mengelak. Beliau dipenjara dengan tuduhan pencemaran nama baik. Cara dan Randy langsung berpelukan. "Akhirnya, Kak."


"Bapak nggak akan pernah ngelakuin hal salah. Dia bapak yang terbaik di dunia, Ra."


Senyum diwajah Nani membuat Cara dan Randy ikut tersenyum. Apalagi saat ibu dan bapaknya itu berpelukan. Keluarga mereka benar-benar sudah kembali.


~•~


Kini mereka berkumpul dengan lengkap, duduk di ruang keluarga. Sejak tadi kebahagiaan terus terpancar diwajah mereka berlima. "Cara senang, Pak. Akhirnya kebenaran terungkap."


"Bapak juga. Akhirnya bisa lihat Ibumu senyum lagi," ucap Heri melihat sang istri yang duduk dengan senyum diwajahnya.


"Maaf. Ibu nggak tahu kenapa semenjak bapak kalian balik, Ibu jadi berubah. Jarang senyum dan nggak perhatian sama kalian. Mungkin karena Ibu capek dengar ucapan ibu-ibu kompleks yang bilang hal jelek tentang suami ibu, bilang kalau ibu hamil sama orang lain. Aku capek, Mas. Apalagi saat kebenaran nggak terungkap-ungkap. Tiap hari selama 6 tahun aku selalu berdoa kalau kebenaran akan terungkap. Sebenarnya aku percaya kalau suamiku nggak mungkin ngelakuin itu. Tapi..."


Nani tak melanjutkan ucapannya. Tangisnya pecah. Heri pun memeluk sang istri. "Iya, Aku tahu. Memang sulit buat kamu. Mangkannya aku maklumin kamu yang marah sama aku."


"Maafin aku, mas."


"Aku maafin."


"Ibu juga minta maaf ke kalian karena Ibu yang udah berubah."


"Randy tahu, kok, bu. Randy bisa maklumin. Bahkan, menurut Randy Ibu nggak berubah. Tiap malam, ibu pastiin kalau Hafidz, Cara, dan Randy udah tidur. Tiap pagi Ibu mandiin Hafidz sambil bercanda sama Hafidz. Ibu juga selalu tunggu di ruang tamu sampai semua anak Ibu pulang walau sampai malam."


Cara mendekat pada Nani yang masih berpelukan dengan Heri. "Pokoknya, setelah ini kita balik kayak dulu lagi, yah. Lupain masalah ini." Randy juga ikut mendekat dan memeluk keluarganya.


"Bapak, Ibu, sama Kakak ngapain?" tanya Hafidz yang sedari tadi bingung dengan apa yang dibicarakan keluarganya.


"Sini Hafidz, pelukan," kata Cara.


Hafidz pun nurut. "Kita kayak teletubis."


Tawa pun meledak. Rumah itu sudah utuh kembali. Semuanya sudah membaik. Tidak ada lagi kesedihan, kerenggangan, yang ada hanyalah kehangatan.


~•~


Hari ini ditemani chairmate yang selalu ada, Cara membeli kue ulang tahun untuk adiknya. Jadi, hari ini adalah hari ulang tahun Hafidz yang ke-6 tahun. Keluarganya berencana membuat surprise untuk anggota keluarga terlucu itu. Sekarang Hafidz sedang dibawa Nani ke warung, sementara Randy dan Heri sedang menghias rumah.


Setelah selesai memesan kue, Cara mengajak Raca untuk segera balik ke rumah. Namun saat di jalan, mereka melihat motor Zul yang berjalan dengan sangat ngebutnya. "Itu motor si alis tebal?"


"Iya."

__ADS_1


"Kenapa, tuh, anak?"


"Mana gue tahu dan nggak mau tahu."


Zul mengendarai motor ninjanya dengan ngebut. Tidak peduli banyak orang yang mengklaksonnya. Tujuannya sekarang hanyalah Zeline. Tadi dia sudah mencari di tempat kerja Zeline, namun gadis itu tidak ada. Sesampainya di rumah Zeline, Zul segera menekan bel. Tak lama Bi Ratih keluar. "Zeline ada, Bi?"


"Ada. Bibi panggilkan sebentar. Mas Zul duduk aja dulu," kata Bi Ratih mempersilahkan Zul duduk di ruang tamu. Kaki Zul tak bisa berhenti bergerak. Mungkin karena dirinya sedang sangat kacau.


"Ada apa, Kak?"


Melihat Zeline, Zul segera menarik tangan gadis itu dan memeluknya. Cuma Zeline yang dia punya sebagai orang terpercaya. Cuma Zeline yang selalu ada untuknya. Cuma Zeline yang bisa kasih solusi. "Kenapa, sih, Kak?"


"Rumah bakal Mama jual. Nggak tahu gue sama Mama bakal tinggal dimana." Zul melepaskan pelukannya.


"Loh kenapa dijual?"


"Papa punya hutang yang jumlahnya nggak sedikit. Mobil Papa aja masih belum bisa bayar setengahnya."


"Trus, Kakak akan tinggal dimana?"


"Gue nggak tahu. Mungkin dibawah kolong jembatan."


"Hush!! Kakak nggak boleh ngomong kayak gitu."


Air mata Zul keluar. Cowok itu tidak pernah menangis jika masalah yang dia hadapi tidak berat. Dulu saja, saat Zul sering dipukul oleh Papanya, dia tidak menangis. Hanya berteriak meminta pertolongan dari sang Mama. "Kak, jangan nangis. Nanti aku bantu Kakak sama Mama cari tempat tinggal," ucap Zeline sambil menghapus air mata Zul.


Masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ciuman dikening membuat tubuh Zeline berubah jadi patung. Meskipun Zul hanya membutuhkannya untuk menjadi teman curhat, namun sejauh ini banyak ucapan Zul yang membuat Zeline berubah. Mungkin jika bukan karena Zul, dia tidak akan sekolah di sekolah swasta. Selain membuatnya berubah, Zul selalu menjadi pelindungnya saat mereka masih satu sekolah.


~•~


Dengan bantuan kursi meja makan yang dipegangi Raca, Cara naik untuk menempel balon diujung-ujung tembok. Ruang tamu sudah mulai berubah dengan hiasan-hiasan. Randy sedang menjemput Nani dan Hafidz yang ada di warung. "Ka. Kok gue nggak nyampe, yah?"


"Lo pendek, sih. Gue aja yang naik," kata Raca menyuruh Cara untuk turun.


"Gini aja lo nggak bisa," kata Raca yang sudah selesai menempel balon.


"Kan gue pendek, kata lo."


Suara vespa Randy langsung membuat mereka buru-buru mematikan lampu. Pintu rumah terbuka. Suara Hafidz yang lucu membuat Cara hampir tak bisa menahan tawa. "Bu, kok mati lampu. Belum bayar listrik, yah?"


Tak mau menahan tawa karena kelucuan Hafidz, Cara menyalakan flash dihpnya.


"Selamat ulang tahun kami ucapkan. Selamat panjang umur kan kita doakan. Selamat sejahtera sehat sentosa. Selamat panjang umur dan bahagia."

__ADS_1


Hafidz sampe menutup mulutnya yang melongo karena kagetnya saat melihat kue ulang tahun dengan karakter polisi yang Heri bawa. Hiasan dinding yang semuanya bertema polisi.


"Selamat ulang tahun anak bapak. Sekarang ayo tiup lilinnya," ucap Heri sambil berlutut, menyamakan tingginya dengan sang anak. Semua menyanyikan lagu tiup lilin bersamaan. Wajah bocah yang sedang bertambah umurnya itu memancarkan kebahagian menyanyikan lagu tiup lilin sambil bertepuk tangan.


"Make a wish, dulu," celetuk Cara.


"Make a wish itu apa, Kak?" tanya Hafidz dengan polosnya, membuat semua orang tertawa.


"Doa, Hafidz."


Kedua tangan Hafidz menengadah. Bibir anak umur 6 tahun itu terbuka. "Ya Allah, Hafidz mau jalan-jalan sama keluarga Hafidz ke taman hiburan. Hafidz mau naik kuda-kudaan sama bom bom car. Aamiin," kata Hafidz lalu meniup lilin berangka 6. Semua tertawa mendengar doa Hafidz yang masih polos.


Kini giliran semua mengasih hadiah pada Hafidz. Randy memberikan sebuah tas sekolah karakter polisi. Cara memberikan sebuah bantal dengan karakter polisi. Raca memberikan sebuah kostum polisi. Hadiah untuk Hafidz memang harus bertema polisi.


"Hafidz bisa jadi polisi beneran kalau kayak gini," kata Hafidz yang sedang mencoba kostum polisi pemberian Raca.


"Nak Raca. Apa baju ini nggak mahal? Tante bener-bener nggak enak sama kamu," ucap Nani sambil membantu putranya mengenakan kostum polisi. Jujur saja Nani tidak enak. Dari yang ia tahu, kostum polisi seperti ini bisa dibilang cukup mahal.


"Gapapa, Tante. Raca ikhlas ngasihnya. Lagian Raca waktu itu bingung mau ngasih kado apa. Cuma kepikiran itu," kata Raca yang senang melihat wajah ceria Hafidz.


"Halo semua! Kenalkan nama aku polisi Hafidz," ucap Hafidz setelah selesai menggunakan kostum polisi lengkap dengan topinya. Tingkah Hafidz membuat semua tertawa. "Bagi yang tidak mematuhi peraturan, maka bersiaplah bertatap muka dengan aku."


Selagi Nani yang menyiapkan makanan. Hafidz, Cara, Raca, dan Randy bermain polisi-polisian. Ketiga remaja itu harus berlari menghindar dari Hafidz. "Jangan lari atau aku tembak."


"Mana? Polisinya nggak punya pistol," kata Randy.


"Ini," jawab Hafidz yang mempergakan pistol dengan kedua tangannya. "Aku kejar kalian semua penjahat."


Nani memanggil untuk bergabung dimeja makan. Masakan hari ini bukanlah nasi campur. Melainkan nasi kuning, lengkap dengan ayam goreng, kering tempe, telur gulung, dan masih banyak pelengkap lainnya. Semua langsung menyerbu karena laparnya. Kehangatan memang selalu ada di keluarga kecil itu.


"Bapak sama Ibu nggak ngasih hadiah ke Hafidz?" tanya Hafidz sambil membersihkan tulang ayam. Sedari tadi bocah itu tidak sabar menantikan hadian dari kedua orang tuanya.


"Hafidz mau hadiah?" tanya Nani dan bocah 6 tahun itu mengangguk.


"Minggu depan, bapak ajak kalian ke taman hiburan," kata Heri membuat Hafidz dan Cara bersorak senang. "Raca juga boleh ikut. Biar makin rame, sekalian temenin pacarnya."


"Pacar, Om?"


"Kamu kan pacar anak saya, toh?"


Raca dan Cara bertatap muka. Entah ini sudah berapa kali orang mengira jika mereka berpacaran. Detik kemudian mereka tertawa.


"Idihhh. Ogah gue pacaran sama lo, Acar busuk."

__ADS_1


"Gue juga ogah pacaran sama lo, Kari pedas."


~•~


__ADS_2